Bab-3 Rasa Asing

1077 Kata
Bab-3. Rasa Asing Vincent menatap punggung Flora yang berdiri di depan meja rias. Melalui pantulan cermin besar, pandangan mereka saling bertemu dingin, datar, dan sarat makna. “Apa aku salah dengar?” suara Vincent terdengar ragu, seolah berharap kata-kata tadi hanya ilusi. “Aku ingin mengabulkan keinginanmu,” jawab Flora pelan namun tegas. “Kita bercerai.” Kalimat itu membuat jantung Vincent berdegup tak beraturan. Tenggorokannya terasa kering saat ia menelan ludah, berusaha menenangkan sesuatu dalam dadanya yang mendadak bergejolak sesuatu yang bahkan tak ia pahami sendiri. “Kau serius?” tanyanya lagi, setengah berharap Flora akan tertawa dan mengatakan semua itu hanya candaan. “Ya,” jawab Flora singkat. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga berhenti tepat di depan Vincent. Senyum tipis terbit di wajahnya senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyerahkan pernikahannya. Matanya sedikit berembun, tetapi suaranya tetap terkendali. “Selama satu tahun kita menikah, aku terus menekanmu. Aku selalu memaksamu untuk melihatku, meski kenyataannya kau tak pernah benar-benar memandangku,” ucap Flora perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku lelah, Vincent. Aku capek menjadi wanita bodoh yang terus mencintai pria yang bahkan tak mampu menoleh padaku sedikit pun.” Dadanya terasa sesak, namun Flora tetap melanjutkan. “Aku kasihan pada diriku sendiri. Tapi tenang saja, pernikahan ini akan segera berakhir. Aku akan mengajukan perceraian. Aku hanya meminta persetujuanmu. Jika kau setuju, aku akan mengurus semuanya.” Ia kembali tersenyum senyum yang lebih menyerupai perpisahan daripada kebahagiaan. Sementara itu, Vincent masih berdiri terpaku. Setiap kata Flora terasa seperti pisau yang perlahan mengiris, menusuk sesuatu yang selama ini ia abaikan. “Kau setuju?” tanya Flora lagi. Lalu ia terkekeh kecil, pahit. “Bodoh sekali aku. Tentu saja kau setuju. Bukankah ini yang kau inginkan selama ini, Vincent?” Flora menepuk bahu Vincent dengan lembut, lalu berbalik melangkah pergi. Vincent memejamkan mata. Tangannya mengepal, bukan karena marah, melainkan karena ada sesuatu yang mendadak memberontak di dalam dadanya. Ia tidak menyukai cara Flora menyebut dirinya wanita bodoh terlebih karena wanita itu mencintainya. “Flora,” panggil Vincent dengan suara rendah. Langkah Flora terhenti di ambang pintu. “Ya?” Namun Vincent kembali terdiam. Semua kalimat yang ingin ia ucapkan seolah tertahan di tenggorokan. Flora tersenyum kecil tanpa menoleh. “Tenang saja. Aku yang akan mengurus semuanya. Aku yang menginginkan pernikahan ini, aku yang mencintaimu setengah hidupku, jadi biarkan aku yang menyelesaikannya.” Setelah itu, ia benar-benar keluar dari kamar. Deg. Jantung Vincent berdegup semakin kencang. Kata-kata Flora menggema di kepalanya, meninggalkan rasa perih yang tak pernah ia kenal sebelumnya. “Ada apa denganku?” gumamnya lirih. “Mengapa aku merasa tak menginginkan perceraian ini? Bukankah ini yang selalu kuinginkan?” Tangannya menekan dadanya sendiri. “Tidak,” bisiknya, berusaha meyakinkan diri. “Aku memang menginginkan ini.” Namun hatinya menolak keras kebohongan itu. Vincent meraih tas kerjanya lalu berlari menuruni tangga menuju lantai dasar. Entah mengapa, dadanya terasa gelisah. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk kembali melihat wajah sang istri wajah yang selama ini ia abaikan, ia singkirkan, ia jadikan sekadar pajangan di rumahnya sendiri. Namun sesampainya di bawah, ruang makan tampak lengang. Tak ada sosok Flora yang biasanya sibuk mondar-mandir menyiapkan sarapan untuknya, memastikan segalanya tersaji rapi sebelum ia berangkat bekerja. Perasaan asing menyelinap di d**a Vincent. “Bi, istriku mana?” tanya Vincent pada salah satu pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Sang pelayan tampak tertegun. Sejak pernikahan Vincent dan Flora, baru kali inilah Vincent menyebut nama Flora dengan panggilan istri. Ia sampai lupa untuk segera menjawab. “Bi?” Suara Vincent kembali terdengar, sedikit meninggi. “Kenapa bengong?” “Oh—maaf, Tuan,” jawab pelayan itu tergesa. “Nyonya Flora pamit keluar sebentar.” Alis Vincent berkerut. “Dia tidak bilang mau ke mana?” “Tidak, Tuan. Nyonya hanya mengatakan ingin keluar sebentar. Sebelum pergi, beliau meminta saya menyiapkan sarapan untuk Tuan.” Vincent terdiam. Biasanya, Flora sendirilah yang menyiapkan sarapannya. Ia tak pernah absen, meski sering kali sarapan itu tak pernah benar-benar ia sentuh. Namun pagi ini, segalanya terasa berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu asing. Ada keinginan dalam dirinya untuk bertanya lebih jauh ke mana Flora pergi, mengapa sikapnya berubah, mengapa rumah ini terasa kosong meski ia tidak pernah benar-benar sendiri sebelumnya. Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya bergema di kepalanya, tanpa pernah terucap. Vincent seolah lupa pada sikap dingin dan kejam yang selama ini ia tunjukkan kepada sang istri. Tanpa berkata apa-apa lagi, Vincent melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Sarapan yang tersaji rapi di meja dibiarkan begitu saja, tak tersentuh, seolah mencerminkan hatinya yang mulai terusik namun masih enggan mengakuinya. **""**""** Sementara itu, Flora berada di kediaman keluarga Alexander. Tubuhnya terguncang oleh isak yang tak lagi bisa ia tahan. Ia duduk di hadapan Nyonya Meila Alexander, wajahnya tertunduk, bahunya naik turun menahan sesak yang menekan dadanya. “Hiks … hiks … aku sudah tidak tahan lagi, Ma,” ucap Flora dengan suara parau. “Aku benar-benar sudah tidak kuat bertahan dengan Vincent.” Tangisnya pecah, membuat hati siapa pun yang mendengarnya terasa teriris. Nyonya Meila menatap Flora dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Tangannya terulur, merengkuh pundak menantunya itu dengan penuh kasih. Di sisi lain, Jobart Alexander ayah Vincent mengamati pemandangan itu dalam diam yang berat. Meila menoleh ke arah suaminya, seolah meminta kekuatan. Jobart menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara, suaranya terdengar tegas, namun sarat kekecewaan. “Kalau memang itu sudah menjadi keputusan Flora,” katanya perlahan, “apa boleh buat. Dari dulu Vincent memang keras kepala. Kami semua tahu itu.” Kalimat itu terasa seperti pengakuan pahit seorang ayah yang sadar telah gagal mengendalikan anaknya sendiri. Meila menggenggam tangan Flora lebih erat. Air mata akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. “Maafkan Mama, sayang,” ucapnya lirih. “Mama merasa gagal. Mama tidak berhasil mendidik Vincent menjadi suami yang pantas untukmu.” Nada sesal terdengar jelas di suaranya. Bagi Meila, Flora bukan sekadar menantu ia telah menganggap gadis itu seperti anak kandungnya sendiri. Flora menggeleng cepat, meski air matanya terus mengalir. “Mama tidak salah apa-apa,” katanya sambil mengusap wajahnya sendiri. “Ini semua pilihanku. Aku yang memilih mencintai Vincent, aku yang memaksakan pernikahan ini … dan sekarang, aku juga yang memilih menyerah.” Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menguatkan diri. “Aku sudah berusaha sekuat tenaga, Ma. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam pernikahan yang hanya menyisakan luka.” Meila memeluk Flora erat. Dalam pelukan itu, Flora akhirnya membiarkan tangisnya tumpah tanpa ditahan lagi tangis seorang perempuan yang telah memberikan seluruh cintanya, namun pulang dengan hati yang remuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN