"Hei Kisanak jawablah, kenapa diam saja? jangan halangi jalan kami, jika tak ada urusan cepat pergi dengan segera!" Sambung salah seorang warga lain kian emosi dibuatnya, lantaran seseorang yang berdiri tersebut samasekali tidak menjawab seruan mereka cenderung tak bergerak samasekali.
Disaat kedua kalinya di panggil, orang tersebut perlahan-lahan menoleh ke arah mereka. Sontak mereka semua terkejut melihat rupa manusia yang berdiri di depan mereka itu sesudah sepenuhnya berbalik badan.
Yakni, wujud fisiknya memang manusia, tetapi berciri-ciri berambut panjang hitam legam berkuku panjang, runcing nan sangat tajam. memiliki tanduk bagaikan kerbau, sorot matanya merah bagaikan terdapat darah serta bertaring panjang tampak sangat mengerikan.
"Itu--itu tu--tu itu mahluk Demonyo!" Teriak salahseorang warga, lantas di susul oleh beberapa diantara mereka.
"Oh Tidak, it--itu benar mahluk Demonyo! jangan bilang kalau wanita iblis ini lah pembawa petaka di desa kita!" Seruan mereka saling sahut nan menyudutkan Lavina-lah penyebab datangnya mahluk tersebut.
Semasih orang-orang itu saling berbicara, mahluk itu menggeram seraya mengangkat tangan berkuku panjangnya sejajar bahu, seakan siap mengoyak-ngoyak tubuh mereka.
Tidak butuh waktu lama maupun aba-aba, mahluk itu langsung maju menyerang mereka dalam kecepatan penuh.
Sreet! sreet!
Kecepatan yang tak sepadan dengan manusia pada umumnya tentu membuat orang-orang itu tak siap, lantas beberapa orang tersebut langsung terkena cakaran beracun dari mahluk itu sampai mereka tumbang tampak kebiruan dari luka cakaran di beberapa area tubuhnya.
"Tidak!"
Beberapa orang lain yang tersisa akhirnya ikut menyerang meskipun tiada harapan bagi mereka untuk menang, serta terlepaslah Lavina dari cengkraman orang-orang itu.
Lavina mengetahui diri terlepas dari cengkraman merrka bergegas lari nan sambunyi dibalik pohon besar yang berada disana semasih mereka semua sedang berkelahi.
Tubuh gemeteran lantaran segala hal yang dialaminya ini untuk yang pertama kali dalam hidupnya. Jongkok di balik pohon besar itu, seraya berkali-kali menepuk pipi dia sendiri.
Plak! Plak!
"Ini mimpi atau nyata sih? Kok seperti adegan Film fantasy begini?" Gumamnya.
Plak!
Dia tampar lagi pipinya, untuk memastikan.
"Awh, kok rasanya sakit …? Ya Tuhan, ini nyata atau mimpi, Ya Tuhan … Aku dimana?" Gumamnya lagi.
Tidak selang waktu lama, semula ada suara mereka sedang berkelahi dengan mahluk tersebut seketika kini hening dan senyap.
'Kok sepi …?' Lavina sangat terheran, perlahan beranjak berdiri hendak mengintip ke area tadi dari balik pohon itu.
"Astaga Tuhan" terkejut, kala mendapati mereka semua sudah tergeletak di tanah penuh luka cakar tampak kebiruan.
"Tapi … mahluk tad-tadi … Mana?'
Bimbang, karena tidak melihat mahluk mengerikan itu, lantas menoleh ke seluruh penjuru arah untuk memastikannya. Memutar kan badan, mahluk itu masih tak terlihat dimatanya.
"Huff ..." merasa sedikit lega hingga, tetapu lamunan masih terngiang dalam benaknya tentang sebenarnya dimanakah ia saat ini berada?
Sesudah tersadar dari lamunannya, tak ingin berpikir lebih lama lagi, lekas beranjak hendak pergi dari sana. Namun, ketika memutar balikkan badan ....
"Arrgghhh!" Ia teriak sekencang-kencangnya kala mengetahui mahluk mengerikan itu ternyata berdiri tepat dibelakangnya hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
_____
Siang telah berganti malam, suara bising jangkrik dan binatang malam saling bersahutan membuatnya lekas membuka kedua matanya. Dilihatnya atap dinding terbuat dari batu serta tampak remang akibat kurangnya penerangan.
Tampak sorot terang dari arah samping tidak jauh darinya, kobaran api unggun kecil yang di buat oleh seseorang, namun ia belum menyadarinya lantaran belum sempurna sadarkan diri. Maka, lekas beranjak bangun dari tempat ia terbaring dari sebuah batu berukir indah bak sebuah tempat tidur nan berbantal kayu balok.
Perlahan duduk, sembari membuka kedua matanya untuk memastikan dimanakah keberadaannya saat ini.
'Oh Tuhan' Batinnya terkejut nan bimbang kala menyadari posisi kini seperti didalam sebuah Goa.
Memegangi kepala dengan kedua tangannya lantaran pusing sangat dirasakannya, begitu menoleh ke arah sumber api unggun kecil itu, lekas membelalak kala mendapati seorang pemuda sedang jongkok sembari mengatur nyala api unggun kecil itu.
Awalnya berkesimpulan buruk, dipikirnya pemuda itu berbuat tak senonoh padanya. Pertama-tama ia lekas melihat bagian tubuhnya sendiri, begitu tidak mendapati keganjilan apapun dalam tubuhnya, perlahan beranjak berdiri dari ranjang batu itu.
"Permisi … maaf" Lirihnya semakin melangkah mendekat ke arah pemuda itu yang belum tampak seperti apa parasnya.
Pemuda itu pun berdiri perlahan menoleh ke arahnya.
Sontak Lavina tertegun hingga tubuh mematung begitu melihat paras pemuda yang berdiri tak jauh darinya itu, Tampak sangat tampan nan gagah berciri-ciri tinggi semampai, d**a bidang rambut panjang hitam legam nan berpenampilan bak seorang pangeran kerajaan lengkap dengan jubah hitam yang dia kenakan.
'Oh Tuhan, Mimpi atau tidakkah aku saat ini ... Kenapa dia tampan sekali …' Batin Lavina berkata lantaran terpesona akan ketampanan pemuda itu, yang mana ia samasekali tidak pernah melihat pemuda berparas setampan ini di kehidupan nyata serta bisa ia lihat hanyalah sebatas didalam cerita fiksi maupun film fantasi.
Pemuda itu tersenyum padanya, yang mana membuat Lavina semakin terpesona akan-nya.
"Kamu sudah bangun, apa kamu baik-baik saja?" Pemuda itu tiba-tiba berkata demikian, namun tidak memecah lamunan Lavina yang masih terpesona akan parasnya si pemuda itu.
Tiada jawaban dari si gadis, maka pemuda itu mendekat padanya tak ayal diraihlah tangan Lavina. Lavina membelalak hingga belah bibir tiada bisa terbuka, bahkan degub jantung kian semakin kencang kala tangan disentuh oleh si Pria itu.
"Kamu pasti kedinginan, mari hangatkanlah" Ucap pemuda itu semasih meraih tangannya lekas membawanya mendekati api unggun kecil itu.
"Em …" Lavina menurut begitu saja bagai kerbau di cokok hidungnya.
__
Semula tiada percakapan diantara mereka saat Lavina sudah duduk di atas kayu tepat di depan api unggun kecil itu, namun … Perlahan Lavina teringat kejadian tadi siang kala dirinya hendak dibawa ke suatu tempat oleh para warga, tapi nahas mereka semua sirna oleh mahluk mengerikan yang menghadang di jalan tadi.
"Em … Maaf sebelumnya, Ka--kamu si--siapa? Dan … ini di daerah mana ya?" Tanya-nya terbata, lantaran keraguan akan suatu hal tumbuh dalam pikiran.
"Nama Saya Ang Pinakamalakas, Ini didalam sebuah goa perbatasan antara kaharian ang demonyo dan Kerajaan Maunlad." Jawab si pemuda.
"What! Demonyo?" Lavina terkejut nan membelalak hingga reflek mengucapkan kalimat tersebut dalam nada yang cukup tinggi.
Ya, ia terkejut lantaran nama 'Demonyo' itulah mengingatkannya lagi sewaktu di bawa oleh para warga.
Sementara si pemuda itu tiada berpaling memandangnya lantas akhirnya dia pun berkata nan sedikit tersenyum. "Iya, Kenapa kamu terlihat kaget?"
"Em ... ti--tidak apa-apa," Lavina mengalihkan topik sembari mengusap-usap kedua tangannya sendiri di depan api unggun kecil itu, lantaran memang kedinginan, serta tidak ingin membahas sesuatu yang ganjil baginya.
Semasih Lavina mengusapkan kedua telapak tangan didepan api itu, sesekali ia menoleh ke arah pemuda tersebut memperhatikan keseluruhan fisiknya, di mulai dari tangan sampai ke wajah.
Masih mencoba mengingat tentang sebelum pingsan tadi siang, yakni mendapati mahluk mengerikan tepat berdiri di belakang dia dibalik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tentunya kini ia curiga terhadap pemuda itu lantaran segala yang terjadi sangatlah ganjil baginya, yang mana kenapa kini tiba-tiba ia berada didalam sebuah Goa bersama dia?
Tapi … rasa curiga Lavina perlahan sirna lantaran pemuda itu benar-benar tampak manusia seperti dirinya, bahkan sangat tampan nan mempesona.
Sementara si pemuda itu tiba-tiba tersenyum saat kebetulan dia melihat ke arahnya. Maka, lekas ia mengucapkan sebuah kalimat, "Saya tahu apa yang kamu pikirkan, apa kamu takut padaku?"
Lavina menyeringai, "Cih, Takut? kenapa aku harus takut padamu? memangnya siapa kamu?" Berucap penuh percaya diri.
Si pemuda tak kalah menyeringainya lekas dia menjawabnya "Saya adalah mahluk iblis." Sembari mengorek-ngorek api dengan ranting kayu--memperhatikan ekspresi si gadis itu.
"What? apa kamu bilang? Mahluk iblis? Hahaha" Lavina tertawa-tawa yang mana semua itu membuat si pemuda terheran.
"...."