Kepergok Beno

1322 Kata
Mereka memang niat untuk menonton film, tetapi yang ada mereka malah cerita sendiri. Siang itu, Jordan memang sengaja ingin menyentil hati Adis dengan pertanyaan-pertanyaan yang nyerempet. Mungkin lebih baik dia menunjukkan perhatiannya sedikit demi sedikit seperti ini. Supaya, jika nanti akhirnya Jordan mengungkapkan perasaannya, Adis tidak kaget. Entahlah, pacar orang itu selalu mengganggu tidurnya setiap malam. Gadis yang sebenarnya tidak jauh lebih cantik dari cewek-cewek yang selalu mengejarnya itu, selalu mengusik ketenangannya. Dia selalu khawatir akan Adis. Apakah dia diperlakukan dengan baik atau enggak sama Beno. Atau jangan-jangan Adis malah dibelikan tempe penyet padahal Adis baru sembuh dari penyakit asam lambungnya? Emang receh sih, tetapi memang seperti itu yang dirasakan Jordan. Setelah nonton, Jordan sengaja mengajak Adis belanja. Meskipun awalnya Adis menolak, tetapi akhirnya mengiyakan karena desakan Jordan yang tak berkesudahan. Sekarang tangan Jordan sudah penuh dengan paper bag hasil dari belanjaan Adis. "Kita ke time zone ya? Gue yakin Lo nggak pernah diajak ke sana sama Beno. pasti Lo cuma diajak main congklak doang di depan kosan," ajak Jordan saat mereka sudah selesai berbelanja. "Dan, Lo udah belanjain gue banyak banget. Kita pulang aja ya?" "Idih, sok-sokan sungkan Lo. Kalau emang mau bilang aja nggak usah sungkan. Ayo." "Bukan begitu, Lo udah banyak ngeluarin uang buat gue." "Lo sahabat gue. Nggak masalah kan jika seorang sahabat ingin membahagiakan sahabatnya?" Alibi. ini hanyalah sebuah alibi. Dia punya beberapa sahabat cowok, tidak ada yang diperlakukan spesial seperti ini. "Serius? Lo nggak akan ngecap gue jadi cewek matre kan?" "Tergantung." "Tuh kan?" "Hahaha … becanda. Ayo … " Jordan berlari lebih dulu dan Adis mengejarnya dengan tawa riang. Siang itu, Setelah sekian lama, akhirnya Adis kembali merasakan kebahagiaan. Dia memainkan beberapa game di Timezone. Terpancar sekali dari wajahnya bahwa dia sangat bahagia. Diam-diam, Jordan memperhatikan Adis dengan senyum lebar. 'Lo tampak Bahagia banget, Dis. Gue bakal terus berusaha untuk bikin Lo bahagia kayak gini.' Pukul 09.00 malam, Adis diantar pulang oleh Jordan dengan membawa beberapa shopping bag di tangannya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Kapan lagi dia bisa dibahagiakan seperti itu. Kalau sama Beno mah boro-boro. Dibeliin jepit rambut aja udah syukur. Jordan mengantarkan Adis sampai ke depan pintu kamar kos Adis. Namun, tawa mereka Langsung terhenti saat mereka berdua melihat Beno sudah duduk manis di kursi yang ada di depan kamar Adis dengan wajah cemas. Saat itu, darah Beno seakan naik ke ubun-ubun. Wajahnya, mata dan telinganya memerah menahan amarah. Tangannya mengepal kuat. "Beno? Lo … " Beno langsung berdiri, menghampiri mereka berdua yang berjarak 2 meter dari tempat dia duduk. Wajahnya masih terlihat merah padam. Terlihat sekali raut marah dan kecewa di wajahnya. "Gue telfon Lo berkali-kali. Gue takut ada apa-apa sama Lo. Gue khawatir ada apa-apa sama Lo di jalan. Ternyata Lo malah cekikikan sama orang lain. Lo mikir nggak sih, Dis. Gue nungguin Lo dari Abis magrib cuma ingin mastiin bahwa Lo baik-baik aja." "Ben, ini nggak seperti apa yang lo kira kok. Gue cuma_" Jordan mencoba untuk menjelaskan, tapi buru-buru dipotong oleh Beno. "Tenang Dan, gue bukan cemburu kok. Gue Cuma nggak suka aja dengan cara Adis." Adis. Kalau Beno sudah menyebut nama, berarti dia sudah benar-benar marah dan kecewa. Adis hanya diam dan menunduk. Tidak berani menjawab apa-apa karena dia memang benar-benar salah dalam hal ini. "Oke. Baiklah. Kalau begitu gue permisi dulu. Gue Yakin kalian pengen ngobrol berdua. Tapi, JIka lo ngerasa perbuatan gue ini salah. Maafin gue. Lo harus percaya, bahwa tidak ada sedikitpun niat Adis untuk menghianati Lo." "It's O.K. Gue tahu. Thanks, udah nganterin PACAR gue balik." Jordan langsung menelan ludah ketika dia mendengar Beno sengaja menekan kata pacar. "Em … iya, sama-sama. Gue balik dulu." "Ok." Jordan pergi dengan hati yang gelisah. Dia memang menyayangi Adis. Namun, dia tidak tega melihat Adis yang tertunduk dengan rasa bersalah seperti itu. "Duduk!" perintah Beno. Adis mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju ke kursi. Dia duduk di sana diikuti oleh Beno. Beberapa paper bag yang berisi berbagai pakaian diletakkan diatas meja. Adis masih menunduk karena ketahuan sekali Dia sedang berbohong. Adis bilang, kalau dia tidak bisa belajar bersama dengan Beno karena ingin istirahat di kost an aja. Badannya sedikit nggak enak, dan faktanya, dia malah pergi dengan orang lain. "Perut kamu sudah enakan?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Beno setelah beberapa menit mereka saling diam. Adis mengangguk, meskipun sebenarnya perutnya tidak kenapa-kenapa. "Senang dibelanjakan banyak barang sama Jordan?" ucap Beno. Dia duduk dengan kaki sedikit terbuka. Wajahnya lurus ke depan menatap pintu gerbang. "Ben, Lo nggak salah paham kan?" "Salah paham tentang apa?" "Lo nggak mengira kalau gue ada apa-apa sama Jordan, kan?" "Kalau pun ada apa-apa, gue tidak akan marah asalkan lo jujur." "Tapi gue berani bersumpah kalau gue nggak ada apa-apa sama dia. Lo tahu kan, gue sama sekali bukan tipe wanita idaman Jordan. Dia hanya ingin ajak gue jalan-jalan sesekali karena dia tahu bahwa Lo nggak punya waktu untuk jalan-jalan sama gue." Lebih tepatnya tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk nonton ke bioskop dan main di Timezone yang menurut Beno tidak ada gunanya. Ya, semua orang sudah tahu itu. Namun, sengaja Adis memilih kata-kata yang tidak menyinggung. "Lo tahu nggak gue di sini dari jam berapa? Dari abis magrib. Gue tahu lo emang minta gue untuk lembur, tapi gue sengaja untuk pulang cepat hari ini supaya bisa nemenin lo. Supaya gue bisa segera melihat keadaan lo. Gue cemas Lo ada apa-apa, tapi ternyata lo malah bersenang-senang sama orang lain. Kenapa lo kayak gini? Lo nggak pernah bohong sama gue sebelumnya." "Ben, maafin gue ya? Seharusnya lo nggak usah nunggu selama itu. Kalau gue nggak ada ya lo pulang aja." "Lo tahu kan kalau gue bukan laki-laki seperti itu. Gue enggak bakal pergi sebelum tahu kalau lo baik-baik aja." Pandangan Beno masih lurus ke depan. Dia tidak memandang adis sedikitpun. Kecewa kah dia? Pasti. Dia sangat kecewa, sakit hati, dan cemburu meskipun dia tidak mau mengakuinya. Apalagi setelah Adis membawa banyak barang belanjaan, Beno semakin merasa kerdil. "Maafin gue. Gue janji nggak akan mengulanginya lagi," ucap Adis dengan suara bergetar. Air mata sudah antri di sudut matanya. Benar, Beno memang tidak pernah royal, tetapi soal kepedulian dan kesetiaan, dia tiada bandingnya. Kali ini Adis benar-benar merasa bersalah karena sudah berbohong sama Beno. 'Ben, Kenapa lo baik banget begini sama gue. Lo benar-benar bikin gue bimbang, Ben. Bagaimana bisa gue menjauh kalau sikap lo selalu berhasil membuat gue meleleh. Meskipun lo takut kehilangan banyak uang, tapi Lo nggak takut kehilangan waktu Lo demi memastikan gue baik-baik aja.' Kali ini Adis menatap kekasihnya yang masih terus saja enggan menatap dirinya. Sungguh, raut muka Beno benar-benar memancarkan kekecewaan. "Dis, harusnya gue yang minta maaf. Gue nggak bisa royal kayak Jordan. Gue nggak bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk bahagiain lo. Gue nggak bisa ngasih lo banyak barang mewah seperti apa yang dilakukan Jordan sama lo. Dia bisa ngasih lo kebahagiaan dengan uang orang tua yang dimilikinya. Kalau dibandingkan Jordan, Gue memang kalah jauh, Dis. Gue sama sekali nggak ada apa-apanya. Gue harus bekerja mati-matian untuk biayain kuliah gue. Beda sama Jordan yang apa-apa tinggal minta sama orang tuanya." "Lo jangan gitu dong, Ben. Gue nggak bermaksud bikin Lo merasa kayak gini. Jordan membelikan gue ini itu juga karena dia menganggap gue sebagai sahabat terbaiknya." Dia tertawa, tepatnya tawa kepedihan. Dia bingung kepada kekasihnya sendiri, Sebenarnya dia terlampau polos atau memang pura-pura tidak tahu tentang perasaan Jordan yang sebenarnya pada dirinya. "Kenapa tawa lo begitu? Gue serius, Ben." Adis menatap Beno dengan tatapan yang serius. "Huft … Gue tahu lo hanya menganggap Jordan sebagai sahabat, tetapi gue juga tahu laki-laki tidak mungkin mau berkorban banyak seperti ini jika tidak ada rasa, Dis. Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni bersahabat tanpa ada rasa. Gue percaya lo memang biasa aja, tapi gue yakin Jordan ada perasaan lebih sama lo. Lo boleh percaya atau tidak, tetapi gue yakin itu faktanya." Beno kembali tertawa kecil, tertahan. Menahan perih. Sungguh, deretan paper bag di atas meja itu membuat hatinya pedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN