Kring ... Suara gesekan halus terdengar seperti guci hias yang bergeser sedikit. Albert membeku, tatapannya mulai panik. Ponsel di tangannya langsung ia lepaskan. Napasnya tertahan, dadanya mengencang. Matanya menajam menatap pintu kamar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut melainkan karena kemungkinan terburuk ada yang mendengar. Tanpa berpikir panjang, Albert melangkah cepat. Tangannya meraih gagang pintu dan menariknya kasar. Ia tersentak. “Papa?” ucapnya refleks, suaranya naik setengah oktaf, beriringan dengan jantungnya yang berdegup kencang. Jobart berdiri tepat di depannya, menatap Albert dengan sorot mata heran. “Kamu kenapa?” tanya sang ayah. “Wajahmu pucat. Kelihatan tegang.” Albert memaksa sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis terlalu c

