Albert memaksakan tubuhnya bangkit. Kakinya goyah, dadanya sesak oleh nyeri dan amarah yang tak lagi punya tenaga. Ia menyeret langkah tertatih mendekati Flora yang masih membuka mata, menahan sakit di atas lantai dingin. Albert menjatuhkan diri di sampingnya. Dengan tangan gemetar, ia menarik kepala Flora dari pangkuan Meyla, lalu memangkunya. Tangisnya pecah, tak lagi bisa ia bendung. “Flora … hey …” suaranya parau, nyaris tak terdengar. “Kau baik-baik saja, kan?” Jemarinya mengusap pipi Flora, menyeka air mata yang bercampur keringat dan rasa sakit. Mata Flora bergetar, napasnya pendek-pendek. Sementara itu Vincent masih berdiri mematung. Tubuhnya kaku, tangannya gemetar, seolah baru saja tersadar dari amukan yang tak ia kenali sebagai miliknya sendiri. “Flora, dengar aku …” Alb

