Episode 6

1092 Kata
"Enggak Vin, Om masih belum pulang kantor jam segini, oh iya … dimana Mama dan papamu?" Tanya Almira seraya menoleh keseluruh ruangan, tampak sepi. "Kalau gak salah hari ini Mama lagi pergi arisan deh Tan, kalau Papa … tadi sih masih ada dirumah," menoleh ke arah tadi, ternyata ayahnya sudah tak disana. "Em ... mungkin sedang di kamar, Tan. Tunggu sebentar ya" Lavina beranjak pergi dari meja makan, namun dihentikan langsung oleh Almira yang letak posisinya berdiri disebelahnya. "Tidak usah Vin, sebaiknya selesaikan dulu makanmu." Jawabnya seraya tersenyum nan menepuk lembut bahu keponakan semata wayangnya itu. Akhirnya Lavina menyelesaikan makan siangnya sejenak. Sementara Almira duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Ketika Lavina usai makan, lantas menghampiri Almira di kursi lanjut berbincang-bincang. Beberapa menit mereka saling berbincang, Lavina barulah menyadari sesuatu. "Oh iya, kok papa kenapa lama sekali gak keluar-keluar dari kamar ya? tunggu sebentar ya, Tan" beranjak berdiri dari kursi sofa hendak melangkah menuju kamar sang Ayah. Namun, barusaja tiga langkah kakinya berpijak langsung terhenti kala terdengar bel rumah berbunyi Ting … tong … ting … tong … Lavina hendak membukakan pintu itu secara langsung, namun bu Suliah sudah lebih dulu sampai di pintu. Begitu pintu sudah dibuka, sapa'an langsung terlontar dari mulut sang tamu itu yang tak lain ialah Airha (Ibunda Lavina) "Hey Mir, sudah lama kamu datang?" Ucap dia menyapa sang adik, seraya melangkah menuju ke sana. "Eh, hey kak. Belum lama kok, kakak udah selesai arisannya?" Jawab Almira menyambutnya dengan senyum hangat. "Udahlah, kalau belum selesai tentunya kakak belum pulang dong ..." Canda Airha. "Hehehe, iya juga ya" Tidak selang waktu lama, selama pintu rumah barusaja hendak di tutup kembali ada yang menyusul masuk, dialah Mathias. "Wah … kita Ada kedatangan tamu rupanya" Sapa dia selepas masuk. "Eh, loh Kak Math, darimana? Aku kira kakak dirumah loh, tadi Vina bilang kakak di rumah," Sapa balik Almira lekas menyambutnya dengan berjabat. "Tadi ada urusan di luar sebentar, oh iya kenapa meja kita masih kosong ini wah, wah, mana nih bibi kita, bi … bibi," Panggilnya pada sang asisten. Lantas Bu Suliah pun datang mendekat sehabis menutup pintu rumah. "Iya Tuan …" Jawabnya penuh sopan. "Buatkan minum untuk tamu kita Bi, jika ada cemilan apapun bawa semua kedepan ya …" Perintahnya. "Baik Tuan" "Walah Kak Mathias ni, seperti ada tamu istimewa saja. Jangan repot-repot kak" Basa-basi Almira seperti biasanya. ____ Ya, Lavina adalah putri semata wayang dan kesayangan diantara dua pasutri. Dahulu kala Mathias dan Airha tidak kunjung memiliki momongan hingga 10 Tahun. Bahkan Mathias sudah di Vonis mandul oleh dokter dan terdapat suatu penyakit pada Ovarium-Airha. Tidak hanya pasangan Mathias dan Airha saja, melainkan adik kandung Airha yang bernama Almira dengan suaminya bernama Moses tidak kunjung memiliki momongan. Lantas terdapat suatu keajaiban pada Airha, dia berhasil mengandung, Meski terdapat misteri saat dia mengandung Lavina, keluarga ini tak ada yang pernah membahas keganjilan yang tak masuk akal logika itu. Sejak Lavina kecil, dia sering di asuh oleh Almira, alih-alih untuk 'memancing' keturunan, tetapi hasilnya nihil. Hingga Lavina sudah tumbuh remaja, Almira dan Moses masih belum jua memiliki buah hati. Alhasil Lavina mereka anggap sebagai putrinya jua. ___ # Next Story Merasa tak nyaman baginya mendengarkan perbincangan para orangtua. Lavina lekas hengkang dari sana. "Tante, Vina tinggal ke kamar dulu ya Tan, mau mengerjakan PR" Pamitnya beranjak berdiri. "Oh, yasudah … semangat belajarnya ya sayang …" Jawab Almira penuh Cinta. Sesudah berpamitan lekas melangkah pergi dari sana menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Senja pun telah tiba, sudah terbiasa bagi mereka (Mathias, Airha dan Almira) kala jumpa pastilah berbincang nyaris tanpa jeda. Hingga Almira jua lupa untuk menoleh ke ponselnya, sebab ponsel terletak didalam tasnya tanpa dia buka sejak mulai berbincang dengan mereka berdua. Almira tidak mengetahui kala ponselnya terus bergetar, yakni panggilan telepon dari sang suami hingga berkali-kali. (ponselnya dalam Mode senyap) Ditengah asiknya saling canda dan tawa dalam setiap kata, terhenti sejenak kala terdengar bel rumah berbunyi. Ting … tong … ting … tong .. Mathias bergegas membukanya lantaran dia duduk diantara kursi sofa yang terletak paling dekat dengan pintu. "Loh, kamu rupanya Mos," sapa-nya tersenyum hangat begitu mengetahui sang tamu tersebut suami adik iparnya. "Iya nih Math," Balas Moses mengulur tangan-Berjabat. "Mari, mari," Ajak Mathias dengan berjuta keramahannya. "Loh, Mama disini juga ternyata" Ucap Moses begitu sang Istri tampak duduk di kursi sana. "Walah, Papa …" Balas Almira seraya meraih tas yang ia taruh sedikit jauh darinya itu. "Papa tadi menelpon mama rupanya ya, hehe maaf Pa, Mama gak lihat hape" Lanjutnya setelah sudah melihat Layar Telephone. "Iya, tadi papa nelpon rencana mau ngabarin mama kalau malam ini papa pulang telat karena mau mampir kesini, eh ternyata mama disini juga. Hehe" Balas Moses tersenyum nan menoleh antara Airha dan Mathias yang menyambutnya dengan senyuman jua. Akhirnya mereka pun lanjut berbincang-bincang. Berbincangan semula tiga orang kini menjadi empat orang maka nyaris tanpa jeda mereka lakukan, karenanya sudah sejak dulu kala hubungan antar keluarga ini sangatlah erat. "Oh iya, berhubung kita semua sedang berkumpul, gimana bila kita makan malam bersama-sama?" Ucap Airha di tengah-tengah perbincangan masih berlangsung. "Wah, benar juga itu Ma, gimana Mos, Mir?" Mathias menyambung kalimat Sang istri seraya menoleh ke arah mereka. Moses dan Almira saling mengangguk. "Boleh juga itu, kak." Jawab mereka. "Em … Kita mau makan dirumah atau ke restoran saja nih?" Airha menawarkan kepada mereka semua lantaran menyadari tidak memasak makanan hari ini. "Terserah kakak saja kak, apapun kita mah jadi. Hehe" Sambung Almira tersenyum hangat. "Em, kemarin saya pulang kerja sempat melihat ada sebuah restoran yang baru buka. Gimana bila kita coba berkunjung kesana?" Sambung Mathias. "Wah, benarkah pa? Boleh juga tuh kita cicipi menu di restoran itu, benar begitu bukan?" Airha menoleh pada Almira dan Moses. "Betul juga kak, sudah lapar juga aku. Mari kita kesana ajak Lavina sekalian kak" Sambung Almira. "Iya Mir, tunggu sebentar" Jawab Airha seraya menoleh ke arah dapur lantas berdiri sejenak. "Bi … bibi …" Panggilnya. "Iya nyonya …" Bu Suliah bergegas mendekat. "Tolong bibi panggilkan Vina di kamar ya … Bilang ke dia mau di ajak makan malam dan sekalian bilang ke dia segera beberes, sudah di tunggu kami ya," Perintahnya. "Baik Nyonya" Bu Suliah undur diri hendak melaksanakan perintah sang majikan. ___ Catatan pengarang: Hai, hai, Author menyapa kalian yang sudah membaca cerita ini. Sedikit memberitahukan bahwa Sebenarnya cerita ini adalah Karya pertama yang pernah saya buat sejak pertama saya menulis beberapa tahun yang lalu, tapi saya tarik dari seluruh PF karena tidak percaya diri, Hehehe. Maafkan apabila menemukan alur cerita yang rada' Berantakan ya ... Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN