Chapter 21

922 Kata
Gadis dengan pakaian casualnya itu sekarang tengah berjalan memasuki pagar sebuah rumah yang terbuka. Rumah Richard. Jadi, kemarin Fiona dan Richard mendapat tugas kelompok bersama, yang sudah gadis ini rencanakan bersama Bu Aura sebelumnya, tentu saja.  Dalam hati, Fiona tersenyum bangga karena ia berhasil mendaptkan kesempatan satu kelompok belajar dengan Richard. Ya, ia memang semiris itu karena tidak pernah satu kelompok belajar dengan cowok yang disukainya walaupun sudah sekelas dari kelas sebelas. Setelah menarik napas terlebih dahulu, gadis itu pun langsung mengetuk pintu berwarna hitam di depannya beberapa kali. Hingga seseorang membuka pintu. "Melody?" heran Fiona karena yang membuka pintu itu adalah Melody. "Eh, Fiona? Pasti mau kerja kelompok, kan? Ayo masuk," Melody mempersilahkan Fiona masuk, yang langsung disambut anggukan gadis itu.  Fiona mengikuti Melody masuk ke dalam rumah Richard, walaupun ia masih bingung dengan kehadiran gadis itu. Mereka berhenti di ruang tengah yang tengah duduk seorang wanita separuh baya dengan syal abu-abu yang meliliti lehernya. "Fiona, ini mamanya Richard,”  kata Melody pada Fiona. "Halo, Tante," sapa Fiona dengan senyum manisnya yang juga dibalas senyum oleh wanita itu yang ternyata merupakan Ibu Richard. "Ma, ini temen Richard, namanya Fiona." Kemudian, Melody memperkenalkan Fiona pada wanita separuh baya itu.  'Ma?'  "Kalo gitu, Melody pulang dulu ya, Ma. Nanti baru main-main ke sini lagi, ya?" Ibu Richard hanya mengangguk. Lantas, Melody menyium  kedua pipinya sebelum pamit pada Fiona, dan berjalan keluar rumah. 'Main? Maksudnya? Wtf!' "Eh, Hai Tante," sapa Fiona lagi. "Duduk aja," kata Ibu Richard. "Maaf ya, Tante. Ganggu sore-sore gini." “Santai, aja. Nggak papa, kok.” Fiona terdiam sejenak. “Ngomong-ngomong, Richard-nya kemana, Tan?” "Richard baru aja pergi, nggak tau kemana," jawabnya. "Fiona mau minum apa? Biar Tante ambilin," tawar wanita itu yang hendak bangkit dari duduknya. Namun, Fiona langsung cepat-cepat mencegahnya. Pasalnya, wanita separuh baya itu tampak sangat letih dan kelihatan sedang tidak sehat. "Eh, nggak usah, Tante. Niggak papa."  Delia, Ibu Richard menautkan alisnya, "beneran nggak papa? Entar kamu haus, lho. Yaudah kalo kamu mau minum, ambil aja ya. Anggap aja rumah sendiri." Lagi, wanita separuh baya itu terbatuk. Fiona yang melihat itu langsung duduk di samping Delia dan menepuk-nepuk pundaknya. "Tante lagi sakit, ya?" Delia hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Delia yang memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu. "Jadi, kamu mau mulai dari mana?"  Fiona menoleh, "hah? Maksudnya, Tante?" Delia tersenyum simpul. "Tadi, Melody udah cerita tentang tentang kamu. Dan Tante yakin, kamu punya niat baik buat Richard. Tante mohon, tolong kamu ubah sikap Richard biar ngga dingin lagi, ya?" Fiona cuma menganggukan kepalanya. Kemudian wanita di depannya mulai menceritakan tentang Richard dan beberapa insiden yang membuat gadis ini sangat yakin, itulah penyebab berubahnya sikap Richard. "Awalnya Tante nggak tahu kenapa dia bersikap seperti ini, tapi akhirnya Tante bisa lihat kalau Richard kayak gini itu karna Papanya yang selalu jarang ia temui di rumah. Papanya selalu lebih mentingin pekerjaan, tapi bukan berarti dia nggak perhatian sama kami. Bahkan karena itulah dia lebih serius dengan pekerjaannya. Dia selalu nggak mau kami kekurangan apapun, apalagi Richard." Fiona yang melihat napas Delia yang memburu karena terlalu banyak berbicara, membantunya untuk mengambil cangkir teh di atas meja. "Papanya selalu ngasih apa yang Richard mau, walaupun secara nggak langsung. Karena sebenarnya, Papanya nggak mau kejadian yang dialami Fahran terjadi sama Richard. Papanya cuma nggak mau kehilangan Richard. Tante bahkan udah berkali-kali jelasin ini sama Richard, tapi anak itu terus nggak peduli dan ngira Tante belain Papanya." Delia terdiam sebentar untuk mengatur napasnya yang tersengal. Kemudian ia menggenggam kedua tangan Fiona. "Karena kamu udah tahu semuanya, kamu mau, kan, bantu Tante jelasin semuanya sama Richard?" pintanya. Fiona yang awalnya ragu, lansung mengangguk mantap saat melihat wajah harap Delia. "Iya, Tante. Fiona pasti bakalan bantuin Tante, biar sikap Richard berubah." Delia lagi-lagi tersenyum dan tangannya ia ulurkan untuk membelai rambut panjang Fiona lembut. "Ternyata selain cantik, kamu juga baik sekali. Beruntungnya Richard mempunyai teman seperti kamu." Mendapat pujian dari Ibu orang yang disukai tentu siapa yang tidak senang? Fiona pun kini sedang tersenyum dengan salah tingkah atas pujian Ibu Richard yang diterimanya. Keduanya pun lalu cukup lama mengobrol hal lain hingga Fiona merasa sudah waktunya untuk berpamitan. Rencananya belajar bersama Richard hancur sudah karena cowok itu yang tak kunjung tiba di rumah. Namun di sisi lain, ia mendapat informasi penting yang bisa membantunya menjalankan misi. "Tante,  kayaknya udah jam segini, nggak papa, kan, kalo aku pamit sekarang?" Wanita cantik di depannya ini menarik napas. "Anak itu, kemana sih dia?" omelnya lantas kembali membuka suara. "Iya, kamu hati-hati, ya. Ntar kalo Richardnya pulang, Tante sampein kalo kamu sempet datang mau ngerjain tugas." "Iya, Tante, makasih. Kalo gitu Fiona pulang dulu. Sekali lagi, makasih Tante." "Ayo, Tante anterin keluar," tawar Delia dan hendak bangkit, tetapi lagi-lagi dicegah Fiona. "Eh, eh, nggak usah, Tante. Fiona keluar sendiri, aja. Tante istirahat, ya." "Yaudah, kamu hati-hati." Fiona mengangguk dengan sudut bibir yang tertarik. Setelah itu, Fiona keluar dari rumah Richard. Sambil berjalan ia menyempatkan untuk meng-stalk akun i********: cowok itu. Kemudian seperti teringat sesuatu, gadis ini mencari akun Melody dan memutuskan meng-stalk akunnya. Fiona terus meng-scroll layar ponselnya dan terhenti bertepatan dengan langkahnya yang juga terhenti, saat menemukan satu post-an Melody dengan orang yang sangat dikenalinya. Deg! Fiona merasa sangat bodoh karena ia sering sekali—bahkan tidak bisa dihitung—membuka akun i********: Richard, tetapi tidak pernah membuka halaman untuk postingan-postingan yang men-tag akun cowok itu. Di layar ponselnya kini menampakan wajah cowok yang sangat disukainya sedang merangkul Melody dan mereka tertawa bersama. Tampak sekali mereka sangat bahagia.  Fiona melihat caption Melody, terletak tepat di bawah foto yang baru saja dilihatnya. '❤' Hanya satu tanda, namun mampu membuat hati Fiona merasa tidak baik. Ia menggigit bibir bawahnya dan mulai muncul pemikiran-pemikiran aneh dalam benaknya.  'Hati? Ini maksudnya apa?' *** Hem, kira-kira ada apa yaa sama Bryan? Apa bener dia nyuri soalnya? Penasaran? Ayo baca kelanjutan ceritanya!  Dan mohon tetap dukung kami dengan cinta!<3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN