Hari ini Adis bangun pagi, dia sengaja mampir dulu di warung mbok Irah. Dia membelikan sarapan untuk Beno. Beberapa hari ini dia selalu melakukan itu. Meskipun akhirnya ditolak dan dibuang di tempat sampah oleh Beno. Beno benar-benar bertekad kuat untuk menghindari Adis. Keputusannya sudah tidak bisa di goyahkan lagi.
Dengan membawa 1 rantang makanan, Adis menghampiri Beno ke kelasnya.
"Ben, udah selesai kuliahnya?" Adis langsung menyambut Beno di depan pintu saat Beno keluar. Dia tidak peduli lagi meskipun teman-teman Beno memandang dia dengan tatapan jengkel.
Beno terus berjalan, dia sama sekali tidak menanggapi ucapan Adis Dan menganggap tidak ada siapapun yang sedang mengajaknya berbicara.
Adis segera mengikuti Beno, mengimbangi langkah laki-laki yang pernah sangat menyayanginya.
"Ben, tadi gue bangun pagi-pagi dan beli ini ke warung mbok Irah. Makan bareng di taman kampus yuk?"
Beno diam. Dia melirik jam tangannya, lalu mempercepat langkahnya.
"Beno, please? Kali ini tolong terima makanan gue. Nggak apa-apa lo tolak terus tiap hari kemarin, Tapi tolong sekarang terima. Please?"
Tak ada jawaban. Dia benar-benar dianggap sebagai angin lalu oleh Beno. Ya, rasanya sangat sakit. Namun, dia tahu itu balasan dari perbuatannya yang sudah menyakiti Beno. Mungkin dia memang pantas untuk mendapatkan ini semua.
"Gue harus apa untuk mendapatkan maaf dari Lo, Ben. Tolong maafin gue. Lu bisa minta apapun sama gue, apapun. Gue bakal turutin semua permintaan Lo, asalkan lo mau maafin gue. Gue bener-bener mohon, Beno."
Adis mengikuti Beno sampai ke parkiran mobil. Beno masuk ke mobil begitu saja dan tidak menggubris Adis sama sekali.
"Beno, tolong jangan pergi dulu. Buka dulu pintunya. Bukannya mobil ini seharusnya buat kita? Ayo dong, kita bisa ngobrol baik-baik lagi. Tolong, Ben." Adis mengetuk-ngetuk kaca mobil Beno berkali-kali, tetapi Beno tidak peduli. Laki-laki itu melajukan mobilnya tanpa peduli lagi dengan Adis yang saat itu masih teriak-teriak memanggil namanya. Dia mengejar, sampai terjatuh di parkiran. Namun, Beno tak peduli.
Adis terjatuh saat mengejar Beno, begitu juga dengan rantangnya. Makanan yang ia bawa berserakan di paving parkiran. Adis menunduk. Dia benar-benar merasa bahwa hidupnya saat ini begitu mengenaskan. Tidak pernah dia seperti ini sebelumnya.
Sungguh, dia benar-benar mengemis Maaf Dari Beno sampai tak tahu malu, tetapi dia juga belum bisa mendapatkan maafnya. Ini adalah hal paling menyedihkan yang pernah dia lakukan. Dia tidak peduli meskipun orang-orang menganggap dia buruk, dia juga tidak peduli meskipun para mahasiswa dan mahasiswi itu memandang dia dengan tatapan yang aneh. Yang dia inginkan hanya satu, maaf dari Beno.
***
Setelah kejadian di parkiran, Adis sudah memilih untuk berhenti. Dia berhenti meminta maaf karena dia tahu itu tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. Sekarang, setelah beberapa bulan putus dari Beno, dia mulai sadar betapa berartinya Beno bagi hidupnya. Sekarang tak ada lagi yang mengantar jemput dia, tidak ada lagi yang memberikan dia makanan meskipun hanya tempe penyet dan terong penyet, tak ada lagi yang menyetrika kan baju-bajunya, dan tak ada lagi orang yang akan menyalin kan dia materi ketika dia berhalangan masuk kuliah.
Hidup Adis benar-benar berantakan tanpa Beno. Dia sering telat masuk kuliah, dia sering telat bayar uang kuliah, karena uangnya habis untuk makan, laundry dan juga naik ojol. Dia juga sering begadang sendirian karena tak ada yang membantunya belajar. Seperti malam ini, Dia harus mengerjakan makalahnya sendiri. Padahal biasanya dia selalu dibantu oleh Beno.
"Ben, makalah gue belum selesai. Gue juga laper. Biasanya kalau jam segini Gue laper, lo selalu datang dan bawain makanan buat gue, tetapi sekarang? Nggak ada lagi yang seperti itu. Gue kangen sama Lo," ucap Adis.
Drrrttt … Drrrt …
Sebuah pesan mendarat di handphone Adis. Adis membukanya. Dari Beno. Adis mengucek-ngucek matanya sekali lagi, takut kalau dia hanya salah baca. Namun, setelah beberapa detik, nama itu tetap sama. Beno.
"Beno … Beno beneran WA gue … ini beneran Beno. Yeeaaaay!" Adis berteriak-teriak kegirangan lalu dia mencium handphonenya beberapa kali. Betapa histerisnya dia mendapatkan pesan dari Beno, padahal dia tidak tahu apa isi dari pesan itu. Namun, Adis sudah cukup bahagia karena itu berarti, blokiran nomornya sudah dibuka oleh Beno.
Adis menghilang nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia harus menyiapkan diri untuk membaca pesan dari Beno.
Setelah dia merasa tenang, Adis segera membuka pesan Beno yang ternyata sangat panjang seperti koran. Tapi tak apa-apa, Adis tetap bahagia. Karena dia sudah rindu dengan pesan wa mantan kekasihnya.
[Kemarin gue wisuda. Alhamdulillah, gue lulus cepat. Putus dari Lo ternyata bawa berkah. Gue bisa lebih fokus belajar dan bisa cepet lulus. Setelah ini, jangan cari gue lagi. Karena gue akan pergi, belajar menjadi manusia yang lebih baik. Ketika gue pergi, maka kenangan tentang lo juga akan menghilang. Tolong jangan cari gue lagi, karena apapun yang terjadi gue nggak bakal balik sama lo. Terimakasih, selama ini lo sudah memberikan kebahagiaan buat gue, meskipun sekarang gue tahu bahwa itu hanya kebahagiaan semu semata. Sekarang, Lo fokus kuliah. Santi bilang, beberapa bulan belakangan ini kuliah lo kacau. Lo harus semangat lagi.]
[Jangan ke gr-an. Gue bilang begini bukan karena gue peduli. Karena kepedulian itu sudah menguap sejak penghianatan yang kau lakukan. Lo harus semangat, karena gue nggak mau jadi penyebab kandasnya cita-cita lo. Setelah ini lo gak akan lihat gue lagi, jadi Lo bisa fokus kuliah dan menggapai impian Lo. Nggak ada yang bisa menolong Lo selain diri lo sendiri, jadi mulai sekarang jangan menggantungkan diri pada orang lain. Selamat tinggal, Dis. Semoga lo bahagia dengan orang yang sudah lo pilih.]
Kebahagiaan yang dirasakan saat itu seketika menguap. Saat ini, lututnya terasa lemas. Beno udah lulus dan dia akan pergi entah kemana. Itu artinya dia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Beno. Itu artinya dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk kembali meraih maaf dan kembali meraih hatinya. Adis menunduk, matanya memanas.
Entahlah, akhir-akhir Ini semua tentang Beno selalu membuat dia menangis. Penyesalan yang tidak habis meskipun sudah berbulan-bulan berlalu. Apalagi ketika Beno akan benar-benar pergi dari hidupnya, rasanya separuh Jiwanya ikut melayang.
Adis membuang nafas kasar. Lalu Dia segera mengetikkan sesuatu.
[Ben, tolong jangan pergi dulu. Gue pengen ngomong sama Lo. Gue pengen ketemu mungkin untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu gue janji nggak bakalan cari lo lagi, dan gue janji bakalan semangat belajar meraih cita-cita gue. Tolong, temuin gue sekali ini aja.]
Sent
Centang satu, dan foto profilnya sudah kembali hilang. Adis langsung membanting handphonenya di atas tempat tidur.