"Nana, gue udah cantik belum?"
Adis mematut diri di depan kaca kamar Nana. Dia mutar-mutar dari tadi, memastikan penampilannya harus perfect di hari pertama dia bekerja.
"Udah," jawab Nana males. Ini udah kesekian kalinya Adis menanyakan hal yang sama.
"Lipstik gue udah match belum sih sama complexion gue? Terus rambutnya gimana? Harus lurus begini aja atau gue Curly sebentar dulu yang bawah."
Adis menutup dan membuka kedua bibirnya berulang-ulang kali. Untuk memastikan lipstiknya menempel dengan sempurna.
"Gitu aja."
Nana menjawabnya asal. Karena dia sudah siap dari tadi dan ingin berangkat awal, tetapi harus terjeda karena Adis yang terus menerus menanyakan penampilannya.
"Oke, sepatu sama tas gue? Enggak jomplang kan warnanya?"
Dia menenteng tas nya dan berlenggak-lenggok dengan sepatu high heelsnya.
"Adis Lo kayak orang mau ketemu pejabat aja deh ribetnya. Udah ah, gue mau berangkat duluan Kalau lo masih nanya terus dan lenggak-lenggok di depan kaca terus. Kesel gue, bye!"
Tentu saja dia kesal sama Adis. Karena sudah 20 menit dia hanya mematung di belakang Adis dan harus menjawab pertanyaan mengenai penampilannya.
Nana beranjak dari tempat duduknya dan siap ke luar kamar.
"Iya, iya. Tunggu! Jangan ngambekan, tar jomblo terus." Adis kembali merapikan rambutnya dan segera menyusul Nana yang sudah berada di depan pintu.
"Hilih, kayak Lo nggak jomblo aja."
***
"Kamu pelajari kontrak kerja dengan PT Adi Wijaya ini. Nanti kamu urus berkasnya. Kalau sudah, bawa ke ruangan saya. Saya tunggu 60 menit dari sekarang."
Beno meletakkan tumpukan berkas ke Meja Adis. Dia terus nerocos bahkan sebelum Adis sempat mendongakkan kepalanya.
"Ben, yakin Lo cuma ngasih gue waktu 60 menit. Gue harus mempelajari berkasnya dulu." Adis yang baru saja beberapa jam kerja dengan Beno langsung dibikin pusing. Ternyata, ritme kerja laki-laki itu begitu cepat. Dia ingin semuanya dikerjakan dengan cepat dan rapi. Dia takau membuang buang waktu sedikit pun. Menurutnya, terkadang karyawan harus ditekan seperti itu, supaya dia sungguh-sungguh mengerjaka tugasnya.
"Tolong bersikap sopan di kantor. Panggil saya seperti orang-orang memanggil. Soal pekerjaan, memang seperti ini cara kerja saya. Saya kira kamu sudah tahu ini dari Andin. Seharusnya kamu menyesuaikan diri. Kalau memang tidak sanggup, boleh mencari pekerjaan lain."
Beno berkata dengan dingin sambil menatap Adis dengan tatapan yang tajam.
"Oh iya, pastikan tidak ada yang masuk ke kantor saya kecuali yang sudah membuat janji. Permisi."
Beno bergegas kembali ke ruangannya sebelum Adis sempat menjawab apapun.
Adis membuang nafas kasar sambil menatap tumpukan kertas yang ada di hadapannya. Sungguh, welcoming party yang mencengangkan.
"Nggak apa-apa, deh. Sekarang lo jutek sama gue. Lihat aja, gue bakal merebut kembali hati lo. Gue yakin, yang pernah tinggal terlalu dalam di hati Lo, tak bisa hilang dengan mudah begitu saja kan? Semangat semangat semangat."
Adis berteriak kepada dirinya sendiri. Lalu segera mengerjakan perintah dari Beno.
Saat itu, ada seorang wanita yang nyelonong begitu saja akan masuk ke ruangan Beno. Wanita itu membawa rantang warna pink susun 3.
"Eits, mbak. Jangan asal nyelonong dong. Udah ada janji sama pak Wijaya?"
Adis segera berdiri, menghampiri wanita itu dan menghalangi untuk masuk ke dalam ruangan Beno.
"Hmmm … kamu sekertaris baru?" tanya Rossi. Dia mengamati Adis dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Iya, mbak. Mbak mau ada perlu sama pak Wijaya? Atau Mbak adalah tukang catering? Atau mungkin kurir? Maaf, Mbak. Nggak bisa masuk sembarangan. Sini biar saya aja yang memberikan rantangnya."
Sebenarnya adis curiga dengan wanita itu. Apakah wanita itu adalah kekasih Beno?
Rossi menyilangkan tangannya di depan d**a, dan menatap Adis Dengan tatapan penuh kekesalan.
'Berani-beraninya gadis ini menyangka gue sebagai kurir. Sepertinya dia harus diberi pelajaran.'
"Lo nggak tahu gue siapa?"
"Siapapun Mbak, tidak diperkenankan untuk masuk ke ruangan Pak Wijaya tanpa izin."
"Jangan macam-macam sama saya ya. Saya bisa meminta bos kamu buat memecat kamu sekarang juga kalau kamu macam-macam."
"Lhoh … kok Lo nyolot sih. Gue kan ngomong baik-baik sama lo. Kenapa Lo ngegas?" Adis kehilangan kesabarannya. Dia tak mau basa-basi sama orang yang tidak memiliki sopan santun seperti wanita itu.
"Apa? Gue elo? Nggak sopan banget loh. Lo tau gue siapa? Gue pacarnya bos Lo. PACARNYA."
Rossi menekankan kata-katanya sambil mendekatkan mukanya ke Adis dengan mata melotot. Entah kenapa, Rossi sudah merasa kesal dengan wanita ini pada pandangan pertama.
"Siap-siap gue pecat Lo! Minggir!"
Rossi menyibak tubuh Adis dan masuk ke dalam ruangan Beno begitu saja.
Deg. Jantung Adis berdetak dengan begitu kencang. Dia langsung terdiam saat itu juga. Terdiam bukan karena takut, tetapi dia diam Karena sekarang dia harus menerima kenyataan bahwa mantan kekasihnya sudah memiliki kekasih baru. Kekasih yang jauh lebih cantik dan jauh lebih modis Dari dirinya. Apalagi Gadis itu membawa rantang, sudah pasti dia sangat perhatian. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan gadis cantik itu. Apakah ini alasannya kenapa bisa move on cepat dan dia tidak?
"Sayang, sibuk?" Rossi meletakkan rantang pinknya dia atas meja di depan sofa. Lalu dia segera menghampiri Beno di meja kerjanya.
"Hai sayang. Iya, hari ini sibuk banget karena ada beberapa yang harus aku selesaikan hari ini juga."
Beno masih mengetikkan sesuatu di laptopnya dan tidak menoleh ke arah Rossi sedikit pun. Dia benar-benar sedang sibuk waktu itu.
"Sayang, itu sekretaris baru kamu siapa sih? Rese banget orangnya. Aku nggak suka. Dia nggak sopan banget sama aku, Sayang. Masa manggil aku pakai elo gue sambil nyolot. Pokoknya aku nggak suka dia. Siapa sih namanya?"
Beno membulatkan matanya, lalu dia menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Namanya … namanya Dena. Aku lagi urgent banget butuh seorang sekertaris. Dari beberapa pendaftar kemarin, dia yang paling sesuai dengan kriteria aku. Tenang aja, Dia nggak akan macam-macam lagi kok sama kamu."
Beno tersenyum ke arah kekasihnya yang saat itu sedang duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Dena? Masa mau masuk kantor kamu harus janjian dulu. Tadi aku dihalang-halangi masuk. Bete banget jadinya setelah ketemu dia." Rossi cemberut sambil menyilangkan tangannya di depan d**a. Dia duduk bersandar pada kursi dan menatap Beno. Biasa, dia selalu mencari perhatian dengan cara ngambek manja seperti itu.
Beno meraih tangan kekasihnya, lalu menepuk-nepuk punggung tangan mulus itu dengan lembut.
"Ya udah, sebagai obat bete, Nanti malam kita jalan. Kita makan di tempat yang kamu mau. Kamu bebas memilih tempatnya."
"Serius?"
Rossi langsung tersenyum lebar. Triknya ini selalu manjur untuk merontokkan pundi-pundi uang Beno.