Andin sudah menjelaskan jobdesk Adis. Sekarang adis sudah mengerti apa yang harus dia kerjakan besok. Pas banget, sudah waktunya makan siang. Jadi adis segera menuju ke kantin kantor.
Dia mengambil handphonenya lalu terlihat menelpon seseorang.
"Nana … Lo rajin banget sih di ruangan Lo. Sini ke kantin, gue tunggu."
"Kantin? Kantin mana?"
"Kantin kantor lah, masa kantin SD. Cepet sini."
"Lo dari tadi belum pulang. Eh tapi tunggu, Lo diterima?"
"Udah Lo sini aja, cepetan! Gue ceritain hal yang penting banget nget nget nget. Cepet sini!"
"Iya, iya. Tunggu."
Klik. Nana matikan sambungan teleponnya lalu bergegas menuju ke kantin karena dia penasaran, Apakah Adis diterima kerja di kantornya atau tidak.
"Eh gimana gimana? Cerita sini sama gue."
Datang-datang, Nana langsung nyerobot es jeruk Adis, lalu di sedot hingga hampir tandas.
"Oe Nana … minuman gue … Ah elah makhluk ini." Adis memandangi gelasnya yang baru saja diletakkan diatas meja oleh si penyerobot. Gelas es jeruk itu saat ini hampir kosong.
Nana hanya tergelak, lalu dia segera ke kursi dan duduk berhadapan dengan adis.
"Ya Elah, es jeruk doang. Lo baru banyak duit ini."
"Banyak duit apaan, orang udah dibayarin angsuran mobil."
"Koret banget sih Lo kayak mantan Lo."
"Iiiih … Kenapa lu ngomongin mantan sih. Kesel gue."
"Bentar bentar … lu kenapa uring-uringan gitu sih. Sekarang cerita sama gue, gimana wawancara tadi?"
"Gue diterima," ucap Adis dengan nada datar dan dengan raut muka datar. Tak ada senyum, tak ada tawa, tak ada jenderal-jenderal kebahagiaan seperti biasanya.
"Hah? Bentar deh … Lo diterima, diterima jadi apa? Kok ekspresi lo gitu banget sih. Sebenarnya lo di terima apa enggak jadi sekretarisnya paku Wijaya?"
"Diterima Nana … Lo budeg ya, tapi Kenapa lo nggak bilang sih kalau nama panjang Pak Wijaya itu Beno Wijaya?"
"Wait, maksudnya apa ini."
"Lo pasti bisa nebak lah."
"Nggak mungkin seperti apa yang aku pikirkan kan?"
"Ya, memang Apa yang kamu pikirkan."
"Serius? Pak Wijaya, Beno Wijaya? Itu mantan Lo? Mantan pacar Lo yang koret itu?"
Nana berbicara dengan suara keras saking shock-nya. Adis langsung menutup mulut Nana dengan telapak tangannya. Haduh … dasar mulut TOA. Tuh kan, gara-gara mulut TOA Nana, beberapa karyawan yang sedang makan di tempat itu langsung menoleh kearah mereka berdua.
"Lo bisa nggak sih nggak berisik gitu. Diliatin orang tuh," ucap Adis, lalu dia melepaskan tangannya dan kembali duduk di posisi semula.
"Ya maaf, abisnya gue shock. Lo serius itu Beno mantan pacar Lo. Wiiiih … keren banget lo punya mantan direktur. Waaah … nggak main-main sahabat gue emang. Tapi kenapa lu nggak seneng. Bukankah memang ini yang lu pengen? Kembali bertemu sama mantan pacar dari minta maaf, dan mengembalikan cincin sih, ya … meskipun sekarang cincinnya udah lo jual."
"Nah … Itu tuh yang bikin kepala gue pening. Tengsin banget kan kalau sampai dia tahu kalau cincin pemberian dia gue jual. Terus, Sepertinya dia masih sakit hati banget sama gue. Dia cuek banget, dan nggak mau ngomong sama gue tentang hal pribadi. Rasanya sedih banget tau nggak, kembali bertemu dengan mantan yang masih kita sayang, tetapi sepertinya dia sudah terlanjur benci sama kita."
Adis menunduk dengan muka muram. Wajahnya menunjukkan gurat kesedihan. Tentu saja dia sangat bahagia bisa mendapatkan pekerjaan ini dan bertemu dengan mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih dia sayang. Namun, penyesalan itu kembali hadir saat dia melihat kekasihnya sudah begitu sukses dan kini tidak mau menganggap dia lagi.
Tentu saja Ini salah Adis. Andai saja dulu dia sedikit bersabar dan tidak banyak menghabiskan waktu dengan Jordan, pasti sampai saat ini mereka masih bersama dan mungkin saja mereka sudah menikah dan hidup bahagia.
Pluk. Sebutir bakso masuk ke mulut Nana. Memang, saat adis sedang galau seperti ini menjadi sasaran empuk bagi Nana untuk mengambil paksa makanan sahabatnya itu.
"Emmm … enak banget baksonya," ucap Nana sambil mengunyah bakso.
Mendengar kata-kata Nana, tentu saja adis langsung menoleh ke arah sahabatnya yang saat itu sedang menghadap semangkok bakso yang tadi sudah dia pesan.
"Nana … Lo dengerin gue nggak sih. Gue lagi serius cerita dan lo malah serius ngabisin makanan gue. Nggak sopan banget sih Lo, siniin mangkok gue."
Adis langsung mengambil kembali mangkoknya dan dia dapati bahwa di dalam mangkok tinggal 1 butir bakso kecil doang.
"Nana … kebiasaan banget sih habisin makan orang."
"Adis … lo kan lagi galau. Pasti lu sedang gak doyan makan dong. Jadi gue aja abisin makanannya. Hahaha ...eh tapi, cerita lo kayak di novel-novel ya. Mantan pacarku adalah bosku. Unik banget sih cerita kalian. Tapi … gue ada info penting nih buat Lo. Iya sebelum lo berharap terlalu banyak."
Adis yang hendak menusuk bakso dengan garpu, mengurungkan niatnya dan fokus ke Nana. Dia penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Nana.
"Apa?"
Bukan Nana kalau tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengenyangkan perutnya sendiri.
"Siniin dulu baksonya, tinggal satu ini, gue habisin sekalian ya. Biar gue lancar ngomongnya," ucap Nana. Lalu, pluk. Bakso yang tinggal 1 butir itu masuk ke mulut nana, lalu segera dikunyah dan ditelan nya dengan cepat.
"Dosa nggah sih ngeracun orang?" ucap Nana geram. Dia memelototkan matanya, tetapi justru nana malah tertawa terbahak-bahak.
"Jangan melotot Lo, mata kecil gitu melotot, bukan malah serem tapi lucu. Oke, karena gue udah kenyang gue mau ngasih informasi penting buat lo."
"Cepetan!"
"Tapi lo udah siap lahir batin denger cerita dari gue?"
"Iya, Nana bawel. Astaghfirullah, Lo sengaja banget ya bikin gue emosi. Cepetan ngomong!"
"Hahaha … Oke oke. Jadi, Pak Wijaya itu udah punya pacar. Pacarnya cantik banget. Dia sering kok ke sini. Dia sampai akrab banget sama beberapa karyawan. Nah, tetapi satu ini nih yang gue bingung. Kalau kata Lo, mantan lo itu kan pelit banget ya, Kalau Pak Wijaya ini royal banget orangnya. Dia sering ngasih sesuatu ke pacarnya. Sering makan di tempat mewah, sering diantar jemput juga pake mobil mewah, pokoknya royal banget deh."
"Sebentar, lo nggak sedang ngarang cerita kan? Enggak mungkin banget Beno kayak gitu. Bahkan buat beli bensin motor aja dia pelit Lo dulu. Ya, meskipun itu dilakukan untuk memberi kejutan ke gue sih waktu itu. tapi akhirnya berantakan. Eh Lagian lu tahu dari mana berita kayak gitu. Pasti cuma dari gosip murahan doang kan?"
Dari kata-katanya, terlihat kalau adis sedang iri. Masa iya Beno sudah punya pacar lagi? Masa iya dia sangat royal sama pacarnya? Masa iya dia sering makan di resto mewah sama kekasih barunya?
"Ini beritanya amat sangat akurat. Orang gue lihat dari sosial medianya kak Rossi. Game hari dia pamer kebersamaannya dengan pak Wijaya. Pokoknya pak Wijaya itu romantis banget. Bikin gue sama temen-temen yang lain iri," ucap Nana dengan nada yang serius.
'Benarkah begitu? Benarkah Beno benar-benar sudah move on dari gue dan mendapatkan orang lain Lebih baik? Benarkah sekarang dia tidak sekoret dulu? Ah … Kenapa rasanya nyesek banget ya denger kabar ini.'
Adis menunduk. Rasanya sulit menerima kenyataan kalau mantan pacar kesayangan nya sudah bener-bener move on darinya.
"Dis, lo nggak apa-apa kan? Lu enggak bakal depresi kan dengar kabar ini?"
"Nggak. Ngapain. Lihat aja, Gue bakal ngerebut Beno dari pacarnya, dia bakalan jadi milik gue lagi. Udah gue pulang dulu. Bye. Oh ya, tadi makannya belum gue bayarin. Hahaha … bye," ucap Adis sambil mempercepat langkahnya pergi meninggalkan Nana yang teriak teriak memanggil namanya.
"Oe Adis, kurang ajar banget sih gue dikerjain," gerutu Nana kesal.