Sesampainya di kamar, Flora masih menggenggam nampan itu. Jari-jarinya sedikit gemetar, bukan karena beratnya, melainkan karena keyakinan yang sejak tadi menekan dadanya ada sesuatu yang diselipkan di sana. Pandangan Flora terangkat, menyapu setiap sudut kamar. Lampu temaram, dekorasi rapi, terlalu rapi. Tidak ada benda mencurigakan, tidak ada suara. Namun justru itulah yang membuatnya yakin. Kamar ini diawasi, batinnya. “Kamar mandi …” gumamnya pelan, seolah takut suaranya sendiri terdengar. “Mungkin di sana tidak ada CCTV.” Ia meletakkan nampan di atas meja dengan gerakan setenang mungkin, lalu menggenggam kertas kecil itu di telapak tangannya, meremasnya agar bentuknya menyatu dengan kulit. Dengan langkah hati-hati, Flora masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Ia duduk di atas kl

