Episode 10

1007 Kata
Pemuda itu terheran tak lepas memandangnya. Sementara Lavina sendiri tertawa lantaran tak mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal logika baginya. "Apa kamu sungguh tidak takut padaku?" si Pria mengulang kalimatnya menampakkan ekspresi wajah penuh keseriusan serta sorot mata tajam bagaikan burung Elang. "Kenapa aku harus takut padamu?" Lavina tak ayal mengulang juga kalimatnya cenderung percaya diri, tidak merasa takut sedikitpun. "Sungguh?" Pemuda itu belum lepas memandangnya. "Tentu, kalaupun kamu benar iblis … so, lihatlah ini aku bisa menyentuhmu bukan?" Lavina memegang tangan si pria, Lantas begitu tangan menyentuh kulit si Pria, sungguh membuatnya terkejut hingga langsung berdiri. 'Oh Tidak!' Batinnya penuh tanya lantaran tangan si pria sangatlah dingin bagaikan es dari kutub utara. "Kenapa kamu seperti terkejut? Apa … sekarang kamu merasa takut padaku?" Menyeringai, si pria lekas berdiri jua. "Em-- ti--Tidak, siapa juga yang takut padamu? kalau benar kamu iblis, aku ingin dengar cerita tentangmu." Semula tiada rasa curiga, tapi kini Lavina perlahan merasakan takut, dia menutupi rasa takutnya itu dengan kalimat demikian nan memasang ekspresi penuh percaya diri. Si Pria senyum seraya menggelengkan kepala lantaran kagum terhadap seorang gadis manusia yang memiliki keberanian tinggi semacam ini. "Oeh, ke--kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Lavina tak lepas pandang paras si pria lantaran baginya si dia sedang mengejeknya. "Tidak-tidak, tapi … Baiklah saya akan ceritakan padamu, dengarkan baik-baik" Pemuda itu menyadari dibalik seraut wajah si gadis itu. "Cepat ceritakanlah" balas Lavina. "Nama Saya Ang pinakamalakas generasi tunggal dari Raja iblis Mattagumpay dari Kaharian ang Demonyo." Jelas si pria secara perlahan. "Beneran Iblis?" Lavina masih sulit mempercayainya. Si pria tak lepas menatapnya. "Eb--baiklah, oke oke aku percaya deh, Jadi begitu ya ceritanya, hehe" Mengangguk-anggukan kepala sembari mengusap kedua tangan pada lengannya. Belah bibir memang berkata seperti itu tetapi didalam hati berkata lain 'Huaa ... yang dia katakan beneran gak sih, Nih Cowok ganteng tapi juga serem banget' Lantas dia usap-usapkan lengannya ke arah api pertanda kedinginan nan meredamkan gundah hati, pikiran akan siapakah gerangan si pria didepannya itu. Sementara si pria tak henti terkagum terhadap gadis manusia yang berdiri didepannya ini samasekali tidak tampak takut kepadanya. Lantas ia melangkahkan kaki mendekat ke arahnya seraya melepaskan jubah hitam yang melekat di tubuhnya. Setelah jubah itu sempurna lepas dari tubuhnya, dia hendak pakaikan ke tubuh sang gadis dari arah belakangnya. Lavina diam mematung bahkan degup jantung semakin terpacu tidak menentu, kala mata melihat paras tampan didepannya melepaskan jubah itu yang kini di letakkan pada tubuhnya. "Pakailah ini, untuk mengurangi rasa dinginmu" Ucap Si pria semakin mendekat ke tubuhnya. __ Lavina masih diam seribu bahasa, meresapi perlakuan yang telah menghangatkan hatinya. Dibalik kegiatan yang sedang berlangsung, setelah busana itu melekat dengan sempurna pada tubuhnya, lelaki itu lekas melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya. Rupa-rupanya, aroma harum dari darah serta jantung wanita itu telah mendobrak suatu rasa akan suatu hal, sehingga hasrat tak tertahankan. Sontak, tanpa disadari Lavina memutar tubuh hingga menghadap lelaki itu. Sementara dekapan tidak terlepas barang sedikit pun, karenanya si lelaki berusaha melancarkan siasatnya. Lantas … Wajah saling menghadap, kemudian mata saling mengunci tatapan. Sejenak Lavina terpaku, meresapi pandangan pada wajah tampan lelaki itu. Jarak antara keduanya kian mengikis, sehingga membuat wajah mereka pun mendekat tanpa pelantara. Meresapi yang semula dingin bagaikan salju kutup utara, terasanya kini kehangatan yang telah mendobrak pintu hatinya, Lavina membiarkan lelaki yang masih setia merangkul tubuhnya, menikmati setiap pandangannya. Deru napas memburu dari kedua belah pihak, saling menyapu wajah yang berjarak hanya sejengkal saja itu. Lavina terlena akan sapuan udara yang membelai wajah cantiknya, tanpa terasa kelopak mata tertutup rapat. Seakan memberikan kesempatan untuk kawan bermainnya, agar melakukan hal lebih dari sekedar dekapan saja. Namun, si pria keliru mengartikan, ia merasa restu telah didapati dari reaksi wanita itu. Lelaki ini pun tak segan merekatkan bibir pada mulut si wanita, mencoba mencicipi manisnya daging kenyal dari seorang manusia. Lepas kendali membubuhkan keinginan asa yang sudah tidak dapat tertahankan, si pria mengecap seluruh rongga yang ada seraya meresapi wanginya santapan sebagai pemanasan. Bibir lelaki ini beralih, mengendus puncak kepala hingga berakhir pada leher si wanita. Kemudian hasrat tak tertahankan menimbulkan nafsu menyembur hingga menembus batas kesabaran. Lelaki itu memulai aksinya, membuka taring agar dapat mengoyak permukaan kulit mangsanya. 'Kau begitu menggiurkan, dan ... ternyata engkaulah 'perantara' yang selama ini ku cari' Di dalam batin lelaki ini menggerutu, seketika keinginan membuncah untuk segera mencicipi manisnya darah yang mengalir disetiap urat nadi wanita itu. Lelaki ini mengerang nikmat, membuat lawan bermainnya lagi dan lagi keliru mengartikan. Namun, sejenak si wanita mematung, manakala rasa yang berbeda menyentuh permukaan kulit lehernya. Benda keras nan tajam telah menggores di sana, ia pun melepas keterkejutan dengan reaksi tanpa disengaja. "Arghhhh …." Menjerit histeris seraya mendorong tubuh si lelaki nan lekas membuat wajah yang terbenam dalam lehernya tersingkirkan. Lantas didalam benaknya terpikir tentang apa yang sudah berlalu beberapa jam yang lalu yakni tentang mahluk Demonyo. "Apa yang kamu lakukan!" setelah tubuh sang pria berhasil didorongnya maka terkejutnya ia melihat apa yang dilihatnya. "Oh Tidak!" Paras pemuda yang semula tampan rupawan kini berubah menjadi sesosok mahluk yang amat mengerikan. Namun, perubahan wujud si pria belumlah sempurna hanya taring dan kukunya saja yang terlihat memanjang dan tajam serta sorot mata perlahan kian memerah. Lavina beranjak mundur, sementara tangan memegangi leher bagian sebelah kanannya serta mata tidak lepas pandang melihat si pria begitu sangat menikmati darah yang terdapat pada bagian mulut dia. "Rupa-rupanya kau memang benar mahluk iblis! apa kau akan menjadikanku sebagai santapanmu hah!" Rasa takut dalam dirinya sirna, walau entah apa mahluk yang berdiri didepannya. Sementara si pria kian memandangnya, menyapu darah yang masih berceceran pada mulutnya lekas dia jilat darah itu penuh nikmat, lantas dia mengemukakan suatu kalimat, "Itu bukanlah suatu gigitan untuk membunuh, Tetapi ..." "Apa maksudmu!" "Akan tiba saatnya nanti kau akan mengetahui yang telah ku tanamkan melalui gigitan itu." Si pria begitu penuh misteri. "Kamu benar-benar mahluk aneh dan tidak masuk akal!" Lavina geram lantas ancang-ancang melangkah pergi dari si lelaki itu. "Hei Gadis, Tunggu! jangan pergi! Aku belum mengatakan tujuanku padamu, Hei Tunggulah!" Seru si pemuda itu Lavina telah berlari pergi menjauhi goa itu, tiada satupun keinginan untuknya menoleh lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN