“Hiduplah denganku. Tinggalkan Vincent. Jika memang kamu berada di pihakku.” Albert menatap Flora dengan sorot mata yang lembut terlalu lembut untuk situasi sekelam ini. Justru itu yang membuat d**a Flora bergetar hebat. Jantungnya berdentam tak beraturan, seolah kehilangan ritmenya sendiri. “Al–Albert …” gumam Flora lirih. Entah mengapa, usapan lembut Albert di pipinya membuatnya terdiam. Ada rasa hangat yang seharusnya tak pantas ia rasakan, namun tetap menyusup, menyesakkan sekaligus menenangkan. Flora membenci dirinya sendiri karena detik itu detik ketika ia hampir lupa pada segalanya. Albert tersenyum. Senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. “Tak perlu menjawab,” ucapnya pelan. “Aku sudah tahu jawabannya.” Tatapan itu masih tertuju pada Flora, seolah ia ingin

