Chapter 23

1010 Kata
Fiona untuk yang kedua kalinya berdiri di depan rumah yang tidak terlalu besar dengan pagar yang sedikit terbuka. Ia menarik napas panjang dan berusaha tersenyum, mencoba melupakan kejadian beberapa hari lalu dan hanya fokus untuk memberi Richard penjelasan tentang Papanya. 'Gue pasti bisa' batinnya. Masih dengan senyum, Fiona berjalan ke dalam dan mengetuk pintu sebanyak dua kali. Beberapa saat, muncul sosok yang dua hari lalu ditemuinya, bertepatan dengan pintu yang terbuka. "Sore, Tante," sapa Fiona dan langsung menyium tangan wanita itu. "Eh, Fiona. Pasti mau ngerjain tugas, pas banget Richardnya ada, ayo masuk," kata Delia lalu menarik lengan Fiona pelan untuk masuk. "Richard, Fionanya udah dateng ini!" teriak Delia dengan suara yang serak, ia kemudian terbatuk. "Tante, udah nggak usah teriak, ntar batuk lagi," ucap Fiona lembut, disambut anggukan Delia. Setelahnya, Richard menuruni anak tangga dengan mata yang terus menatap ponsel di tangannya. Lalu Richard mendongak dan matanya bertemu dengan mata Fiona. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Hingga Fiona yang lebih dulu mengalihkan pandangan karena merasa tidak sanggup dengan debaran di dadanya. Sementara cowok itu beralih menatap Delia. "Ma, Richard ngerjain tugas bareng temen Richard dulu, ya? Ayo, Na," kata Richard yang hanya diangguki Delia. Delia pun kembali mengangguk saat Fiona pamit untuk pergi ke kemar Richard. "Duduk, Na," tegur Richard saat mereka sudah sampai di kamarnya.  Richard mengambil bukunya di laci meja belajar, sementara Fiona memilih duduk di karpet yang tergeletak stick PS depan tv. Gadis itu semakin yakin jika tadi Richard sedang bermain PS ketika melihat layar tv yang menampilkan sebuah permainan yang sedang dipause. "Lagi main, ya, tadi?" tanya Fiona dibalas Richard yang menganggukkan kepalanya. Richard lalu ikut duduk di samping Fiona setelah membereskan alat PSnya. "Mau mulai sekarang?" tanyanya dengan mata lurus pada Fiona yang sedang mengamati kamarnya. Ketika gadis itu menoleh, lagi-lagi jantungnya bergerak tidak normal dengan tangan yang dingin karena ditatap seperti itu oleh Richard. Dengan cepat ia mengangguk dan langsung mengeluarkan laptop dari tas dan membukanya. Richard juga ngapain pake acara ngajak ngerjain tugas di kamarnya. Nggak bisa di ruang tamu atau di mana, kek? Kalo kayak gini, kan, gua jadi gak fokus. Eh, tapi gak papa juga, sih. Kapan lagi coba gue masuk kamarnya Richard. “Na?” Suara Richard membuyarkan lamunan Fiona. “Eh, iya?” "Laptopnya taruh aja di bawah," kata Richard yang seperti memberi peringatan pada Fiona yang sedang memangku benda elektronik itu.  "Kenapa?" "Ntar bisa radiasi." Fiona hanya ber-ohria lalu mengikuti perkataan Richard untuk tidak memangku laptopnya. Dua puluh menit telah berlalu sejak Richard dan Fiona memulai mengerjakan tugas mereka.  Fiona yang awalnya tidak bias fokus kini menjadi sangat sibuk dalam mengetik dan Richard yang di sebelahnya tampak serius membuka beberapa buku untuk mencari bahan refrensi tugas yang nanti akan diketik Fiona. Fiona memang sudah bisa menetralkan jantungnya yang tadi sempat berdetak dengan brutal, tapi entah mengapa ia semakin merasa kedinginan. Dia make AC-nya berapa derajat, sih? batinnya yang sudah beberapa kali mengusap lengan. Ia jadi menyesal sempat melepas jaketnya. Kalau dipakai sekarang pun pasti cowok dia sampingnya akan melihatnya dengan heran. Richard yang sedang serius dengan buku-bukunya menyadari pergerakan Fiona, ia pun membuka suara. "Kedinginan?" Fiona menoleh. "Hah? Iya. Lo nyalain berapa derajat, sih? Dingin banget." Richard yang merasa iba pada Fiona langsung mengulurkan tangan untuk meraih remote AC di atas ranjang, tanpa bangkit dari duduknya. "Eh, Chard, gue pinjem toilet, dong," pinta Fiona. "Tuh, di sana," tunjuk Richard pada pintu di sisi kanan Fiona. "Gue ke bawah dulu ngambil minun." Setelah Richard keluar, Fiona langsung ngacir ke kamar mandi guna mengeluarkan zat sisa metabolisme tubuhnya yang sudah tidak dibutuhkan lagi berupa urine. Fiona kembali duduk di karpet dan mengotak-atik laptop setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, bertepatan dengan Richard yang memasuki kamar. Ia membawa nampan yang berisi sepiring cookies, dua gelas tinggi, dan sebotol minuman bersoda. "Nih, Na, ngemil dulu. Boleh minum cola, kan?" Richard menaruh nampan di tengah-tengah mereka. Fiona mengangguk. Cowok itu lantas membuka tutup botol minuman dan menuangkan pada gelas Fiona juga gelasnya. "Gue minum, ya," tegur cewek itu sebelum meminum minumannya. Kemudian ia mengambil sepotong cookies dan memakannya. Masih dengan mengunyah, Fiona melirik Richard dengan senyum-senyum. Entahlah, ia hanya merasa bahagia dan tidak percaya kalau sekarang ia sedang berada di kamar Richard dan duduk di sampingnya.  "Kenapa?" "Nggak, nggak papa," Fiona tersenyum sambil menggeleng. Walaupun matanya sudah tidak melirik Richard, tapi gadis itu masih terus saja tersenyum. Yang Fiona tidak tahu, Richard sedari tadi terus mengamati gerak-geriknya dari ujung matanya. Dan soal Fiona yang meliriknya sambil senyum pun juga ia tahu. Rambut Fiona yang memang sengaja ia biarkan tergerai sedikit demi sedikit mulai menganggu konsentrasi gadis itu, karena menghalangi pandangannya tiap ia mengetik. Karena merasa risih, ia pun memutuskan melakukan sesuatu dengan cara membongkar tasnya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan karet rambut dan benda lain yang bisa digunakan untuk mengunci rambutnya agar tak mengganggunya lagi. Perasaan tadi ia sempat memasukkan jepit ke tasnya. Tapi kemana benda itu? Pikir Fiona. Richard yang tak pernah berhenti menatap gerak-gerik Fiona dari ujung matanya, memberhentikan kegiatan menulisnya dan bertanya. "Kenapa?" "Ini, jepit gue gak ada, masa. Perasaan tadi sempet masukkin dalam tas, deh," jelas Fiona tanpa menoleh dan masih berusaha mencari benda itu. Richard terdiam sebentar terlihat berpikir. Ia beranjak dan seperti mencari sesuatu di tempat tidurnya. Fiona yang tadi sibuk dengan tasnya, mulai melihat pergerakan Richard. Richard kembali duduk di samping Fiona lantas menyodorkan karet rambut berwarna hitam. "Punya Melody, ketinggalan kemarin." Raut terkejut tak bisa disembunyikan Fiona. Gadis itu membuka mulutnya sedikit tampak tak percaya. Melody? Ketinggalan? Di kamar Richard? Di tempat tidur Richard? Ini maksudnya apa YaLord. Pikir Fiona. "Na?" "Oh, eh, iya, makasih." Fiona berusaha tersenyum dan menerima karet itu. Ia pun mengikat rambutnya. Senyum yang daritadi ia tunjukkan lenyap, digantikan dengan raut datar yang menyembunyikan kesedihannya. Fiona yang awalnya masih bisa fokus pada pekerjaannya walaupun ia gugup berada di samping Richard, sekarang ia malah sama sekali tak bisa fokus. Bukan karena ada Richard di sampingnya, tapi karena beberapa pikiran buruk mengenai apa hubungan antara pria itu dengan teman barunya. Juga masih banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan, tapi sayangnya tentu saja itu tak bisa ia lakukan. Akhirnya Fiona hanya bisa tersenyum kecut. 'Udah sejauh itu ya, hubungan mereka,' batinnya. Lagi, Richard bisa menangkap ekspresi Fiona. Ia sama sekali tak tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. Karena terlalu lelah untuk berusaha menebak, akhirnya ia memutuskan untuk tak terlalu memusingkan hal itu.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN