Setiap keputusan yang kita ambil, pasti akan ada konsekuensinya. Setiap perbuatan yang kita lakukan, pasti akan ada akibatnya. Sekarang adis harus menerima takdirnya, kembali sendiri seperti sebelum mengenal Jordan dan Beno.
Tak ada lagi yang membantu dia dalam segala hal. Tak ada lagi yang memastikan dia sudah makan atau belum, dan tak ada lagi yang memastikan bahwa kuliahnya baik-baik saja atau tidak. Tak ada lagi. Sekarang, dia harus menjadi Adis yang berbeda, yang melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan siapapun. Sekarang dia sudah tidak memiliki Beno, tidak memiliki Jordan, dan tidak memiliki Santi. Semuanya hilang gara-gara kesalahannya sendiri.
Benar apa kata orang, bahwa kita akan benar-benar merasa kehilangan seseorang, jika orang itu sudah pergi meninggalkan kita. Tak ada yang bisa kita lakukan saat itu, selain menangis dan menyesali perbuatan kita.
Dia tahu sekarang dia sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Beno. Namun, dia juga tidak bisa serta-merta menjalin hubungan dengan Jordan begitu saja. Karena saat ini, cintanya kepada Beno menguat, dan desir desir halus dalam dadanya untuk Jordan kini telah menguap. Sejak saat itu dia tahu, sebenarnya hanya Beno lah yang dia sayang. Apa yang dia rasakan pada Jordan, hanyalah perasaan sejenak saja karena dia merasa bosan dengan hubungannya.
Huft … saat itu, saat Beno sudah lulus dan tidak bisa lagi dia temukan, Dia memutuskan untuk lebih giat lagi belajar, supaya bisa cepat lulus, dan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Saat itu juga, Adis mulai belajar tak kenal waktu. Seperti apa yang sudah dikatakan oleh Beno, bahwa tidak ada yang bisa menolong kita selain diri kita sendiri. Ya, dia tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Sekarang dia harus bangkit, untuk mengejar cita-citanya.
***
3 tahun kemudian.
Adis memandang kertas yang ditangannya dengan mata nanar. Sebuah surat yang dilayangkan oleh perusahaannya beberapa minggu yang lalu. Surat yang sudah berhasil membuat hidup Adis berantakan. Ya, itu adalah surat PHK.
2 tahun dia bekerja di tempat itu dan sudah merasa nyaman, tetapi kini dia harus menerima kenyataan bahwa dia harus di PHK karena perusahaan sedang mengalami masalah keuangan sehingga harus mengurangi karyawan, dan dia … dia adalah salah satu yang harus disingkirkan.
Ya, 2 tahun yang lalu adis sudah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan advertising. Dia bisa hidup mandiri dan hidup mewah seperti apa yang dia mau dengan hasilnya sendiri. Namun, saat dia berada di puncak karirnya, dia harus rela kehilangan pekerjaannya. Sudah beberapa minggu dia menganggur. Dia harus membayar cicilan mobil dan biaya hidup sehari-hari. Dia tidak mau minta sama orang tuanya, karena sejak dia bekerja, Ade sudah tidak mau lagi mau bantu orangtuanya.
"Dis, jadi gimana? Lo mau cari kerja di mana?" tanya Nana sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya. Nana adalah tetangga kos Adis yang sekarang sudah seperti saudara. Dia sedang siap-siap untuk berangkat kerja.
Adi sengaja main ke kamar Nana. Biasa, mau merampok isi toples Nana.
"Gue udah melamar di 10 perusahaan, nggak ada panggilan sama sekali. Mana uang gue udah nipis. Besok gue mau makan apa?" Adis mengerucutkan bibirnya yang saat itu penuh dengan gabin manis. Miris sekali membayangkan nasibnya yang terkena PHK dan tidak memiliki tabungan sama sekali.
'Andai saja gue hemat kayak lo, Ben. Pasti sekarang gue nggak akan kelimpungan. Pasti gue masih punya simpanan. Ah, jadi keinget lo kan, Ben. Lo apa kabar, Ben? Sekarang lu di mana? Apa Lo masih ingat sama gue?'
Ah, bahkan sudah 3 tahun lebih berlalu, tetapi Adis masih selalu teringat akan Beno. Sampai saat ini dia belum menemukan laki-laki yang cocok untuk dia, karena setiap dia dekat dengan seorang laki-laki, dia selalu membandingkan nya dengan Beno, dan memang benar Apa kata santi dulu, tidak ada laki-laki yang sespesial Beno.
"Hilih, tiap hari Lo masih suka jajan bubur ayam gitu. Bisa-bisanya masih tanya besok makan apa."
"Nana, gue serius kali ini. Duit gue tinggal 50 ribu doang. Mana gue harus bayar cicilan mobil juga. Gimana dong? Pinjam lagi boleh?" Adis berbicara dengan manja sambil menaik turunkan alisnya seolah Dia sedang berbicara dengan pacarnya.
"Ish, Lo udah pinjam gue 500 ribu. Nggak mau ah. Gini deh, di kantor gue ada lowongan sekretaris. Bosnya butuh urgent. Lo mau?"
"Serius? Mau lah … Lo beneran kan?"
"Beneran sih, tapi wawancaranya hari ini. Gimana dong? Lo belum mandi."
"Hari ini?" Adis melotot.
"Ini udah jam 6.30. Lo kenapa mendadak banget sih infoinnya."
"Gue baru tahu semalem, Karena gue lembur. Gue pulang, Lo dah ngorok."
"Ya udah Lo tungguin dulu ya? Gue nggak mandi deh. Tungguin! CV gue masih ada, tinggal benah-benahin dikit. Tunggu! Awas di tinggal." Adis melesat pergi ke kamarnya.
"Ih Adis jorok! Mandi! Bisa-bisanya Lo ngelamar kerjaan nggak mandi."
"Urgent sist," teriak Adis.
Dalam beberapa menit, Adis sudah siap dengan pakaian kantor yang rapi. Adis tampak cantik dan anggun. Ya, dia tumbuh menjadi wanita yang percaya diri hingga auranya terpancar. Ya, meskipun dia masih Adis yang dulu. Adis yang ceroboh dan kadang-kadang juga masih jorok. Kayak gini contohnya, nggak mandi padahal mau melamar pekerjaan, dasar Adis.
"Gue udah siap, Na. Ayo kita berangkat!" Adis sudah berdiri di hadapan Nana yang saat itu baru saja memakai sepatunya di depan pintu kamar.
Nana melongo. Cepat sekali makhluk itu. Pake jurus apa make-upnya.
"Cepet banget Lo make up-nya. Tunggu, Lo beneran nggak mandi sampai parfum Lo lebay gini?" ucap Nana sambil Mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung.
"Yaelah, cerewet banget sih Lo. Ini salah Lo, karena Lo ngasih tau mendadak. Gue kan harus benahin CV dulu tadi, jadi enggak sempet mandi. Gini aja lo udah cakep paripurna kan? Ayo, cepetan! Pake mobil gue aja." Adis menarik tangan Nana menuju ke mobilnya dengan grusa-grusu seperti biasanya. Ya, bukan Adis kalau nggak seperti itu.
"Serius naik mobil Lo?" Nana mengerutkan keningnya.
"Iya, ayo naik."
Nana pasrah. Dia segera masuk ke mobil Adis dan segera melajukan mobilnya. Namun, tiba-tiba Adis belok ke arah pom bensin.
"Na, pinjam uang buat beli bensin dong? Hehehe … " Adis menengadahkan tangannya sambil cengar-cengir.
"Hemmmh … Ude gue duga, pasti ada yang nggak beres. Ternyata bener kan? Mau nggak mau deh, dari pada gue jalan kaki ke kantor."
Nana mengambil dompetnya di dalam tas sambil bersungut-sungut.