Didalam alam bawah sadar Lavina terlintas cahaya yang dipenuhi oleh berbagai aneka warna-warna, serta gemerlap cahaya itu bagaikan lampu-lampu yang menghiasi indah di taman kota.
Tubuh terasa ringan bagaikan melayang-layang di ruang angkasa, tetapi hanya sekejap dia merasakannya kini beralih dengan hal yang tidak semestinya. Pikiran melayang tak tahu kemana bahkan dia tak mengingat dimanakah posisi tubuhnya.
Perlahan namun pasti, dia merasakan sesak didadanya lantaran udara semakin tidak didapatinya, gemerlapnya warna-warna yang sebelumnya tampak dimatanya kini perlahan sirna, beralih warna hanyalah tinggal satu warna saja.
Rasa sesak didada semakin tak tertahankan, bahkan terlampau banyak sesuatu yang tak sengaja dia telan.
Ya, Ya, ya, akhirnya diri menyadari tubuhnya kini berada didalam air, kedua netra tak mampu memandang jernih sesuatu yang ada di depan. Rasa sesak semakin tak tertahankan lekaslah ia ayunkan kedua tangannya menuju ke permukaan.
Lantas ...
"Uhuk, uhuk, uhuk," Dia muntahkan air yang telah banyak dia telan selama badan masih didalam air itu.
Kedua netra melihat keseluruh penjuru arah, membuatnya diam nan tercengang.
Membelalak amat terkejut, kala menyadari kini posisi dia berada ditengah-tengah sebuah telaga yang mana disetiap pinggirnya ditumbuhi oleh pohon besar jenis beringin.
"In-ini .... Ini dimana ini?" Segera berenang ketepian, setelahnya beranjak ke daratan. Busana basah kuyup tak ia pedulikan kini yang ia rasakan benar-benar membuatnya bimbang.
Sepanjang kedua matanya memandang hanyalah hutan belantara yang tertutup kabut tak seberapa tebal, tampak masih sangat perawan. Terdengar suara berbagaimacam binatang liar dari arah kejauhan dan kemercik air dari telaga yang tersapu udara kian membuatnya terpikir,
'Dimanakah ini?"
Plak!
Dia tampar pipinya sendiri supaya menyadarkan dia akan hal yang amat ganjil ini.
"Awwh, duh sakit ..." Dipikirnya sedang bermimpi, tetapi apa yang dia alami sangatlah nyata.
Ia tidak bisa berpikir lagi selain melanjutkan langkahnya menyusuri semak-semak belukar penuh tumbuhan liar lebih tinggi dari badannya.
Tanpa dia ketahui, sesungguhnya Lavina sedang terlempar ke dunia lain, yakni dunia antara ada dan tiada.
____
Hingga beberapa saat kemudian, langkah kakinya berpijak sampai di suatu tempat. Terlihat oleh matanya beberapa insan laki-laki dan perempuan sedang berlalu lalang. Tetapi, ada hal yang membuatnya teramat heran.
Mulai dari busana yang dikenakan pada insan disana adalah busana khas jaman kuno/jaman perang. Serta matrial bagunan pada hunian yang didapatinya mayoritas menggunakan bambu yang di anyam maupun kayu, serta beratap dari daun ilalang kering maupun dari jerami sangat berbalik dari kehidupan aslinya (Zaman Modern)
Semasih dia teruskan langkahnya, setiap pasang mata insan yang melihatnya tampak sangat curiga. Lavina jua bagaikan orang ling-lung semasih jalan sendirian diantara para insan itu.
Lantas, langkah kakinya menuntun dirinya tiba di lokasi yang lebih ramai dari sebelumnya, tampak seperti tempat jual-beli.
Ya, sebut saja tampak seperti pasar. Tetapi tak seperti yang dia lihat di kehidupan modern, lantaran disana tidak memakai uang untuk transaksi, melainkan masih menggunakan barter barang. Jikapun pakai koin, perak, maupun serpihan emas hanya khusus di pakai oleh orang-orang kerajaan.
Segala hal yang ada disana membuatnya sangat kebingungan, apalagi cara pandang setiap mata insan ke arahnya tampak sangat curiga, bahkan mereka-mereka tak luput saling berbisik-bisik.
Akhirnya, ia memberanikan diri mendekat ke suatu kios penjual gerabah hendak bertanya,
"Excuse me ..." Dia sengajakan pakai bahasa internasional antisipasi apabila orang itu tidak tahu jika ia pakai bahasa Nasional. Lantaran sejak masuk ke sana dia hanya mendengar mereka menggunakan suatu bahasa daerah yang tidak ia ketahui.
Tetapi, malah membuat penjaga Kios gerabah seorang bapak-bapak paruh baya itu memandang penuh curiga padanya.
Akhirnya ia mengulang menggunakan bahasa Nasional "Permisi Pak, numpang tanya, ini di daerah mana ya?"
Meski sudah pakai bahasa Nasional, tetapi cara pandang penjual itu semakin tampak curiga. Bukannya menjawab pertanyaan darinya, si penjual malah melangkah pergi menghindarinya.
"Loh, loh, loh, ditanya kok malah pergi sih, bukannya ngejawab? dan ... daritadi kenapa orang-orang pada ngeliatin aku kayak ada yang aneh ya?"
"Pak, hei pak!"
Bingung dan bingung, itulah yang sedang Lavina rasakan saat ini, semula dia hendak bergeser tempat untuk bertanya pada orang lain.
Namun, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suatu hal. Yakni, banyak insan berombongan yang mendekatnya, lantas mengelilingi tubuhnya bagaikan sedang menjaring seekor babi hutan.
" ..." ia Diam mematung, sementara para insan itu saling berbicara.
"Sepertinya benar, gadis ini adalah mahluk dari Kaharian Ang Demonyo!" - Warga A
Lavina tercengang, ternyata bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa yang ia gunakan juga. Tetapi, percakapan mereka dia masih tidak mengerti apa maksudnya.
"Benar, itu benar, Lihatlah pakaian gadis ini, terlihat sangat aneh!" Warga lain menyahut.
"Sebaiknya cepat kita bawa mahluk Iblis ini ke baginda Raja!"
"Benar, segera bawa! jangan sampai warga desa kita menjadi korban lagi oleh liciknya para Iblis dari Kaharian ang demonyo itu!"
"Hei, hei, Demonyo-demonyo apaan maksud kalian orang? hei!" Ronta Lavina saat lengannya sudah di cengkram oleh insan dominan kaum adam.
"Diam kau wanita iblis!" Bentak mereka tak menggubris apa yang Lavina katakan itu.
"Mahluk iblis apaan sih, gue manusia woi! Gua juga makan nasi dan lauk pauk! lepasin tangan gue Woi, sakit akh lepasin!"
Meski sekuat tenaga ia meronta, para mereka samasekali tidak menggubrisnya. Apalagi ia seorang wanita teramat sulit melepaskan diri.
"Diam kau," Para insan itu Terus-menerus menyeretnya bagaikan menyeret seekor domba.
____
Semasih di perjalanan menuju pusat kerajaan yang di sebut kerajaan MAUNLAD, mereka melintasi berbagai medan rimba yang masih sangat perawan. Lavina terus-menerus di seret oleh mereka, tak luput sebagian pria itu ada yang menampar pipinya.
Plak!
"Awh, sakit woi! kasar amat jadi cowok!"
Semua itu terjadi lantaran sudah seringkali mahluk dari Kaharian ang demonyo masuk ke desa mereka untuk memangsa berupa organ dalam manusia, yakni jantung. Mereka melihat pakaian aneh yang dipakai oleh Lavina, langsung berkesimpulan Lavina adalah jelmaan mahluk dari Kaharian ang Demonyo itu.
Semasih di tengah rimba, langkah mereka terhenti saat ada seorang laki-laki berdiri membelakangi mereka yang menghalangi jalan setapak itu.
"Permisi kisanak, minggirlah kami akan lewat." Ucap para warga.
Tetapi, laki-laki itu tak meresponnya.
"Hei kisanak, apakah engkau dengar suara kami? Minggirlah kami akan lewat." Ulang yang lain.