Gadis dengan rambut yang tergerai itu sedang duduk di bangku di ujung rooftop. Kali ini bukan senyum yang menghiasi wajahnya, melainkan tekukan yang membuatnya tampak sedang cemberut.
Fiona menunduk dengan kedua tangan membolak-balikkan ponselnya. Lalu karena angin bertiup cukup kencang yang membuat rambutnya berterbangan, gadis ini menyisirnya ke belakang dengan napas panjang. Ia melirik rambutnya sinis. Toh, walaupun ia menggerai rambutnya seperti ini, tetap saja Melody masih lebih cantik dibandingkan dengan dirinya.
Dari pintu yang menghubungkan tangga dan tempat ini, Fiona melihat cowok tinggi yang berjalan ke arahnya dengan tampang cuek. Gadis ini tersenyum dengan terpaksa menyambut kedatangan cowok itu.
"Kelihatan banget senyumnya nggak tulus," ucap Tristan yang langsung duduk di samping Fiona, ia menyilangkan kakinya dengan gaya bossy dan tangan yang ia letakkan di atas sandaran bangku. Ia menggoyang-goyangkan kaki sebelahnya menunggu ucapan balasan dari gadis di sampingnya.
"Kok, lo dateng?" tanya Fiona setelah menoleh pada Tristan. Cowok itu cuma menatapnya aneh.
"Kan, lo yang suruh dateng."
Fiona kembali menoleh ke depan dengan tangan yang masih membolak-balikkan ponselnya, "gue pikir lo nggak bakalan dateng cuman karna gue panggil, dengan modelan lo yang kayak gini."
“Emangnya kenapa sama modelan kek gue?”
“Menurut lo?” ucap Fiona sewot.
"Lo kenapa? Mukanya cemberut gitu? Udah jelek, tambah jelek lagi," ledek Tristan.
Fione kembali menoleh pada cowok di sampingnya, "gue beneran jelek, ya?"
Lagi, Tristan menatapnya aneh, "apa, sih, lo! Gak jelas banget. Manggil gue ke sini mau ngomong apa?"
Fiona menarik napas dalam, dan dengan ragu ia bertanya. "Menurut lo, gue cantik, nggak?"
Tristan tak menjawab, ia hanya menatap lekat bagian wajah Fiona. Dari rambut hitam yang lebat, alis mata tebal, mata yang saat ini tak secerah biasanya, pipi yang lumayan tirus, hidung yang mancung dan bibir yang dipoles sedikit lipbalm berwarna pink muda. Terakhir, cowok ini menatap dalam manik Fiona.
Sementara itu, Fiona melihat Tristan dengan pandangan cemas, takut cowok itu akan mengatainya jelek. Dan ia tak sadar kalau sekarang jantung cowok di depannya ini sedang berdetak dengan cepat.
"Tau!" Tristan membuang pandangannya ke arah lain, tak sanggup menahan debaran di dalam tubuhnya yang semakin menjadi ketika menatap Fiona.
"Tuh, kan!" Fiona mengehentakkan sebelah kakinya, ia berdecih dengan kesal hingga ingin menangis.
Setelah mengatur debaran jantung yang sudah agak redah, Tristan menoleh ke arah Fiona.
"Kalo gue sama Melody?"
Tristan terkekeh pelan, "kenapa lo nanya pertanyaan yang jawabannya udah jelas?"
Kemudian Fiona kembali menunduk dan berdecih, ia yang tadi ingin menangis, sekarang matanya sudah berair dan mengalir di pipinya.
'Iya, gue emang jelek, Melody lebih cantik dari gue makanya Richard mau sama dia,' batin Fiona, ia kini sudah terisak.
Tristan Nampak panik karena Fiona yang terus diam. Ia membalikkan tubuh Fiona dan kaget ketika melihat gadis itu menangis. "Eh, lo kenapa?"
"Lo tambah jelek kalo nangis," kata Tristan.
Fiona malah semakin mengeluarkan air matanya dan menghempaskan tangan Tristan di bahunya, ia hendak bangun namun dengan cepat dicegah Tristan.
"Kenapa, sih?" tanya Tristan lembut, "cerita sama gue, kenapa?"
Tristan membalikkan tubuhnya menghadap Fiona dan gadis ini menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku.
Kemudian, meluncurlah segala cerita kemarin yang terjadi di rumah Richard, tentu saja yang membuat ia bersedih seperti sekarang.
"Gue harus gimana?" tanya Fiona akhirnya pada Tristan, yang terdengar seperti aduan seorang anak pada ibunya.
Tristan menarik napas. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dan lebih parahnya ia bingung dengan apa yang harus ia katakan. Fiona masih setia melihat Tristan, menunggu ucapan cowok itu.
Hingga akhirnya setelah menyiapkan batin, Tristan kembali menatap lekat wajah Fiona. Rambut gadis itu masih sedikit berterbangan dan membuat Tristan dengan gugup meraih dan meletakkannya di belakang telinga.
"Lo cantik, kok," katanya dengan tulus.
Fiona mematung. Ia pun berusaha menetralkan denyut jantungnya yang tiba-tiba saja menjadi cepat. "Beneran?" tanyanya untuk memastikan apa yang ia dengarkan memang benar.
Tristan mengangguk. "Udah, ayo! Keburu masuk."
Cowok itu beranjak bangun dan diikuti Fiona dari belakang. Sekarang, gadis itu tidak menekukkan wajahnya lagi. “Gak ikhlas banget, sih!”
"Emang kemarin lo nggak masuk?" Fiona bertanya pada Davin. Cowok itu mengangguk sebagai jawaban.
Saat ini, keduanya sedang berdiri di koridor tepat di depan kelas dua belas ipa dua yang menghadap ke lapangan depan di bawah sana.
Mereka tadi tiba-tiba saja berpapasan ketika Fiona keluar kelas dan hendak berjalan ke kantin untuk yang kedua kalinya. Dan kemudian percakapan hangat dimulai dari Davin yang pertama menyapanya.
"Oh, iya, lo udah jajan?"
Fiona yang arah pandangnya pada lapangan yang sedang menampilkan pertandingan basket, langsung menoleh.
"Udah."
"Terus tadi pas keluar lo mau kemana?"
"Ehm, ke kantin lagi, sih, buat beli minum. Tapi sekarang udah males."
"Yaudah, bentar. Gue ambilin minumnya." Davin langsung pergi setelah selesai bicara, meninggalkan Fiona dengan kening yang berkerut.
"Hah?"
Fiona menaikkan sebelah alisnya. Merasa aneh dengan tingkah cowok itu. Ia lalu memilih untuk tidak memusingkan hal tersebut dan kembali menikmati para cowok tampan yang sedang men-dribble dan mengoper bola di lapangan.
Tanpa diketahui gadis itu, Richard yang memang berniat menghampiri Fiona berjalan hendak keluar kelas. Langkahnya tiba-tiba berhenti begitu saja, saat ia melihat Davin yang sudah lebih dulu berdiri di depan gadis itu.
Akhirnya dengan terpaksa ia kembali masuk ke kelas dan langsung duduk di tempatnya setelah meletakkan sebotol kecil minuman berwarana orange. Ia duduk bersandar dengan tangan yang melipat, menatap botol di depannya tanpa ekspresi. Menarik napas kemudian meraih dan meneguk minuman itu dengan kasar.
Di luar kelas, Fiona malah terkejut dengan kedatangan Davin yang terlihat seperti baru saja dikejar hantu. Peluh keringat membasahi wajahnya dan napas yang memburu.
"Bentar," Fiona berlari masuk ke dalam kelas guna mengambil se-pack tissue yang biasa ia bawa.
Tentu saja Melody dan Carol yang sedang makan terlihat bingung dengan tingkahnya. Begitu pun Richard yang sama sekali tak melepaskan pandangan dari ia masuk ke kelas sampai keluar dan mengelap tissue itu pada kening Davin.
"Kok, lo bisa keringetan kayak gini, sih? Perginya juga lama. Emang dari mana?" tanya Fiona. Ia mengelap kening dan sekitar wajah Davin dengan tissue. Sebab kedua tangan pria itu sedang ditumpu pada lututnya. Ia juga terlihat sedang mencoba bernapas dengan kembali normal.
Kemudian benda yang sudah tampak lembab itu ia buang ke sampah yang letaknya tak jauh dari sana.
"Ini," Davin menyodorkan sebotol air mineral pada Fiona. Napasnya sudah tak memburu seperti tadi.
Fiona mengernyit setelah menerima pemberian dari cowok ini. "Ini lo ambil di kelas? “Ta-"
"Iya," potong Davin cepat.
"Tapi, tadi kok gue nggak lihat lo masuk ke kelas lo? Trus juga lama banget. Hm …, lo pasti beli di kantin, kan?" Fiona menunjuk Davin dengan tatapan menyelidik yang membuat cowok itu salah tingkah.
"Nggak!" bantah Davin.
Fiona melotot. "Jangan bohong sama gue!"
"Eh, iya." Davin cuma menunjukan cengirannya.
"Ngapain, sih, Vin, lo lari-lari ke bawah cuma buat beliin gue minum?"
"Ya, kan, tadi katanya lo haus, yaudah gue beliin aja."
"Kalo gitu, makasih." Fiona tersenyum tulus., sambil mengacungkan botol di tangannya.
"Btw, Na, gue boleh ngomong sesuatu, nggak?" tanya Davin yang tampak gugup.
"Apa?" Fiona balik bertanya setelah meneguk minuman di tangan untuk yang kedua kalinya.
"Ehm, itu. Sebenarnya ...," Davin menggantung kalimatnya.
"Sebenarnya?"
"Sebenarnya ...," cowok itu lagi-lagi menggantung ucapannya membuat Fiona semakin tidak sabaran.
"Sebenarnya ...," Davin terdiam membuat Fiona menunggu. "Tapi, lo jangan marah, ya?"
Fiona mulai kesal dibuatnya. "Iya, apaan, Vin? Cepetan!"
Dari arah jauh terdengar suara ribut-ribut dan kerumunan orang. Fiona yang merasa penasaran langsung lupa pembicaraannya dengan cowok ini tadi dan malah mengajaknya untuk pergi ke sana.
"Eh, apaan, tuh, ribut-ribut? Kesana, ayo!" ajak Fiona dan langsung berlari pergi.
Davin menarik napas kasar, "kenapa susah banget, sih, ngomongnya?" rutuknya pada diri sendiri lantas berbalik dan mengikuti langkah Fiona.
Fiona membelah kerumunan sampi ia berada di tengah-tengah di mana tepat di depannya tampak Bryan dan seorang cowok bernama Rino yang sedang beradu mulut.
"Ini ada apaan?!" teriak Fiona angkat bicara walaupun ia sempat ragu tadi.
"Dia nyuri soal ulangan!" tuduh Rino sambil menunjuk muka Bryan, membuat cowok itu menatapnya tajam.
Fiona mengalihkan pandangannya pada Bryan. "Lo nyuri?" tanyanya namun terdengar seperti menuduh.
"Enggak!" kata Bryan dengan suara meninggi.
"Trus itu apa di tangan lo?"
Bryan menatap kertas soal di tangannya dan terdiam.
"Jadi selama ini kenapa nilai lo selalu tinggi, itu karena ini?" Fiona menatap Bryan tak percaya, pasalnya ia tak pernah menyangka cowok itu akan melakukan hal seperti ini. Ditambah lagi Bryan pernah menjadi teman SMP-nya, dan dulu keduanya memang agak dekat, ya, dalam hal saling mengejek.
“Lo ngomong apa, sih, Na?!” Bryan terlihat kesal.
“Trus itu apa?” Fiona mengulangi pertanyaannya lagi.
"Percuma gue jelasin, lo nggak ngerti, Na," ucap Bryan.
"Iya, gue nggak ngerti. Gue nggak ngerti kenapa lo ngelakuin ini cuma karena pengen dapet nilai tinggi."
"Gue nggak ngelakuin itu, Na, lo harus percaya sama gue." Bryan masih mencoba meyakinkan gadis di depannya kalau ia memang benar-benar tidak mencuri soal yang sekarang berada di tangannya.
"Kenapa gue harus percaya sama lo?" Fiona mengerutkan keningnya.
"Karena ...," Bryan terdiam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. "Karena gue stroberi lo."
Semua yang di sana tampak bingung dengan jawaban Bryan, begitu juga dengan Fiona. Stroberi? Apa maksudnya?
"Hah? Apa, sih? Gila, ya, lo?”
Fiona menggeleng, "udah, gue cuma pengen bilang, kalo gue bener-bener nggak nyangka sama lo, Bryan." Kata Fiona, menekan nama cowok itu.
Rahang Bryan mengeras dan wajahnya memerah menahan amarah. Kedua tangannya terkepal kuat. Dan kertas yang tadi di pegannya sudah kusut karena kepalannya.
"Na, gue ...,"
Bryan menoleh pada Rino dan menatapnya tajam. Lalu, ia kembali melihat Fiona yang juga balas melihatnya. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan kerumunan setelah terlebih dahulu melepas soal yang menjadi asal masalah dari tangannya.
Fiona baru ingat kalau tadi pagi ia belum sempat membuka lokernya. Ia pun berjalan ke lokernya dan berharap sesuatu tergeletak di sana. Dan benar saja, di sana tergeletak notes yang kali ini berwarna pink. Fiona meraih benda kecil itu dan membacanya.
"Jangan sedih, gue nggak suka lihat muka lo ditekuk gitu :("
Fiona tersenyum miris membacanya, "gue sedih karena lo juga, b**o!"
“Na, ayo!” Carol menghampiri gadis itu yang masih berdiri di depan lokernya. Dengan cepat Fiona berbalik dan kertas kecil yang tadi dibacanya disembunyikan di belakang punggung.
“Kenapa lo?” tanya Carol karena gerakan kaget Fiona.
Fiona menggeleng. “Nggak papa.”
Carol melirik kea rah loker Fiona yang masih terbuka. “Dapet apa hari ini?”
Fiona pura-pura menekukkan wajahnya dan menggelang. Sedangkan Carol langsung menutup loker sahabatnya itu dan menariknya untuk keluar dari kelas. Sebelum benar-benar keluar, Fiona sempat melayangkan pandangan pada Richard yang nyatanya juga sedang melihat ke arahnya. Namun, cuman sebentar karena Fiona langsung cepat-cepat mengalihkan wajahnya.
***
Hope you enjoy it!
Jangan lupa tap love-nya dan tuangkan pendapat kalian soal cerita ini di kolom komentar.
Dan mohon terus dukung kami dengan cinta!<3
Terima kasihh
Luv, zypherdust