Sakit hati yang teramat dalam, adalah bahan bakar yang paling dahsyat untuk memacu diri menuju kesuksesan. Yap, ternyata kata-kata ini benar adanya dan benar-benar terjadi pada Beno. Rasa sakit hati yang dia rasakan pada Adis waktu itu memberi dia energi lebih dan semangat lebih untuk bekerja lebih keras lagi, memutar otak lebih kuat lagi, bekerja lebih kreatif lagi.
Ya, sakitnya waktu itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ibaratnya, dia sudah melakukan apapun untuk Adis. Dia kerja keras tak kenal waktu, dia selalu mengusahakan semua yang terbaik untuk Adis, dia sampai bertanggung jawab semua-muanya seolah-olah Adis sudah menjadi tanggungannya. Bahkan, dia sampai pelit pada dirinya sendiri, itu hanya untuk membuat adis merasa nyaman di masa depan bersamanya. Namun ternyata, semuanya hancur berantakan gara-gara Adis yang tidak mampu bersabar barang sebentar.
Dia kepincut sama laki-laki lain yang jauh lebih kaya dan jauh lebih royal. Ya, itulah yang membuat Beno bekerja keras kayak orang kesetanan. Saat itu dia menjual rumah dan juga mobilnya kembali. Dia fokus membangun bisnis dari 0. Hingga sekarang, inilah dia. Seorang direktur dari sebuah perusahaan advertising.
3 tahun kerja kerasnya membuat dia berada di posisi saat ini. Sehingga dia menjelma menjadi Beno Wijaya yang jauh berbeda dengan Beno 3 tahun yang lalu.
"Halo Sayang, hari ini sibuk?"
Seorang Wanita menghampiri Beno ke ruangannya. Wanita itu mememeluk Beno dari belakang dengan manja. Wanita itu cantik. Badannya benar-benar proporsional. Tinggi dan juga ramping. Saat itu dia memakai dress hitam bermotif bunga-bunga tanpa lengan. Panjangnya pas selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai.
Dilihat dari Baju, tas dan juga sepatunya, kita bisa menebak kalau dia bukan orang biasa, karena semua yang dia kenakan serba branded.
Ya, itulah Rossa. Kekasih Beno yang baru. Sudah menjalin hubungan selama 4 bulan terakhir ini. Rossa, perempuan yang mampu membuka hatinya kembali Setelah sekian lama dia menutup hati.
Perempuan itu adalah anak dari salah satu klien Beno. Mereka kenal 1 tahun yang lalu. Yang pada awalnya hanya berteman biasa, tetapi lama-lama Beno mencoba untuk membuka hati karena Rossa sangat perhatian terhadap dirinya. Rossa memberikan kasih sayang yang lebih, lebih dari apa yang diberikan oleh adis dahulu.
Dulu, dia yang terlihat bucin, yang mau melakukan apapun demi Adis. Namun sekarang, dia merasa ada yang bucin padanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan ini. Meskipun sebenarnya di dalam hatinya masih ada nama adis.
Dia sengaja membuka hatinya untuk orang lain. Berharap nama Adis segera tersingkirkan dari hatinya.
"Eh, Sayang. Aku sibuk banget hari ini. Kenapa? Kamu mau ditemani kemana? Biar ditemani sama Pak Slamet ya?"
Beno tersenyum, mengelus tangan sang kekasih yang saat itu mendekapnya dari belakang.
"Yaaah … kamu nggak bisa nemenin aku? Aku mau ke salon. Rambut aku udah mulai kusut. Temenin ya, please?"
Beno tersenyum, lalu menutup laptop yang dari tadi terus dia pantengin. Dia berdiri lalu menghadap sang kekasih.
"Kalau siang sampai sore aku masih sibuk, malam gimana?" Beno menatap kekasihnya dengan senyum.
"Yaaah … jangan malam dong. Malam aku ada acara sama teman-teman. Jadi siang ini aku harus perawatan, supaya pas ketemu sama teman-teman aku udah fresh dan rambutku udah berkilau lagi."
"Ya udah, kamu diantar sama Pak Slamet aja ya? Buat ke salon, 5 juta cukup?"
"Cukup kok sayang. Cukup banget."
"Ya udah, aku transfer ya?"
"He'eh," ucap rossa sambil mengangguk angguk manja.
Lalu, Beno benar-benar mentransfer uang 5 juta ke rekening Rossa.
"Udah, nih. Udah masuk."
"Emmmm … makasih sayang, kamu memang benar-benar perhatian banget sama aku. Makin makin sayang aku sama kamu. Oh iya, aku bawain makan. Hari ini aku bikin rendang kesukaan kamu. Aku suapin ya?"
"Boleh."
Mereka segera pindah di sofa yang ada di ruangan Beno. Rossi menyuapi Beno dengan telaten dan penuh perhatian. Bersama Rossi, Beno benar-benar merasa dicintai. Itulah kenapa dia mau membuka hatinya untuk Rossi. Karena prinsipnya sekarang, Dia ingin menjadi orang yang dicintai. Ya, sekarang baginya lebih baik dicintai daripada mencintai. Dan ketika dia dicintai, maka dia akan mencoba untuk lebih mencintai wanita itu.
Itulah mengapa, sekarang Beno sangat royal sama Rossi. Karena dia berkaca dari hubungannya yang lalu. Dia tidak mau hubungannya kali ini kandas begitu saja. Hingga akhirnya dia begitu royal dan mau membelikan apapun dan memberikan apapun yang diminta oleh Rossi.
"Enak, nggak?" tanya Rossi sambil menyendok daging dan nasi.
"Masakan Kamu memang nggak pernah gagal. I like it."
"Nanti kalau kita dah nikah, pasti aku akan selalu masakan kamu makanan yang enak setiap harinya."
Rossi menyuapkan makanan itu dengan senyum.
"Iya," jawab Beno dengan senyum. Namun, hanya dia yang tahu kalau senyum itu mengerti kan banyak hal.
Beberapa jam yang lalu dia baru saja bertemu kembali dengan masa lalunya. Hal itu mengingat kan dia akan getirnya rencana pernikahan. Dulu dia sudah memiliki rencana Indah tentang kehidupan mereka berdua setelah pernikahan. Namun, semuanya hancur begitu saja. Sakitnya masih sampai sekarang, dan kesalnya, masih ada sedikit harapan Di hati Beno. Hanya sedikit, meskipun dia tidak mau mengakuinya.
"Oh iya, sekretaris barunya udah dapat?"
"Hmmm … sekretaris baru?"
"Iya, kata kamu urgent. Udah dapat belum?"
"Emh … udah. Dia sudah cukup berpengalaman, jadi aku langsung ambil dia aja. Besok dia udah mulai kerja dan mulai bantu aku siapin semuanya."
"Bagus dong? Namanya siapa? Cantik nggak? Cantikan siapa sama aku?"
Beno terlihat salah tingkah. Dia segera menelan makanannya, dan minum air mineral yang sudah disiapkan di atas meja.
"Kamu kenapa sih? Masa ditanya gitu doang salah tingkah. Aneh banget. Dia cantik ya?"
'Dia cantik. Dia enggak pernah enggak cantik di hadapanku. Meskipun dia kadang jorok dan ceroboh, tetapi segala tingkahnya dan sikapnya yang apa adanya, membuat dia tampak cantik di hadapanku. Ah … mikir apa sih aku ini.'
Entahlah, Beno malah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Mas … "
Rossi menepuk pundak Beno lembut. Sontak, Beno langsung berjingkat kaget.
"Eh Iya. Dia_"
"Iya? Berarti dia cantik? Namanya siapa?"
Rossi mulai sewot.
"Semua wanita kan cantik. Tapi tidak peduli secantik apapun wanita yang di luar sana, yang aku mau cuma satu. Kamu doang. Jadi kamu nggak usah khawatir. Di hati aku, nggak ada yang lebih spesial daripada kamu."
"Beneran?" Rossi menunduk sambil tersipu.
"Iya lah. Seharusnya kamu sudah tahu tanpa aku bicara kan?"
"Ya kan aku harus tetep memastikan. Ya udah A' dulu."
Rossi mengarahkan sendok yang sudah berisi rendang dan nasi ke depan mulut Beno dengan senyum tersipu.