Melamar Kerja

1099 Kata
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kantor tempat di mana Nana bekerja. Di sepanjang perjalanan tadi, Adis terus berdoa tiada henti. Ini adalah berkas lamaran pekerjaan yang ke-11. Besar harapannya untuk diterima kali ini. Karena dia sudah benar-benar kehabisan uang. Dia tidak mungkin minta sama orang tuanya. Entah kenapa, rasanya malu saja Kalau sudah sedewasa ini masih minta orang tua. "Dis, Ayo masuk!" "Iya, Ayo." Setelah mengatur nafas untuk menenangkan dirinya, mereka langsung masuk ke kantor itu dan menuju ke resepsionis. "Pagi mbak Tetty …" sapa Nana dengan ramah dan ceria pada mbak Tetty, resepsionis. "Hai Nana. Selamat pagi." "Mbak Tetty, mau tanya dong. Lowongan untuk sekertaris pak Wijaya masih ada kan?" "Kayaknya belum ditutup sih, soalnya dari kemarin belum Nemu yang cocok sesuai kriteria. Kenapa? Ada yang mau daftar?" "Ini sahabat saya mbak." Adis mengangguk ramah sambil tersenyum pada Mbak Tety. "Oh, oke. Bentar ya?" Tetty terlihat menelfon seseorang, setelah berbicara beberapa menit ditelfon, dia segera menutup teleponnya dan tersenyum. "Iya, masih bisa. Boleh saya lihat berkasnya?" Adis memberikan berkas itu pada mbak Tetty. "Oh iya. Bisa di tunggu di ruang tunggu ya? Karena Sepertinya hari ini langsung wawancara karena urgent. Butuh segera. Semoga ini keberuntungan kamu." "Aamiin, mbak. Terimakasih." Adis menjawab dengan lembut. Ya, harus begitu. Membangun citra yang baik di tempat baru. Siapa tahu bener keterima di sini. "Beneran hari ini langsung wawancara mbak? Asyiiik …. Semoga rejekimu, Dis. Ya udah gue langsung ke tempat gue dulu ya? Bye." "O.K." Adis segera berjalan menuju ke ruang tunggu yang ditunjukkan oleh mbak Tetty. Di sepanjang waktu menunggu, dia terus berdoa tiada putus. Dia benar-benar butuh pekerjaan ini. Kantongnya sudah kering kerontang. Apa lagi online shop nya akhir-akhir ini ini sepi pembeli. Benar-benar membuat Adis hanya memegang uang 50.000 doang. Adis harus menunggu kurang lebih 3 jam sampai akhirnya dia dipanggil ke ruang HRD. Dengan mengucap bismillah dan mendahulukan kaki kanan, Adis memasuki ruangan Itu. HRD nya ramah. Adis bisa menjawab semua pertanyaan dengan penuh percaya diri. Karena Adis memang sudah berpengalaman di bidangnya. "Terimakasih, Saudari Adis Adena. Wawancara kali ini sudah cukup, nanti untuk kelanjutannya, kami akan hubungi Anda." "Baik, Pak. Terimakasih." "Sama-sama." Adis tersenyum lega, lalu segera keluar ruangan. *** "Nana … Gue dapat panggilan wawancara lagi. Katanya langsung diwawancara sama pak Wijaya. Semoga ini pertanda bagus." Baru masuk kamar Nana, Adis sudah nerocos kegirangan. Nana yang saat itu sedang skinkeran langsung menghentikan aktivitasnya. Dia sudah menunggu-nunggu kedatangan Nana dari tadi hanya untuk memberitahukan hal ini. "Serius lo? Semoga bener-bener rejeki Lo ya?" Nana ikut bahagia mendengarnya. "Hmm … kenapa sih Lo jam segini udah skinkeran." "Memangnya kenapa?" "Iya terlalu awal aja. Na … Gue harus bayar angsuran mobil. Kalau besok gue nggak bayar, pasti itu tukang palaknya datang ke sini. Gue kan malu sama temen-temen. Gimana dong?" Adis masker wajah muram sambil duduk di tepi tempat tidur Nana yang selalu rapi. "Gimana ya? Gue juga nggak bisa bantu, Dis. Empat juta bukan duit sedikit. Gue nggak ada segitu." Nana mengoleskan krim malam ke pipi mulusnya. "Olshop gue kenapa pas banget sepi ya? Kalau rame kayak bulan lalu kan bisa buat tambah-tambah." "Emangnya Lo nggak ada perhiasan atau apa gitu?" Adis membuang nafas kasar. Lalu dia merogoh sakunya, mengambil sebuah cincin. "Perhiasan gue udah gue jual semua. Tinggal ini. Ini cincin pemberian dari Beno. Gue pengen balikin ini tapi gue nggak pernah bisa nemuin dia lagi setelah dia lulus. Huft … apa gue harus jual cincin ini dulu ya? Paling gue juga nggak bakal ketemu dia lagi seumur hidup." Adis masih mengamati cincin itu dengan seksama. "Kalau memang kepepet, jual aja nggak apa-apa. Kesempatan buat ketemu sama mantan pacar kamu juga kecil banget kan?" "Huft … kayaknya memang terpaksa harus dijual deh. Meskipun mungkin nggak mahal, kayaknya sih cuma 1 jutaan, tapi nggak apa-apa, bisa buat tambah-tambah." "Iya, jual aja nggak apa-apa." "Kalau gitu, anterin gue ke toko mas ya?" "Hish … ngrepotin lagi. Kesyel." "Hilih, Lo suka ini gue repotin." "Mules gue kebanyakan nolongin Lo. Ya udah Lo sana siap-siap. Nanti keburu tutup." "Woke." Adis Segera melesat ke kamarnya dan siap-siap. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di toko emas yang memang tidak jauh dari kos mereka. "Ini mentok 5 juta mbak," ucap salah satu karyawan toko emas itu sambil terus mengamati cincin yang diberikan oleh Adis beberapa menit yang lalu. Mereka sudah memeriksa dengan serangkaian pemeriksaan emas yang entah diapain aja Adis tak tahu. Adis melongo. 5 juta? Beneran harga cincin itu 5 juta? Adis masih terbengong tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh karyawan itu. "Beneran 5 juta mas?" Adis masih tidak percaya. "Ya kalau boleh Mbak. Kalau nggak boleh nggak apa-apa. Udah mentok segitu. Soalnya nggak ada suratnya juga." Adis tampak begitu shock. Ternyata, Beno mengeluarkan uang lebih untuk memberikan dia tanda pengikat. Ternyata selama ini dia sudah salah sangka terhadap Beno. Dia Selalu mengira bahwa harga cincin itu hanya satu jutaan. Ternyata dia salah. Ah … rasanya Dia tidak rela menjual cincin itu. Namun dia bisa apa? Uang itu itu sangat lumayan untuk membayar cicilan mobilnya dan masih sisa untuk kebutuhan dia sehari-hari. "Dis, gimana? Boleh nggak?" Nana menyikut lengan Adis yang saat itu sedang melamun. "Eh, Iya. Iya nggak apa-apa Mas. Boleh segitu." "Baik, mbak. Tunggu sebentar ya?" "Siap Mas." "Dis, ternyata mahal banget cincin Lo, Nggak cuma satu juta Seperti Yang Lo kira. Alhamdulillah. Benar-benar bisa bermanfaat di waktu yang tepat. Tapi, Kok lu kayak nggak senang gitu ya? Seharusnya lu seneng banget dong. Ini rezeki nomplok namanya." Adis menunduk dengan pandangan menerawang ke bawah. "Gue tiba-tiba keinget Beno, Na. Ternyata selama ini gue salah sangka. Gue terlalu berburuk sangka padanya. Ternyata, dia masih mau mengeluarkan uang segini buat gue. Rasanya nggak ikhlas banget mau jual cincin ini, tapi gue butuh banget." "Nggak apa-apa. Semoga suatu saat nanti, kalau memang cincin itu rezeki lo, bisa lo beli lagi di sini. Sekarang situasinya sedang urgent. Lo jangan pikirin lagi. Lagian, lo jangan banyak mikirin mantan lo itu. Jadi jomblo abadi mau lo?" "Ish, amit-amit jabang bayi. Jangan dong … " "Ya udah, kalau begitu Jangan banyak ngomongin mantan. Menyesal yang berkepanjangan itu nggak akan berdampak apapun buat hidup lo. Jadi, bagus Lo jual cincin itu. Supaya nggak ke inget inget sama dia. Udah, nggak usah disesali lagi." Nana mulai sok bijak, membuat Adis mencebik. Nana tidak tahu Bagaimana hubungan mereka dulu, jadi dia bisa bicara seperti itu. Andai Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka di masa lalu, pasti dia akan tahu kenapa sampai detik ini Adis Masih memikirkan Beno dan belum kepikiran untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Karena baginya, tidak ada laki-laki sebaik Beno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN