Penyesalan

1001 Kata
"Gue memang bodoh! Gue memang t***l! Gue memang g****k!" Beno berteriak keras sambil melemparkan batu ke arah danau. Emosi masih meletup-letup di dalam dirinya. Dia masih belum bisa melupakan kejadian beberapa jam yang lalu. Bayangan ketika Jordan mengecup lembut kening kekasihnya, masih terlihat begitu jelas di matanya. Itu adalah kejadian yang paling menjijikkan yang pernah dia lihat baginya seumur hidup. Dengan nafas tersengal, dia duduk di pinggir Danau. Dia menunduk, lalu memukul kepalanya sendiri. "Kenapa lo bisa sebodoh ini, Beno. Kenapa lo bisa sampai dibodohi sama wanita seperti ini. Santi udah ngasih tau loh kalo Adis jalan sama Jordan. Tapi lo nggak pernah percaya. Lo emang bodoh, Lo emang t***l!" Beno masih memukul-mukul kepalanya. Saat itu, air mata menetes ke pipinya. Dia terisak. Dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Dia bukan laki-laki kuat, dia bukan laki-laki tegar. Dia merasa terlalu bodoh karena selama ini sudah buang-buang waktu sama wanita yang dia anggap tidak menyayanginya, dan sekarang, satu lagi kebodohan yang dia sesali. Dia masih mencintai wanita itu meskipun hatinya sudah dihancurkan berkeping-keping. "Beno." Seseorang menyentuh pundak Beno. Seketika, laki-laki itu langsung menoleh ke arah sumber suara. "Santi?" Beno menatap Santi dengan air mata yang membasahi pipinya. Perih, rasanya begitu perih melihat orang yang disayang terlihat begitu memilukan karena seseorang yang menyia-nyiakan dia. Santi ikut duduk di samping Beno. Dia menepuk pundak Beno sambil tersenyum. "Lo baik-baik aja?" tanya Santi. Beno mendekatkan tubuhnya ke arah Santi, lalu dia memeluk sahabat satu-satunya itu dengan erat. Tangis Beno pecah dalam peluka Santi. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak sekuat yang dia kira. Sementara Santi, Dia hanya bisa membeku dengan detak jantung yang iramanya mulai tak beraturan. Untuk pertama kalinya, dia melihat Beno menangis. Untuk pertama kalinya, dia melihat Beno serapuh itu, dan untuk pertama kalinya dia dipeluk oleh Beno. Berbagi rasa berkecamuk di dalam hatinya. Namun yang paling menonjol sekarang adalah rasa benci pada Adis. Dia benci pada orangnya di anggap sahabat, tetapi telah menghancurkan hati orang yang dia sayang. "Gue emang bodoh, San." "Lo nggak bodoh, Ben. Lo hanya terlalu baik. Lo harus bersyukur karena akhirnya Tuhan menunjukkan siapa sebenarnya Adis sebelum kalian sampai ke jenjang pernikahan. Putus cinta bukan akhir dari segalanya kan?" "Harapan gue sama Dia udah terlalu tinggi. Tapi hancur begitu saja dalam semalam." Beno masih terisak. Laki-laki itu sangat berbeda dengan Beno yang biasanya, Beno yang tegar dan Beno yang kuat. Yang terlihat, hanyalah Beno yang rapuh tetapi sedang berusaha sok kuat. "Tapi harapan yang lain masih ada kan? Dia bukan yang terbaik buat Lo." Menangis bukan berati lemah, begitulah kata orang. Namun, tidak bagi Beno. Kali ini dia menangis karena dia memang benar-benar lemah. Dia merasa bodoh kenapa dia harus selemah itu. Kenapa dia harus sepatah hati itu hanya gara-gara satu wanita. "Bantu gue. Bantu gue supaya bisa pulih lagi." "Gue pasti akan bantu Lo." 'Andai saja Lo bisa membuka sedikit hati lo buat gue, Pasti gue akan mengobati luka lu, Ben. Gue nggak akan mengecewakan lo seperti apa yang dilakukan oleh Adis. Tapi gue tahu, tidak mudah untuk menyingkirkan wanita yang sangat lo sayangi itu dari hati lo.' Beno melepaskan pelukannya pelan-pelan ketika dia sudah sedikit lebih tenang. Dia menghapus air matanya dengan kedua telapak tangan. Untung ini hanya terlihat oleh Santi, kalau ada orang lain yang melihat dia menangis seperti ini, pasti dia akan sangat malu. "Kok Lo tahu kalo gue ada di sini?" Beno menghadap ke depan. Memandang hamparan air danau di hadapannya. "Masa iya Lo masih tanya. Banyak aplikasi yang bisa melacak Di mana lo berada." "Terus? Gimana Lo tahu masalah gue." "Tadi pagi buta Ayu yang cerita di WA. AYu Teman kos Adis. Katanya lo ribut di sana. Terus gue tanya sama Adi tadi pagi, katanya lo nggak ada di kosan. Terus gue cari tahu Lo di mana. Dan … gue di sini sekarang." "Lo seharusnya nggak perlu nyariin gue. Gue nggak apa-apa." "Gue merasa bersalah aja sama lo. Gue yang ngenalin lo sama Adis. Itu berarti ini semua salah gue." "Nggak ada yang salah, San. Gue akan mencoba untuk ikhlas dengan takdir yang sudah digariskan Tuhan buat gue. Tapi nanti, Sekarang belum bisa." "Gue yakin Lo bisa." Santi kembali menepuk pundak Beno. "Thanks." *** Sampai adzan subuh berkumandang, Adis masih menangis dan belum berhenti. Benar Apa kata santi, bahwa dia pasti akan menyesal kalau sampai kehilangan orang sebaik Beno. Kebaikan-kebaikan laki-laki itu tiba-tiba terpampang nyata di pelupuk matanya. Saat dia selalu menemani adis saat dia sakit, saat dia selalu menjalinkan materi untuk adik ketika dia tidak bisa masuk kuliah, saat dia menyetrikakan baju-baju milik Adis, semua muncul di ingatannya. Dia yakin, Tak akan ada laki-laki seperti itu, termasuk Jordan. Adis mencoba menghubungi kekasihnya sampai ratusan kali, tapi tetap tidak diangkat. Sekarang hatinya hancur. Dia menyesal, Kenapa dia memilih cinta sesaatnya pada Jordan? Kenapa dia tidak percaya pada Beno? Seharusnya dia percaya dan yakin pada laki-laki itu bahwa dia mampu membahagiakan dia di masa depan nanti. Sekarang tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Semuanya sudah hancur dan sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Saat itu, Adis kembali meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Beno. Saat ini dia sama sekali tidak bisa menelpon Beno. Adis berharap, pesannya kali ini bisa dibaca oleh Beno. [Ben, Lo di mana? Ben … Lo pasti tahu gue mau bilang apa. Iya, gue menyesal udah bohong sama lo. Gue menyesal karena udah membiarkan ada sedikit rasa untuk Jordan. Gue menyesal Ben. Gue masih sayang banget sama Lo. Gue nggak bisa kehilangan Lo. Tolong Beno, kasih gue satu kesempatan lagi untuk membuktikan sama lo bahwa gue tidak akan main-main lagi. Tolong! Gue janji, kita bakal bangun lagi impian-impian masa depan lo bersama gue dan anak-anak. Itu kan yang selalu Lo bilang? Beno … I love you, more than you know. Perasaan gue sama Jordan tidak sebesar apa yang Lo kira. Gue hanya dalam mode bosan sesaat doang. Tolong Beno, maafin gue.] Sent. Centang dua abu-abu. Adis terus memandangi ponselnya, berharap centang itu bisa berubah menjadi biru. 30 menit kemudian, akhirnya yang ditunggu Adis tiba. Centang dua biru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN