Bukan bentuk kalimatnya yang menenangkan, tetapi caranya menyampaikan dan mengajariku bagaimana kenyamanan itu ada. -Ladisya- ¶¶¶ Harapan untuk tidur nyenyak itu lenyap, enyah, hilang atau bahkan musnah. Disya menggigit kuat bantalnya hingga sarung bantal itu koyak. Memalukan mengingat bagaimana cerdasnya seorang Disya yang terlebih dulu menarik tengkuk Algi hingga akhirnya mereka ... "Tai, tai, taiiii!!" Disya meraung. Menampar pipinya sampai bewarna merah padam. "Pasti dia mikirnya gue murahan! Kok gue bisa sebodoh itu, astaga!" Selama hidupnya, mana pernah Disya memusingkan perkataan orang lain, pun menggubris penilaian manusia di luar sana. Lalu tiba-tiba Disya ingin mati daripada memperoleh cap murahan dari Algi. Geram sekali melihat air di gelasnya habis, karena sedari tadi Dis

