Bab-4 Menghilang

1093 Kata
Vincent terduduk kaku di ruang kerjanya. Tumpukan berkas di atas meja sama sekali tak disentuh. Tangannya memijat pelipis, sementara satu nama terus berputar di kepalanya Flora. “Astaga … ada apa denganku?” gumamnya frustrasi. “Kenapa aku harus memikirkan wanita itu?” Ia menghela napas kasar, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. “Bukankah seharusnya ini hal baik? Dia yang meminta bercerai. Harusnya aku senang, harusnya aku langsung menyetujuinya. Tapi kenapa—” “Argh!” Vincent menggeram pelan, jemarinya mencengkeram rambutnya sendiri. Ceklek. Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan. Vincent mengangkat kepala dengan tatapan tak suka. Namun ekspresinya langsung berubah saat melihat sosok yang masuk. Jobart Alexander. Langkah sang ayah mantap, wajahnya dingin, tatapannya tajam—tatapan yang sejak kecil selalu membuat Vincent tak berkutik. “Papa …” gumam Vincent pelan. “Flora datang ke rumah,” ujar Jobart tanpa basa-basi. Suaranya datar, tetapi menusuk. “Dia ingin bercerai darimu. Sekarang dia hanya menunggu keputusanmu.” Vincent menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak. Selama ini, setiap kali ia mengucapkan kata cerai, Flora akan menangis dan mengadu pada kedua orang tuanya. Dan seperti biasa, ia yang berakhir dimarahi. Namun kali ini berbeda. Flora datang sendiri tanpa tangisan tanpa paksaan. Itu berarti satu hal Flora benar benar serius. “Pa …” suara Vincent terdengar lirih. “Cepat beri keputusanmu,” potong Jobart dingin. “Jangan biarkan dia terus bertahan dalam siksaan pernikahan yang kamu ciptakan sendiri.” “Papa, aku belum bisa memberi keputusan sekarang,” ujar Vincent akhirnya. “Beri aku waktu … aku perlu berpikir.” Jobart tertawa kecil, tanpa sedikit pun kehangatan. “Waktu untuk berpikir, katamu?” Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Vincent. “Untuk apa kamu berpikir? Bukankah selama ini kamu sudah memikirkannya? Bercerai dari Flora adalah keinginanmu. Menikahi wanita jal*Ng seperti Jessica adalah impianmu.” “Papa, Jessica bukan wanita seperti itu,” Vincent membela, meski suaranya tak sekuat keyakinannya. Jobart menatapnya lama, penuh penilaian. “Terus saja membelanya. Tapi ingat ucapanku, Vincent,” katanya pelan namun tajam. “Ketika kebusukan Jessica terbongkar, kehancuranmu akan kembali menghantuimu. Dan penyesalan itu … tak akan pernah berakhir kecuali jika Flora masih mau kembali kepadamu.” Deg. Jantung Vincent berdebar keras. Ada rasa takut yang tiba-tiba merayap, rasa kehilangan yang belum sempat ia pahami. Bayangan Flora senyumnya, air matanya, kesabarannya menyeruak begitu saja. Namun egonya lebih cepat berbicara. Meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa ia tidak membutuhkan Flora. Jobart berbalik, lalu melangkah pergi dengan langkah tegas, meninggalkan Vincent seorang diri di ruangan itu. Sunyi. Vincent terduduk diam, pikirannya kacau. Hatinya dan egonya terus berdebat—satu ingin mempertahankan, satu lagi bersikeras melepaskan. Dan untuk pertama kalinya, Vincent Alexander merasa takut pada pilihannya sendiri. ***''**''*** Sore itu, Flora kembali bertemu dengan Albert, adik iparnya. Mereka berjalan berdampingan di taman kecil yang terletak di belakang kediaman keluarga Alexander. Angin sore berembus pelan, tetapi suasana hati Flora terasa jauh dari kata tenang. “Bagaimana?” tanya Albert akhirnya memecah keheningan. “Apa Vincent sudah memberikan keputusannya?” “Belum,” jawab Flora santai, meski senyum di bibirnya terasa hambar. “Bahkan sudah dua hari ini dia tidak pulang ke rumah.” Albert menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut terkejut. “Benarkah?” Flora mengangguk pelan. “Kau tidak mencoba menghubunginya? Atau mendatangi kantornya?” tanya Albert lagi, nada suaranya terdengar hati-hati. Flora menggeleng. “Aku tidak berani,” ucapnya lirih. “Dulu aku pernah mendatangi kantornya. Dan apa yang kulihat saat itu … sangat memuakkan.” Albert menatapnya penuh perhatian. “Apa yang kau lihat?” Flora menarik napas dalam-dalam, seolah harus mengumpulkan sisa kekuatan untuk mengingat kembali kejadian itu. “Aku melihat Vincent memangku seorang wanita,” ucapnya perlahan. “Wanita itu cantik, seksi, dan terlihat begitu manja. Di sanalah aku pertama kali melihat Vincent tersenyum senyum yang benar-benar tulus. Tawanya keras, lepas. Ia tampak sangat bahagia bersama wanita itu.” Langkah mereka kembali beriringan. Albert tak mengatakan apa pun, hanya menatap Flora yang wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya pernah dihancurkan berkali-kali. “Albert,” ujar Flora tiba-tiba, memecah keheningan. “Apa Vincent tidak pernah marah jika melihat atau mengetahui kita sering berjalan berdua seperti ini?” Albert tersenyum pahit. “Tidak. Dia tidak pernah marah.” Flora terkekeh pelan, tawa yang terdengar kosong. “Bahkan dia sendiri pernah mengatakan padaku,” lanjutnya tenang, “bahwa sekalipun aku menjual diri, dia tidak akan pernah peduli. Karena baginya, aku memang tidak pernah berarti apa-apa.” Albert berhenti melangkah. “Itu … sangat menyakitkan,” katanya jujur. “Tentu saja menyakitkan,” sahut Flora sambil tersenyum getir. “Sangat menyakitkan.” Ia menatap lurus ke depan, matanya menerawang. “Tapi begitulah cinta. Cinta benar-benar bisa membodohi korbannya. Karena cinta, aku menutup mata berpura-pura tidak melihat semua luka yang Vincent berikan padaku.” Flora berhenti, menoleh ke arah Albert. “Tapi sekarang aku menyerah,” ucapnya mantap. “Aku lelah menjadi wanita yang terus merendahkan diri di hadapan suamiku sendiri. Mulai sekarang, aku akan berhenti mencintai dengan cara yang menyakitiku.” **""***""** Dua hari … tiga hari … satu minggu … bahkan dua minggu. Vincent menghilang tanpa kabar. Entah di mana keberadaannya, tidak ada yang mengetahui. Flora pun mulai mengambil keputusan tanpa menunggu campur tangan siapa pun. Ia mulai mengumpulkan semua berkas penting yang diperlukan untuk diserahkan kepada Albert sebagai persyaratan pengajuan perceraian. “Apa kau sudah benar-benar memikirkannya?” tanya Albert, menatap serius. “Sudah,” jawab Flora tegas. “Vincent tidak pernah kembali. Itu artinya dia tak berniat ikut campur dengan perceraian ini.” Albert menatapnya sejenak, kemudian mencoba memberi perspektif lain. “Mungkin saja dia sedang memikirkan hubungan kalian … mungkin dia tidak ingin bercerai darimu?” Flora tersenyum tipis, lalu menunduk sambil menyusun berkasnya. “Apapun itu, aku akan tetap bercerai. Mustahil Vincent tidak ingin perceraian ini. Justru perceraian ini akan menjadi awal dari kebahagiaannya,” katanya dengan nada datar, seolah menutup lembaran lama. Albert mengangguk. Ia mulai menyusun berkas tersebut ke dalam tas kerjanya. “Baiklah. Aku akan mendaftarkan pengajuan perceraian kalian. Nanti aku akan kembali dan menyerahkan surat panggilan dari pengadilan,” ujarnya sambil memberi senyum hangat, kemudian pamit. “Ah … iya. Terima kasih banyak atas bantuanmu, Albert,” sahut Flora. Albert tersenyum lagi, menepuk bahu Flora sebentar. “Aku akan selalu ada untukmu,” ujarnya sebelum meninggalkan ruangan. Flora menghela napas panjang, menatap jendela yang menghadap taman. “Sebenci itukah kamu pada diriku sendiri?” gumamnya lirih. “Vincent … semoga setelah ini kita tidak pernah bertemu lagi, sampai rasa cinta ini benar-benar hilang dari hatiku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN