"Adis, good luck ya? Semoga hari ini ada rezeki lo. Gue pergi dulu. Jangan lupa doa. Bye!"
Nana melambaikan tangan pada Adis yang saat itu sudah berdiri di depan pintu direktur untuk melakukan wawancara. Ah … semakin diberi semangat dia semakin grogi.
"Oke, bye."
Sungguh, Adis deg-degan tak karuan saat dia akan memasuki ruangan itu. Dia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Adis terus melakukan itu berulang-ulang untuk mengurangi rasa
groginya. Entah kenapa hari ini rasanya lebih menegangkan daripada wawancara yang pertama. Karena wawancara kali ini akan menentukan nasibnya ke depan seperti apa.
"Mari kak Adis, silahkan masuk. Sudah ditunggu pak Wijaya."
"Oh, iya mbak. Terimakasih."
Setelah mengucap bismillah, Adis segera melangkahkan kaki memasuki sebuah ruangan yang sepertinya akan menjadi ruangan yang paling menegangkan bagi Adis.
Namun, baru melangkah 1 langkah, Adis langsung menghentikan langkahnya. Jantungnya berdetak dengan begitu kencang. Saat itu, lututnya terasa begitu lemas.
Seseorang yang sedang duduk di kursi direktur itu sama sekali tidak asing baginya. Seseorang yang selama ini dia cari cari, seseorang yang selama ini diharapkan untuk kembali bertemu.
"Beno … " Adis berucap lirih dengan bibir bergetar.
Laki-laki itu tak kalah kagetnya dengan Adis. Dia membeku di tempatnya untuk beberapa detik. Saat itu, wajahnya yang tadi berbinar, kini berubah keruh.
Laki-laki itu sudah jauh berbeda dengan 3 tahun yang lalu. Dia tampak begitu tampan dan terawat. Rambutnya dipangkas pendek sehingga tidak kelihatan lagi keritingnya. Kulitnya bersih dan tampak terawat. Dia memakai setelan jas warna abu-abu tua yang membuat dia tampak begitu elegan.
Ya … itu Beno, Beno Wijaya sudah bertransformasi menjadi seorang presiden direktur di sebuah perusahaan.
Beno membuang nafas kasar, lalu dia segera membuka berkas yang ada di hadapannya. Dia menyesal, Kenapa dia begitu percaya dengan hrd-nya sehingga tidak memeriksa dulu Siapa nama orang yang terpilih untuk dia wawancara. Kalau saja dia tahu bawa itu Adis, dia tidak akan mau lakukan wawancara dengan mantan kekasih yang sangat ia benci itu.
Benci? Ya, tetapi kebencian itu ada karena dia belum bisa melupakan masa lalu. Rasa sakit itu ada, karena dia belum benar-benar mengikhlaskan Adis. Itu berarti, di hatinya masih ada sekelumit perasaan untuk wanita yang saat itu sedang berdiri dengan anggun di hadapannya.
Huft … dia sudah terlanjur kecebur. Jadi tak ada yang bisa dia lakukan kecuali tetap melakukan wawancara sesuai prosedur. Dia mencoba untuk tetap bersikap profesional.
"Silahkan Duduk!" perintah Beno dengan nada dingin.
Dengan kaki yang gemetar, mata yang basah, dia melangkahkan kaki mendekat ke arah Beno.
"Ben, Ini beneran lo? Ini Beno … Ben, gue udah cari lo kemana-mana, gue udah berusaha untuk mencari informasi tentang lo ke semua orang, Ternyata kita kembali dipertemukan di sini. Gue … "
"Silahkan duduk, saudari Adis."
Beno bersikap dingin seolah dia tidak pernah bertemu dan tidak pernah kenal dengan Adis sebelumnya.
Mendengar kata-kata itu, adis yang tadinya ingin menghampiri Beno ke kursinya, langsung menghentikan langkah. Dia kembali berjalan menuju ke kursi yang sudah udah disiapkan untuknya.
Dia duduk di sana, menghadap Beno yang benar-benar sudah jauh berubah. Rasanya Adis ingin memeluknya sembari mengatakan kalau dia sangat merindukan Beno.
"Beno, gue_"
"Panggil saya Pak Wijaya."
Glek. Adis menelan salivanya. Beno benar-benar masih marah padanya. 3 tahun sudah berlalu, tetapi ternyata itu tidak cukup untuk menghapus rasa sakit di Hati Beno.
"Ben, tolong beri aku kesempatan untuk bicara."
"Kalau Anda memang tidak berniat untuk melakukan wawancara dan berbicara hal yang pribadi, mohon maaf saya tidak ada waktu, dan anda bisa keluar."
Beno menatap Adis dengan tatapan tajam. Tegas dan serius. Itulah sosok Beno yang sekarang.
Sakit, rasanya sakit melihat Beno menjadi sosok yang berbeda seperti ini. Laki-laki itu adalah laki-laki yang dulunya selalu ada untuk dirinya, laki-laki yang bisa dikatakan bucin terhadap dirinya yang selalu memberikan apa yang dia mau. Namun sekarang, ketika laki-laki itu sudah sukses, mereka seperti orang asing. Ini sangat menyakitkan bagi Adis.
"Baik, Pak Wijaya," ucap Adis akhirnya. Sepertinya kali ini dia harus bersikap profesional terlebih dahulu. Dia harus menjawab semua pertanyaan dengan baik hari ini. Walaupun dia tak yakin bahwa Beno mau menerima dia sebagai sekretarisnya. Namun, adis tidak berhenti melafalkan doa.
"Oke, kita mulai wawancara pada hari ini."
Setelah itu, Beno benar-benar memberikan beberapa pertanyaan kepada Adis secara profesional. Adis pun menjawabnya dengan begitu profesional karena dia sudah berpengalaman dalam wawancara seperti ini.
Setelah wawancara selesai, Beno dilanda kebingungan. Dari semua kandidat, memang Adis yang paling memenuhi kriteria. Dia tahu Adis adalah orang yang total dalam melakukan tugas yang diberikan olehnya. Meskipun kadang dia ceroboh, tetapi kalau dia diberi target dan diberi tanggung jawab, dia akan menyelesaikannya dengan totalitas. Dan Beno yakin, dilihat dari CV nya dan dari berkas yang dia pegang, sepertinya Adis memang sudah kompeten dan Tidak diragukan lagi kemampuannya.
Beno terlihat menelpon seseorang.
"Seno, Apakah ini benar-benar kandidat terakhir dan nggak ada yang lain?"
"Oh, Oke. Terimakasih."
Beno segera meletakkan telepon kembali ke tempatnya.
"Kalau saja ada orang lain, dan Kalau saja ini tidak urgent, Saya tidak akan pernah mau menerima kamu. Namun, ini kepepet, Sepertinya saya memang harus profesional. Jadi, kamu diterima di sini dan bisa kerja mulai besok. Untuk job desk kamu, dan apa yang harus segera kamu tangani, kamu bisa tanya sama Andin. Pekerjaan sementara dia yang handle. Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya."
"Ben, ini artinya gue diterima? Gue diterima jadi sekertaris lo? Serius? Terimakasih, Beno. Makasih banyak."
Reflek, Adis memegang tangan Beno dan menggenggamnya sambil teriak teriak kegirangan. Matanya basah karena bahagia. Kebahagiaannya berlipat. Bahagia karena dia bisa mendapatkan pekerjaan lagi, dan bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Beno setiap hari. Mungkin, ini adalah jalan bagi Adis untuk melakukan sesuatu agar Beno mau memaafkan dirinya..
Tentu saja, saat itu jantung Beno masih berdetak kencang saat tangannya dipegang oleh Adis. Sentuhan tangan itu, Sudah lama tidak dia rasakan. Dulu, sentuhan itu yang selalu memberi dia semangat untuk terus bekerja, menabung dan mengumpulkan uang untuk masa depan mereka berdua. Namun, semua itu hancur ketika dia melihat penghianatan kala itu.
Beno buru-buru menarik tangannya.Dia tidak mau hatinya kembali berulah.
"Tolong yang sopan ya. Saya tidak suka dengan orang yang tidak memiliki sopan santun. Sekarang kamu bisa keluar dan menemui andin yang berada di ruang sebelah. Jadi besok kamu sudah siap kerja."
Adis langsung kicep, meskipun dia sangat bahagia.
Ah … abaikan sikap dingin laki-laki itu. Yang penting saat ini adis sangat bahagia karena akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan sesuai yang dia mau. Apalagi atasannya adalah Beno. Sambil menyelam minum air. Dia bisa mendapatkan pekerjaan dan dia bisa berusaha untuk mendapatkan hati kembali laki-laki yang sampai saat ini masih dia sayang. Dia akan berjuang untuk kembali mendapatkan hatinya.
"Baik, Pak Wijaya. Sekali lagi terima kasih untuk kesempatannya. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik dan saya siap membantu bapak kapanpun. Kalau bapak butuh tempat curhat atau butuh teman untuk makan siang, saya juga bisa Lo Pak."
"Wawancara sudah selesai, kamu bisa keluar sekarang!"
"Iya, Iya."
Adis cemberut, lalu dia segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangan Andin yang ada di sebelah ruangan Beno.
Sementara Beno, Dia hanya bisa membuang nafas kasar. Sebenarnya dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri, dia masih menyayangi Gadis itu sampai detik ini. Meskipun bencinya sampai ke ulu hati, tetapi dia tidak bisa memungkiri Kalau nama Gadis itu masih sedikit terukir dalam hatinya. Ya, walaupun saat ini dia sudah memiliki kekasih yang baru, tetapi posisinya masih belum bisa terkalahkan oleh adis.
'Gue setengah mati berusaha untuk melupakan Lo, tapi kenapa saat gue hampir berhasil, lo harus muncul lagi di hidup gue?