Di sela derai air matanya, Adis tertawa kecil saat chatnya dibaca oleh Beno. Namun, beberapa menit kemudian, dia melihat bahwa kontak Beno sudah tidak ada Poto profilnya lagi.
Adis segera chat lagi untuk memastikan bahwa apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.
[Ben]
Centang 1. Fix. Beno sudah blokir nomor Adis. Adis langsung membanting handphonenya di atas tempat tidur.
"Arrrrg … gue emang bego. Gue emang bego … Kenapa gue bisa sampai meragukan laki-laki sebaik dia?"
Adis kembali tengkurap di atas tempat tidur kesayangannya. Tangisnya kembali pecah. Kali ini lebih sakit, karena sekarang dia tidak bisa lagi menghubungi Beno. Sepertinya Adis memang benar-benar sudah membenci Adis tidak mau tahu lagi tentang Adis.
***
"San, please bantu gue. Bantu gue ngomong sama Beno. Tolong!"
Adis memohon pada Santi. Dia menggoyang-goyangkan lengan kiri Santi yang saat itu sedang bertumpu pada meja. Sedangkan tangan kanannya masih sibuk mencatat sesuatu.
Santi hanya diam. Dia tidak mau menggubris ucapan Adis.
"San, tolong dong jawab. Jangan diam aja. Tolongin gue. Gue pengen ngomong sama Beno. Tolong jelasin ke dia kalau gue khilaf dan gue bisa berubah. Gue janji bakal jadi calon pendamping hidup yang baik untuknya. Gue enggak mau kehilangan dia."
Santi meletakkan puplennya di atas meja dengan kasar. Lalu dia menoleh kearah addition menatap perempuan yang ada di sampingnya itu dengan tatapan sinis.
"Tentu saja Lo enggak mau kehilangan dia. Pasti itu karena lo tahu bahwa beno sudah menyiapkan mobil dan rumah buat kalian kan? Lo nggak mau kehilangan Beno karena lo tahu bahwa Beno udah nggak naik motor butut lagi? Jijik banget tau nggak sih kelakuan Lo."
"San, bukan itu. Lo tahu kan, sesayang apa gue sama dia. Gue enggak mau kehilangan orang sebaik dia."
"Ya … dia memang baik. Saking baiknya dia sampai bodoh mau melakukan banyak hal buat lo sampai akhirnya sia-sia. Lo udah buat hatinya hancur. Jadi jangan salahin gue ya kalau suatu saat nanti gue bisa menjadi obat untuk sakit hatinya."
"Maksud Lo?"
"Lo inget kan gue pernah bilang sama lo, kalau apa yang Lo keluhkan itu bisa jadi dinginkan oleh orang lain. Ini yang gue maksud. Gue sayang sama Beno, tapi gue rela kalau dia hidup sama orang yang dia sayang. Gue rela mengalah, karena menurut gue, Beno akan bahagia sama lo. Gue udah ngorbanin perasaan gue Dis. Tapi sekarang apa yang terjadi? Lo Menghianatinya. Jadi jangan salahkan gue kalau sekarang saatnya gue berjuang untuk menyembuhkan luka hatinya. Oh ya? Dia nitip pesen sama gue, kalau dia tidak mau kenal lagi dan tidak mau melihat muka perempuan yang bernama adis Adena."
Santi berdiri, sambil membawa tas dan bukunya, lalu dia mendekat ke arah telinga Adis.
"Lo tahu kenapa? Karena baginya, Adis Adena sudah MATI."
Santi sengaja menekankan kata mati. Wajahnya melotot, kemudian dia tersenyum sinis. Lalu, perempuan yang dulu sahabat dekatnya itu segera pergi meninggalkan Adis yang saat itu hatinya seakan rontok. Benarkah Beno sudah tidak mau lagi melihat mukanya Dan menganggap dia sudah mati?
Adis menunduk. Lagi-lagi air mata itu turun, meskipun wajahnya masih sembab karena semalaman dia tidak berhenti menangis.
"Adis, are you O.K?"
Jordan tiba-tiba datang, dia menepuk pundak Adis lembut. Meskipun dia masih merasa sakit hati karena Adis yang terus menangisi Beno dan seolah menganggap dia tidak ada, tetapi dia tetap tidak tega membiarkan adis sendiri menghadapi ini semua.
Adis mendongakkan kepalanya. Lalu, dia segera menghapus air mata yang menetes ke pipi cepat-cepat.
"Em … Gue nggak apa-apa. Eh, Dan, kebetulan Lo ada di sini. Nanti siang gue mau ketemu. Kita ketemu di warung mbok Irah ya? Ada yang mau gue omongin."
"Hah? Kenapa harus di warung mbok Irah?"
"Di sana aja. Tempatnya nyaman buat ngobrol. Em … gue duluan ya? Kebetulan udah nggak ada kelas. Bye, Dan."
Adis segera berlalu pergi meninggalkan Jordan. Dia tidak mau terus-terusan memberi harapan untuk Jordan sementara hatinya saat ini seolah sepenuhnya untuk Beno. Entah ke mana perginya desir-desir yang hadir kemarin. Yang jelas, yang dipikirkan saat ini adalah Beno. Bagaimana cara meminta maaf padanya, Bagaimana cara mendapatkan hatinya kembali, dan bagaimana caranya agar mereka bisa bersatu di masa depan. Tiba-tiba nama Jordan seakan menguap di hatinya.
Mungkin ini yang dikatakan orang-orang. Ketika kita ditinggalkan, baru kita merasa bahwa orang itu berharga. Adis … lo ke mana aja selama ini? Kenapa sekarang lo baru sadar bahwa kekasihmu itu sangat berharga dan istimewa yang seharusnya kau jaga?
Sementara Jordan, dia hanya tersenyum kecil. Senyum kepedihan. Sepertinya dia tahu apa yang akan dikatakan oleh adis. Meskipun perih, meskipun menyakitkan, tetapi harus dia terima, bukan?
***
"Dan, gue kembalikan semua barang-barang pemberian Lo."
Adis menyodorkan gelang Bond touch, kalung, dan juga tas 100 jutanya pada Jordan.
Mereka duduk di bangku paling pojok, tempat dimana Adis dan Beno biasa duduk.
Jordan tersenyum getir sambil menatap barang-barang yang dulu diberikannya kepada Adis. Ini yang membuat laki-laki heran, Kenapa barang-barang itu harus dikembalikan? Toh, ketika sudah sampai ditangan Jordan, barang itu juga tidak akan lagi berguna.
"Kenapa harus Lo kembalikan semuanya?"
"Jordan, gue nggak berhak mendapatkan barang-barang berharga seperti ini dari lo. Gue tahu kok Lo bohong soal Kalung itu. Ini emas putih kan? Bukan titanium seperti yang Lo bilang."
Adis terlihat membuang nafas kasar. Semua ini benar-benar membuat dia lelah. Lelah tenaga, hati, dan juga pikiran.
Jordan terdiam. Dia tidak ada pembelaan apa-apa.
"Dan, terima kasih banyak karena selama ini sudah sangat peduli sama gue. Terima kasih lu selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik buat gue dan selalu ada Saat Gue butuh temen. Kayaknya, hubungan kita harus sampai disini saja. Ada hubungan apa kau menyebutnya. Yang jelas, gue nggak mau ngasih lo harapan lagi. Karena di hati gue masih ada Beno. Meskipun gue sama Beno sudah putus, tetapi gue akan terus berusaha untuk mendapatkan hatinya kembali. Untuk itu, kita memang harus benar-benar berakhir sekarang. Terima kasih karena pernah menjadi bagian terbaik dalam hidupku, dan maaf … maaf jika banyak sikap gue selama ini yang membuat Lo sakit hati."
"Jadi Lo ngajak gue ke sini, hanya untuk menyampaikan salam perpisahan?"
Jordan tahu akan seperti ini jadinya. Dia sudah menyangka sebelumnya. Namun, ternyata rasanya masih sakit. Berpisah saat belum benar-benar bersatu.
Diam-diam, dalam hati dia membenci Beno. Dia benci sama laki-laki itu. Karena dia yang menurut Jordan tak leih baik dari dirinya, berhasil mendapatkan cinta Adis sepenuhnya sekarang.