Vincent sudah satu langkah menaiki tangga jet ketika suara itu menghentikannya. “Vincent, tunggu sebentar, Nak.” Langkah Vincent terhenti. Ia menoleh, wajahnya tegang dan pucat diterpa cahaya lampu dermaga. Meyla dan Jobart berdiri beberapa meter darinya, napas mereka masih tersengal karena berlari. “Ada apa lagi, Mah?” suara Vincent terdengar parau, nyaris kehilangan kesabaran. Matanya gelisah, pikirannya hanya tertuju pada satu nama Flora. Meyla mendekat, menggenggam lengan putranya erat, seolah takut Vincent menghilang jika dilepaskan. “Jangan pergi sendiri. Mama dan papa ikut bersamamu.” “Mah—” Vincent hendak membantah, tetapi kata-katanya terputus. Wajahnya mendadak semakin pucat, tubuhnya sedikit oleng. “Vincent?” Jobart segera meraih bahunya. “Ada apa, Nak?” Vincent membuka

