Episode 7

1333 Kata
Begitu sang asisten menyampaikan pesan dari sang majikan pada Lavina, Semula Lavina tak ingin ikut lantaran enggan makan, tetapi demi menghargai Om dan tantenya, akhirnya dia pun menurutinya. Didalam perjalanan, Lavina masuk dalam satu kendaraan bersama kedua orang tuanya, sementara Moses dan Almira berbeda. Kedua pasutri itu berencana selepas makan malam langsung pulang. "Vin, kamu rencana nanti ingin makan apa?" Tanya Airha seraya menoleh ke kursi belakang tempat duduk Lavina. "Kita lihat menu yang ada disana nanti lah Ma, itu kan resto baru." Sambung Mathias. "Oh iya juga ya … Mama lupa, hehe" Airha terkekeh. "Halah … Mama masih muda sudah lupa. Tapi … anehnya setiap tanggal muda kenapa mama tidak pernah lupa ya …? ada apakah gerangan?" Canda Mathias-menyindir. "Kalau itu sudah paten Pa, tanggal muda mama tidak akan pernah lupa, hehe" Airha terkekeh, yang dimaksudkan dari tanggal muda tersebut ialah tanggal gajian sang suami. Sementara Lavina yang posisinya duduk di kursi belakang hanya tersenyum-senyum melihat kedua orangtuanya sedang bersendau gurau. Hingga tiba saatnya mereka sampai lantas turun di tempat parkir yang tersedia, kemudian bersama-sama masuk kedalam restoran tersebut. Mereka memilih meja nomor 104 yang posisinya di bagian pojok, lantas berbincang sejenak sebelum akhirnya pelayan restoran menghampirinya sembari membawa selembar kertas dan pena. "Permisi Tuan …" Ucap pelayan laki-laki itu penuh ramah lengkap menggunakan seragam khas restoran tersebut. Mereka memesan pesanan sesuai selera masing-masing. Namun, setelah keempat orangtua Lavina usai memesan pesanannya, Lavina sendiri malah masih diam saja, kepala menunduk-melihat ke arah telephone genggam di tangannya. "Vin …" panggil Airha. Lavina samasekali tidak menoleh. "Vina, kamu mau pesan apa sayang, cepatlah. Kasian abang-nya sudah menunggu" Sambung Almira. "Eh, iya Tan." Lavina lantas menutup telephone genggamnya sejenak. Dia belum menoleh pada Pelayan yang sedang menunggu dia memesan itu. "Aku pesan salad buah saja, Bang" Ucapnya perlahan menoleh pada pelayan tersebut. Maka ... 'Eh, si-si di-dia … ? ' Batinnya berkata, kedua mata menatap fisik pelayan pria itu, begitupun dengan pelayan itu tak lain dialah Elga. Semula Elga fokus layaknya menghadapi pelanggan, kini menjadi salah tingkah kala mengetahui tamu restoran tersebut seorang gadis yang baru dikenalinya tadi siang. Meski salah tingkah melihat Lavina disana, dia mampu bersikap profesional sebagaimana mestinya seorang pelayan. Selepas mencatat pesanan mereka, dia pun hengkang hendak melanjutkan kembali pekerjaannya. "Permisi … Mohon tunggu sebentar ya Tuan, Nyonya …" Pamitnya, di sambut senyum hangat oleh keluarga ini lantaran keluarga ini memang tipikal ramah tidak pandang bulu. Setelah Elga pergi, Lavina kembali melihat telephone genggamnya. "Vin, kamu jangan keseringan mainan handphone terus. Handphone itu bisa membuat kecanduan pemakainya dan menjadikan malas, paham kamu?" Celetuk Mathias-mengingatkan. "Iya Nak, benar kata papamu. Kurangi mainan handphone, karna handphone bisa mengganggu konsentrasimu belajar loh ..." Sambung Almira ikut andil dalam berbicara. 'Dih, siapa juga yang mainan hape mulu sih, dasar pada bawel, huh!' Batin Lavina menggerutu. "Iya Pa, Tan. Vina ngerti. Ini … Vina cuma lagi balas chat dari teman-teman Vina aja Pa, Penting." Jelasnya lantas kembali mengusap layar telephonenya lagi. "Memang sepenting apa chat dari temanmu itu Vin, bisa saja nanti kamu balas di rumah, bukan?" Sambung Airha. "Ini loh Ma … Vina lagi ngomongin acara sekolah yang akan diadakan waktu dekat ini." Jawabnya, lantas menaruh telephone genggamnya di atas meja. "Acara apa itu, Vin?" Tanya Almira. "Kemah, Tan." Jawabnya menoleh. "Wah, Mau ada acara kemah rupanya, dimana lokasi tempatmu berkemah nantinya Vin?" Tanya Moses. "Tentang itu … Vina juga kurang tau Om, besok kakak pembina yang akan memberitahukannya." Jawabnya lantas perbincangan terhenti sejenak kala pesanan mereka sudah siap. "Silakan Tuan, Nyonya …" Ucap pelayan tersebut masih orang yang sama (Elga) sembari meletakkan sajian di atas meja itu, ia tampak gerogi kala saling tatap dengan Lavina. "Terima kasih, Bang" Jawab mereka senyum hangat. Lantas usai menaruh sajian tersebut, hengkang lagi melanjutkan aktifitasnya. Keluarga ini pun lanjut santap malam bersama-sama sembari berbincang seperti biasanya. Sementara Lavina sendiri hanya mainan sendok garpu ke salad buah di mangkuknya lantaran sesungguhnya ia masih sangat kenyang akibat double makan siang, yakni makan bersama Elga sewaktu pulang sekolah maupun saat sudah di rumah. 'Makan mulu, makan mulu, lama-lama bisa mati kegendutan akuh, huh!' Akan tetapi mereka (Orangtua) tidak menyadarinya lantaran sedang asik berbincang-bincang. ____ #Tentang Elga Teruntuk Elga yang usianya masih sangat muda sudah bekerja, semua disebabkan oleh kurangnya ekonomi keluarga, Dirinya hanya hidup dengan orangtua tunggal (Ibu) sejak balita. Sang ayah telah meninggalkan ibunya (cerai) lantaran kesetiaan cinta yang tidak kokoh hingga Ayahnya tega menceraikan ibunya lantas menikah lagi dengan seorang janda muda sewaktu Elga masih berusia 2 tahun. Sementara untuk Sang ibu-nya Elga, tidak ingin menikah lagi lantaran trauma mendalam hingga dia hidup menjanda nan membesarkan Elga seorang diri. Mata pencaharian hanya sebatas berjualan kue dan makanan cepat saji lainnya, sementara Elga bekerja paruh waktu pada restoran tersebut untuk uang jajan nan sisanya untuk membantu sang ibu. Elga bekerja pada restoran tersebut mulai pukul 18:30 Pm sampai dengan pukul 22:00 pm. Pemilik restoran itu memiliki toleransi tinggi terhadap Elga lantaran mengerti tentang status Elga yang masih pelajar. Jarak tempuh antara rumah Elga dengan restoran tersebut tidak begitu jauh, yakni kurang lebih 2 km. Sementara jarak rumah Elga dengan perumahan tempat tinggal Lavina jua tidak begitu jauh, yakni hanya sekitar kurang lebih 4 Km. ___ #Next Story Santap malam sudah selesai sejak lama, tapi mereka tidak langsung pulang lantaran keasikan berbincang nyaris pukul 22:00 pm. Setelah menyadarinya mereka akhirnya menyudahi perbincangan itu hendak pulang kerumah masing-masing. "Yasudah Math, kami langsung pulang ya …" Pamit Moses kala mereka sudah berada di lokasi parkir. "Baik Mos, Hati-hati dijalan dan sampai berjumpa lagi ya" Jawab Mathias tak ayal saling berjabat. "Tante pulang dulu ya Lavina sayang … Ingat-ingat, kamu harus giat lagi belajarnya dan semangat untuk acara kemah besok ya …" Sambung Almira sebelum masuk kedalam kendarannya sembari melambaikan tangan penuh senyum kehangatan. "Iya tante. Tante dan Om hati-hati di jalan juga ya .." Lavina balas lambaian tangan. Lantas sudah saling salam pisah mereka jua lanjut masuk kedalam kendaraan sebelum akhirnya bergegas pulang. Didalam perjalanan Airha dan Mathias masih saling berbincang. Sementara Lavina diam sembari melamun menatap rintikan hujan pada jendela kaca. Kebetulan, jam itu gerimis datang mulai berjatuhan. ____ Tepat pukul 23:00 pm Mereka sudah sampai pada kediamannya. Mathias membuka sendiri pintu rumahnya, lantaran sebelumnya memang sudah berpesan pada asisten rumahtangga bahwa mereka sampai dirumah sudah cukup larut malam. "Vin, kamu secepatnya istirahat supaya besok bangun sekolah tidak kesiangan. Jangan banyak main handphone, ya." Ucap Airha begitu mereka sudah masuk kedalam rumah. "Baik Ma, Pa. Vina masuk kamar dulu ya" Jawab Lavina selepas menaruh sendal pada tempatnya lantas dilanjutkan kakinya berpijak menaiki anak tangga. Sesampainya didalam kamarnya, dia hela napas dalam-dalam lantas menjatuhkan badannya di atas kasur. Brrek! "Huuff …" helaan napas itu pertanda lega namun sekejap sirna kala teringat sesuatu. "Astaga, Matilah aku!" Teringat dirinya belum mengerjakan tugas sekolah lantaran sore tadi ketiduran. Tidak ada waktu baginya untuk berganti pakaian sepulang dari restoran tadi yakni memakai celana jeans Navy dan kaos oblong hitam, dia langsung mengerjakan PR. Satu jam lamanya, kini sudah menempati pukul 00:00. 'Correction Tape mana oi, Tipe-x Oiiiiiihhh! Manaaa!' Dia teramat tergesa-gesa saat mengerjakannya, hingga apa yang dia tulis selalu saja salah. Dia raih tas penampung bukunya kemudian mengorek-ngorek isinya mencari keberadaan benda itu. "Eh, apaan ni?" saat tangan memegang benda kecil didalam tas itu. "Alamak, sampah kebawa dalem tas pula," Menyadari itulah daun beringin yang sempat dia pakai untuk menyapu darah di lututnya saat jatuh di sekolah, tak sengaja terbawa masuk kedalam tasnya. Lantas, semasih daun beringin itu di pegang, tiba-tiba sensasi aneh itu muncul lagi. Nguiinggggg! "Aarrrgghhh!" Telinganya berdenging hebat, tak kuasa dia menahannya, beranjak berdiri sembari mencengkram daun beringin itu. Semula hanya sensasi dengingan di telinga, kini dia merasakan sensasi panas yang tak sewajarnya pada seluruh anggota tubuhnya. "Ah, apa ini. Kenapa tubuhku panas sekali, Arrghhh, Mama, papa Aahhhh panas, Aargghh panas! Tolong panaaaasss!!" Lima, sepuluh, lima belas detik sensasi itu semakin menjadi-jadi membuatnya lepas kendali, beranjak lari menuju kamar mandi, kemudian langsung menceburkan seluruh badannya didalam Bathtub yang kebetulan masih terisi air penuh. Byurrrr! Lantas ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN