Nonton Berdua

1206 Kata
Adis memukulkan tasnya ke kepala Jordan dengan geram. "Ih … becanda Lo tuh nggak lucu tahu nggak. Ngeselin!" Suara cempreng dan manja Adis semakin membuat laki-laki itu gemas, gemas ingin memiliki seutuhnya. Jordan menutup kepalanya dengan kedua tangannya sambil tertawa, lalu dia lari dan dikejar oleh Adis. Sungguh, mereka seperti anak SMP yang baru saja jadian. Lari-larian sambil tertawa. Ah, sudah lama Adis tak seperti ini. Setelah berpacaran sama Beno, dia jarang jalan-jalan ke mall. Ketika ada waktu luang dia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar seperti apa yang diamanatkan oleh Beno. "Kalau kita ingin menjadi pribadi yang bahagia dan bisa membahagiakan orang lain di masa depan, maka sekaranglah saatnya. Belajar giat dan bekerja keras. Karena apa yang kita lakukan saat ini dapat kita lihat hasilnya di masa depan nanti." Ya, itulah yang selalu Beno katakan kepada Adis. Itu memang tidak salah sih, tapi rasanya Adis seperti kehilangan masa-masa kuliah yang kata orang sangat menyenangkan. Yang dia tahu hanya belajar dan Beno doang. Makanya, Dia sangat bahagia ketika ada seseorang yang mengajaknya pergi. Setelah adegan saling mengejar seperti yang ada di film India berakhir, mereka segera membeli tiket, dan kemudian masuk ke dalam gedung bioskop. Ah … ini benar-benar penyegaran buat Adis. "Dis, lo nggak capek apa menjalin hubungan sama orang yang tidak pernah menjadikan lo sebagai prioritas," tanya Jordan tiba-tiba. Adis yang saat itu sedang hidmat nonton, segera menoleh. "Lu kenapa dah tiba-tiba tanya begitu?" "Nggak apa-apa. Gue cuma kasihan aja sama Lo." "Hilih. Kasihan apaan. Kemarin pas gue muntah, Lo lari tunggang langgang. Yang perlu dikasihani itu yang seperti itu, Bambang." "Hahaha … ya Maap. Gue jijik kali sama muntahan. Dari pada gue mual dan ikut muntah. Bahaya kan? Eh tapi lu jangan ngalihin pembicaraan dong. Lo nggak capek?" Jordan menatap mata Adis. Mata perempuan yang selama ini selalu disebut dalam doanya. Banyak perempuan yang mengajar dia. Sengaja curi-curi pandang, sengaja curi perhatian. Namun, yang berhasil mencuri hatinya malah seorang perempuan yang sama sekali tidak pernah berniat untuk mencuri perhatiannya. Perempuan yang selalu apa adanya, dan tidak pernah dibuat-buat dalam segala tingkah lakunya. Perempuan yang tidak pernah jaim di depan matanya. Adis menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dia bingung harus menjawab apa. Jujur saja sekarang dia sedang dalam level bosan dan ingin lari. Apalagi saat Beno mengatakan ingin serius dengannya. Rasanya Adis ingin lari dan pergi. Namun, dia bukan perempuan yang tak beretika. Dia tidak ingin lari begitu saja. Lagipula, rasa sayang di hatinya masih ada untuk Beno, meskipun pelitnya tidak ketulungan, tetapi kasih sayangnya memang Tidak diragukan. "Adis bengong Adena. Kebiasaan banget sih, bengong lagi bengong lagi. Kayaknya Lo kebanyakan makan telur deh. Gini nih jadinya. Ayo Jawab!" "Jordan, Kenapa gue harus menjawab pertanyaan Lo. Untungnya buat lo apa kalau lo udah tahu jawabannya?" Kali ini gantian Jordan yang tergagap dengan pertanyaan Adis. Dia tidak menyangka kalau Gadis itu sekritis itu. "Ya nggak apa-apa, tanya doang. Apa salahnya sih bertanya. Kalau sungkan bertanya maka akan sesat di jalan. Dan gue nggak mau sesat. Jawab gih! Ayo … " 'Yah, meskipun sebenarnya sudah lama gue tersesat di hati Lo, Dis,' batin Jordan. "Gue bahagia sama Beno, Dan." Adis menghadap ke bawah. Kata-kata dan raut mukanya sama sekali nggak sinkron. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan kebahagiaan. "Wajah Lo berkata lain. Kalau memang lo capek, lo bisa istirahat. Lo tau kan, gue selalu ada jika lo butuh temen buat nemenin lo saat istirahat." "Nggak ada alasan untuk nggak bahagia, Dan. Dia sangat baik. Dia banyak melakukan hal buat gue. Selain kerja dan kuliah, waktunya dihabiskan sama gue. Beno orang yang baik. Meskipun gue masih takut kalau suatu saat dia benar-benar ngajak gue serius. Gue masih belum siap menjalani hubungan yang serius sama dia, tapi … gue nggak berani mengatakan ini padanya. Takut dia tersinggung." Ucapan itu semakin membuat hati Jordan berbunga. Adis takut diajak serius? Itu berati kesempatan baginya untuk memasuki hati Adis masih sangat terbuka lebar. Dia bukan bermaksud ingin merebut Adis, dia hanya tidak ingin jika Adis tidak bahagia sama Beno. Menurut Jordan, untuk Apa hubungan mereka dilanjutkan kalau rasa cinta itu sudah pudar? Tiba-tiba, tangan Jordan meraih tangan Adis, lalu dia menggenggamnya erat. "Lo sama Beno cuma pacaran. Jadi kalau Lo sudah merasa tidak nyaman sama dia, lo berhak kok cari orang lain yang membuat Lo nyaman." Jordan menatap Adis yang saat itu juga tengah menatapnya. "Dan, lo cari-cari kesempatan ya biar bisa pegang pegang tangan gue? Atau jangan-jangan selama ini lo suka sama gue? Ah … pasti iya. Pantesan lo selalu tanya hal beginian sama gue. Ayo ngaku?" Jantung Jordan berdetak dengan begitu kencang. Ah, Ingin rasanya Dia mengakui semuanya. Namun, dia merasa saat ini waktunya belum tepat. Dia tidak mau Adis illfeel sama dia dan pergi dari kehidupan Jordan. Saat itu juga, Jordan langsung memalingkan mukanya dari Adis dan pura-pura kembali menonton film yang beberapa menit yang lalu dia abaikan. Namun, tangannya masih menggenggam tangan Adis dan tidak mau melepaskannya. "Kepedan banget sih Lo. Lo nggak pernah ditanyain hal beginian sama cowok seumur hidup lo? Norak banget sih." Jordan pura-pura acuh, meskipun saat itu jantungnya berdegup dengan begitu kencang. Tidak, dia tidak boleh ketahuan sekarang. Dia akan terus merahasiakan ini hingga nanti saatnya tiba, dia akan mengungkapkan perasaannya pada Adis. "Lo boleh saja mengelak, tapi genggaman tangannya … Kenapa nggak dilepas-lepas? Kayaknya nyaman banget genggam tangan Gue." "Emangnya nggak boleh genggam tangan sahabatnya. Lagian kamu tuh bawel banget sih, ditanyain begitu doang jawabannya kemana-mana. Gue dingin, butuh tangan buat digenggam." Adis tersenyum, lalu dia meletakkan tangannya diatas tangan Jordan yang saat itu sedang menggenggam tangannya. Tentu saja, keringat dingin langsung mengucur ke pelipis Jordan. Ah, rasanya dia ingin waktu berhenti berputar, berhenti untuk beberapa saat, agar tangan Adis tetap menggenggam tangannya. "Terimakasih banyak ya, Dan. Lo Memang sahabat terbaik gue. Ya Meskipun Lo ngeselin setengah hidup, tetapi gue tahu kalau sebenarnya lo tuh orang baik. Lo selalu berusaha ada buat gue. Lo selalu tahu apa yang gue mau. Andaikan saja Lo sama Beno itu digabung ya? Pasti akan menghasilkan perpaduan manusia yang sempurna seperti apa yang gue inginkan." "Em … lo pikir adonan yang bisa dicampur-campur dan menghasilkan sesuatu yang sempurna." Cuma Itu jawaban yang bisa dia lontarkan. Matanya masih menatap ke depan. Dia tidak berani menatap mata Adis untuk saat ini. "Bisa nggak sih kalian jadi adonan aja?" "Terus?" "Ya gue pasti seneng kalo punya pacar yang sangat peduli sama gue kayak Beno dan royal kayak Lo." "Lo nggak perlu ingin meleburkan gue sama Beno menjadi satu. Lo tetap bisa mendapatkan perhatian dari Beno, dan ketika lo butuh gue, gue akan selalu siap kok. Tapi ingat satu pesen gue, kalau lo udah nggak nyaman sama satu hal, Lo berhak untuk meninggalkan kapan pun. Mental dan kebahagiaan lo lebih penting dari apapun." "Utututu … Bang jordan, sweet banget sih Lo. Sini gue peluk dulu," ucap Adis. Dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Jordan, dan memeluk laki-laki yang dia anggap sahabat itu dari samping. Adis memeluknya hangat. Pelukan seorang sahabat. Tak ada rasa apa pun dalam hatinya. Berbeda dengan Jordan. Pada saat itu jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Jedag jedug berisik tak karuan. Dia mematung di tempatnya. Ah … tak tahu kah gadis itu, bahwa tingkah lakunya ini berhasil membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Rasa bahagia, grogi, deg-degan, bercampur jadi satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN