Episode 5

1154 Kata
Selepas berbincang sejenak dengan asistennya itu, kini Lavina bergegas masuk kedalam rumah. Begitu sampai pada ruang tamu, dia melihat sang Ayah yang Bernama Mathias Reyan sedang berbincang via telephone di teras samping tepatnya berada di halaman tengah menghadap ke area taman. 'Semoga papa gak melihatku!' berharap lolos dari perhatian sang Ayah seraya melangkah dengan cara mengendap-endap bak maling yang takut keberadaannya di ketahui. Pertama-tama dia lepaskan sejenak sepatunya, kemudian melangkah menuju ruang kamarnya yang terletak di lantai atas. Namun, barusaja 5 langkah kakinya berpijak pada anak tangga, sontak terhenti kala terdengar suara cukup nyaring di telinga yang membuatnya terkejut. "Darimana saja kau Vina, Berhenti sebentar!" Ucap sang ayah sudah berada tak jauh dari anak tangga. Lavina tidak mengetahui itu lantaran fokus memijakkan kaki tanpa melihat ke arah Mathias lagi. "Eh, Papa sudah pulang …" Jawab-nya cengegesan tampak salah tingkah. "Pak Anton memulangkan Mobil udah dari 2 jam yang lalu. Yang papa tanyakan darimana saja kamu, Selama hampir 2 jam ini, hah!" Tanya sang ayah ekspresinya tampak marah. Lavina bungkam lantaran belum memiliki antisipasi akan jawaban yang tepat dari pertanyaan ayahnya tersebut, tetapi disela-sela diamnya ia pun merasa sedikit lega. 'Ah, syukurlah papa gak lihat aku bareng Elga tadi, hihihi' "Vina, Apa kamu tidak dengar pertanyaan papa? Nomor kamu tak bisa dihubungi pula, darimana saja kamu tadi, Vin!" Ulang Mathias mendapati sang anak masih diam saja, nada bicara cukup lantang kian memekik telinga Lavina. "Em, Anu … itu Pa, Vina tadi habis belajar kelompok dirumah teman. Maaf handphone Vina kehabisan batrai pa, tadi Vina gak terlalu memperhatiin hape," Jawabnya terpaksa berbohong. __ Ya, Lavina terpaksa berbohong lantaran ia memang takut terhadap Mathias Reyan itu selaku Ayah kandung yang masuk dalam kategori keras dalam mendidik Anak. Teruntuk Mathias sendiri melakukan hal demikian semata-mata hanya karena Lavina anak satu-satunya yang dia miliki. Tak heran segala apa yang ada didalam diri Lavina segalanya atas aturannya. Lain daripada itu, Mathias memang tipikal orang yang memiliki ambisi yang cukup tinggi cenderung fantastis sehingga walau hanya memiliki satu orang anak dan jua bukan berjenis kelamin laki-laki tetap tak dibedakan dalam ambisi tersebut. Yakni, menginginkan Lavina dapat tumbuh menjadi sesuai yang ia inginkan. Mulai dari disiplin dalam segala hal, memiliki etika sosial yang baik, Prestasi yang tinggi serta tidak boros. Lavina dibatasi dalam segala-galanya. Mulai dari pergaulan hingga uang jajan. Yang mana semua itu membuat hidup Lavina tertekan seputar kehidupan keluarga-bagai katak didalam tempurung. Tidak bisa bebas seperti anak-anak remaja pada umumnya, tidak bebas melakukan apapun sesuai yang dia inginkan. Namun, inilah salahsatu perbedaan seorang Lavina dengan nama lengkap Lavina Zebakia Reyana dari gadis remaja pada umumnya, meskipun hidupnya teramat dibatasi oleh orangtuanya, pemikirannya masih sangatlah netral tidak terkukuh dalam pemikiran egois. Ia dapat menyaring dengan baik segala peraturan yang ayahnya tetapkan itu, menjalaninya seolah tidak ada perbedaan dan beban apapun. "Yasudah cepat ganti dulu bajumu itu, lalu segera makan siangmu. Halah! Mana pula jam segini makan siang sudah lewat dari 2 jam yang lalu. Yasudah cepatlah kau berbenah Vin." Pungkas Mathias kala sudah mendengar alasan putri tunggalnya itu. "Iya pa," Lavina mengangguk lantas melanjutkan langkahnya kembali menuju ke ruang kamarnya. __ Setelah sampai di kamarnya, dia lepaskan tas penampung buku-bukunya di atas ranjang kemudian, disusul merebahkan badan. Bruuk! Dia raih tas itu, kemudian dia jadikan bantal meski ada banyak bantal maupun aneka boneka koleksi penghias ruang kamarnya. "Huuff … sungguh hari yang sangat melelahkan." Gumamnya seraya menggeliatkan badan. Uuhhhggh! Sekilas terngiang akan kejadian yang usai dijalani saat bersama orang yang baru saja ia kenali tadi (Elga) tersenyumlah dirinya. Lantaran hal tersebut untuk kali pertamanya dalam hidupnya bisa bersama seorang siswa dalam waktu yang cukup lama. Tentu, semua dikarenakan Lavina memang seorang gadis berparas anggun, selama usia 16 tahun ini masih belum mengerti tentang suatu hubungan kekasih. Bukan karena tidak ada yang menyukainya justru malah sebaliknya, sangatlah banyak siswa yang menyukainya namun ia tidak pernah memiliki ketertarikan akan hal itu. Tidak lebih dan tidak kurang baginya usia dia masih terlampau kecil untuk mengerti hal asmara. Menyukai insan saat usia remaja itu wajar karena dia gadis Normal sesuai Hormon memuncak dalam diri remaja. Tetapi, adanya tekanan dari orangtua yang mengharuskannya dapat mencapai prestasi tinggi dalam pendidikannya, sehingga tak ada waktu baginya untuk memikirkan seputar asmara. Usai terngiang saat bersama dengan pemuda tadi, lantas terngiang jua saat kejadian dirinya di bawah pohon bringin itu. Semasih imajinasi melayang menuju kepada apa yang terlihat dalam pikirannya tadi, Sensasi aneh cenderung tidak masuk akal logika tiba-tiba terulang lagi. Yakni, rasa yang dia rasakan semasih dibawah pohon Beringin di sekolah tadi, kini terasa lagi. Nguingggg!!!!!! Suara dengingan di telinga itu sangat kuat, tak ayal membuatnya memejam, meringis, kemudian Teriak! "Arrgghhh!" Segera bangkit dari atas ranjang kemudian menutupi kedua telinga dengan telapak tangan. Lantas, begitu tubuh sudah turun dari atas ranjang, tiba-tiba Suara dengingan keras yang bagaikan hendak menghancurkan gendang telinga itu tiba-tiba sirna, bahkan terasa sunyi dan senyap! "Apa ini!" Tak henti dia berkutat lantaran hal tersebut sangatlah aneh. Terdiam sejenak sembari melepaskan perlahan kedua tangan dari telinganya. Kedua mata tak lepas menatap ranjang yang biasanya nyaman saat dia terlelap. "Mimpi atau apa sebenarnya ini?" sangat tak mempercayai keganjilan yang sedang terjadi. Tetapi, segera dia alihkan lantaran enggan banyak pikir panjang, beranjak berbenah diri salahsatunya berganti pakaian. Dia masuk dalam kategori gadis yang tidak penakut dan nyaris tidak begitu mempercayai hal-hal yang berbau mistis nyaris setara dengan ayah-nya. Sehingga meski keganjilan itu sangat nyata, dapat dengan mudah dia alihkan. "Ah, apa pula yang kupikirkan. Mungkin ... aku hanya kecapean. Hufff ..." Selepas pakaian sekolah telah digantinya dengan busana santai, beranjak turun ke lantai bawah. Setibanya, di lanjutkannya ke arah meja makan. Walau sesungguhnya dia sudah makan siang bersama Elga tadi tetap dia lakukan (Makan siang lagi) hanya untuk formalitas belaka didepan sang ayah yang kini tampak masih berdiri di tempat tadi. Dia memang menata piring dan sendok makan layaknya sedang makan, tetapi sesungguhnya dia hanya disibukkan memilah dan memilih makanan tanpa ada sesuap pun yang masuk ke mulutnya. "Huh, bisa mati kegemukan kalo aku makan lagi, diet susah payah suruh makan melulu!" Menggerutu, lantas akhirnya dia tetap makan sesuai menu yang selama ini dia makan, yakni makanan yang berasal dari segala tumbuhan (Vegetarian) ___ Tak lama selepas dia mulai bersantap, terdengar suara bel rumah berbunyi, Ting .. tong .. ting .. tong .. Tampak sang asisten bergegas membukakan pintu rumah, ternyata tamu tersebut ialah tantenya bernama Almira sang adik dari Ibunda Lavina yang bernama Airha. "Hey Vin, Loh … kok jam segini kamu baru makan, Itu makan siang atau makan sore?" Sapa Almira semasih baru saja masuk lantaran arsitektur bangunan rumah Mathias itu memang di dekorasi seperti itu. Almira beranjak ke arah ruang tengah untuk menaruh tasnya di Kursi Sofa terlebih dahulu, lantas mendekat ke arah Lavina di meja makan. "Eh, Tante …" Sapa Lavina seraya berdiri hendak berjabat tangan. Selama berjabat tangan Lavina selalu mencium punggung tangan dari orang yang berjabat tangan dengannya termasuk seperti Almira ini. "Loh, tante datang sendiri? Gak bareng Om Tan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN