Bonus Part #2

1411 Kata
Blurb : Liburan Sophie Ralston si penyanyi tuna rungu di negara kecil bernama Eginhard berubah menjadi bencana. Sehingga membuatnya harus terjebak bersama sang Pangeran.  Keceriaan dan semangat Sophie mencairkan es di hati Felix yang pernah terluka setelah ditinggal pergi tunangannya. Ketegaran yang ditunjukkan Sophie dalam menghadapi masalah sudah menarik hati sang Pangeran. Namun di saat kedua hati mulai bersatu, Felix dihadapkan kembali pada masa lalunya, Gisele. Tidak hanya itu, cinta mereka juga harus dihadapkan pada anggota Parlemen dan rakyat Eginhard yang berpikiran kolot mengenai kaum difabel.  Akankah cinta dan perbedaan mereka mampu menghadapi segala rintangan? Salah sau partnya : Tidak membutuhkan ibu peri untuk mendatangkan keajaiban. Saat berhasil mencintai diri sendiri, maka keajaiban itu akan datang. Di dalam ruang tidur terlihat cermin panjang yang memantulkan bayangan Sophie. Wanita itu tampak begitu berbeda. Setelah berjam-jam berkutat dengan penata rias yang didatangkan Felix, wanita itu pun berubah layaknya seorang putri dalam cerita dongeng. Bahkan Sophie berpikir dirinya sekarang adalah Cinderella. Dalam balutan gaun panjang dengan gradasi hitam dan putih, Sophie terlihat begitu memukau. Kain yang lembut jatuh lemas di lengannya mencapai siku. Di bagian dadanya dilapisi kain brokat dengan motif dedaunan hitam. Gaun itu meruncing di bagian pinggangnya lalu merekah ke bawah. Gaun itu terlalu cantik. Bahkan Sophie terlalu takut mengotori warna putih pada bagian bawah gaun. "Anda terlihat sangat cantik Miss Ralston." Puji Derby, penata rias yang dipercaya oleh sang Pangeran. "Mempesona adalah kata jauh lebih tepat." Melihat pantulan sang kekasih di cermin, Sophie langsung berbalik. Seketika dia terpana melihat Felix mengenakan tuxedo biru tua lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam. Celana gelap yang dikenakan pria itu memperlihatkan kakinya yang begitu panjang. Sophie yakin pakaian yang melekat pada tubuh Felix dirancang khusus untuk sang Pangeran. Felix berjalan menghampiri Sophie tanpa mengalihkan tatapannya. Retinanya tertarik ke arah sang kekasih layaknya magnet. Langkahnya terhenti saat jaraknya begitu dekat. Pria itu melepaskan tatapannya dan beralih pada Derby. "Kau melakukan jauh lebih baik dari yang kuperkirakan. Terimakasih, Derby." "Sebuah kehormatan bisa mendandani Miss Ralston. Saya pikir Miss Ralston akan menjadi pusat perhatian dalam pesta." Felix kembali menatap Sophie dan mengamatinya lebih jelas lagi. Riasan yang sempurna tanpa berlebihan. Rambut coklat mudanya disanggul di belakang kepala sehingga mempertegas tulang pipinya. "Aku juga berpikiran sama." "Saya akan berada di ruang tamu jika anda membutuhkan saya, Your Highness." "Tentu Derby." Wanita itu pun berjalan keluar kamar. Sehingga memberikan waktu berdua bagi pasangan itu. Mereka saling melayangkan senyuman dan tatapan penuh kekaguman. "Aku punya hadiah untukmu." Ucap Felix mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Pria itu mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga. Empat kelopak bunga yang melengkung dihiasi dengan empat mata berlian. Sedangkan di bagian tengahnya ada sebuah bulatan berlian berukuran besar. Sehingga kalung itu menampilkan kilauan berlian itu dari berbagai sudut. "Ka-kalung ini cantik sekali." Kagum wanita itu. "Karena itu kau pantas memakainya. Kalung ini akan cocok menggantung di lehermu." "Aku ... aku tidak yakin nyaman mengenakannya, Felix." "Apa kau tidak menyukainya?" tanya Felix. "Ma-mana mungkin aku tidak menyukainya. Aku ... aku takut menghilangkan benda mahal itu." Sophie memandang ngeri ke arah kalung dalam genggaman pria itu. Seketika gelak tawa Felix pun terdengar. Padahal semula pria itu berniat akan mengganti kalung itu jika Sophie tidak menyukainya. Tapi ternyata Sophie memberikan alasan yang tak terpikirkan olehnya. "Kau tidak mungkin menghilangkannya, Gioia mia." Felix meragukan. "Te-tetap saja ada kemungkinan bukan? Aku ... aku pasti akan merasa bersalah padamu." Bibir Felix menyunggingkan senyuman mendengar jalan pikiran sang kekasih. Dia meraih tangan Sophie dan meletakkan kalung itu di atas tangannya. "Bukankah aku memberikan kalung ini sebagai hadiah. Artinya kalung ini sekarang menjadi milikmu. Jika kau menghilangkannya, kau hanya akan merasa bersalah pada dirimu sendiri bukan padaku. Bagaimana menurutmu?" Sophie memandang kalung itu lalu beralih pada pria di hadapannya. Terlihat jelas Felix ingin sekali melihat Sophie mengenakan kalung itu. Dia yakin pria itu akan merasa kecewa jika masih menolak. Pada akhirnya helaan nafas berat keluar dari mulut wanita itu. "Bagaimana kau ... kau bisa membuatnya jadi mudah?" "Aku hanya ingin melihatmu mengenakan kalung ini. Bukankah seorang pangeran mendapatkan keinginannya dengan mudah?" Keduanya tertawa karena ucapan Felix mengingatkan pembicaraan mereka saat berada di Acqua Brillante. Saat itu Sophie bertanya 'Apakah Felix selalu mendapatkan apapun dengan mudah', karena kemudahan-kemudahan yang pria itu dapatkan karena statusnya sebagai seorang pangeran. "Baiklah, Your Highness. Kau ... kau mendapatkan apa yang kau mau." Felix mengambil kalung di tangan Sophie, lalu memakaikan benda itu di leher Sophie. Setelah terpasang, Pria itu melangkah mundur untuk melihat penampilan Sophie kembali. Sang Pangeran tersenyum puas melihat kilauan berlian itu menggantung di leher sang kekasih. "Sudah kuduga kalung itu cocok untukmu. Penampilanmu semakin sempurna." "Kau ... kau tidak lagi terlihat seperti Pangeran, ta-tapi ibu peri yang mengubah penampilanku." Lagi-lagi Felix tertawa mendengar Sophie menyamakannya dengan ibu peri yang menyihir penampilan Cinderella. "Kau sudah siap, Cinderella?" Felix mengulurkan lengannya. "Aku berharap bisa ... bisa mengatakan 'aku siap'." Sophie meraih lengan Felix. "Kau tidak akan pergi sebelum tengah malam bukan?" Sophie terkekeh mengingat sang peri yang mengingatkan Cinderella untuk kembali sebelum jam dua belas malam. Karena setelah tengah malam, sihir sang ibu peri akan menghilang. "Asal sihir da-dalam diriku tidak hilang, maka aku ... aku tidak akan pergi." Akhirnya mereka pun berjalan keluar dari suite. ※※※※※ Istana Kerajaan Oslo atau biasa disebut Slottet atau Det kongelige slott dibangun pada abad ke-19. Bangunan bergaya arsitektur Neoklasikisme dikelilingi oleh taman istana dengan alun-alun istana di bagian depan. Sophie bisa melihat banyak sekali wartawan yang berkumpul di depan istana Kerajaan Oslo, sehingga membuatnya semakin gugup. Dia seharusnya sadar menghadiri pesta besar di negara ini bersama Pangeran dari negara Eginhard akan menimbulkan berita yang besar-bersaran. Tapi yang lebih membuatnya gugup adalah bagaimana reaksi orang-orang penting di dalam pesta saat mengetahui dirinya bukanlah putri yang sempurna. Dia takut orang-orang akan memandangnya rendah saat mengetahui kekurangannya. Tangan Sophie saling meremas saat menyadari limosin yang membawa mereka semakin dekat. Dirinya sempat berpikir untuk meminta Felix berbalik dan tidak jadi menghadiri pesta itu. Tapi sudah terlambat. Banyak rakyat Norwegia yang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan kerajaan sehingga mereka akan kesulitan untuk berbalik. Sebuah tangan melingkupi tangan Sophie. Dia menunduk dan melihat tangan besar Felix berada di atas tangannya. Wanita itu mendongak dan melihat Felix yang duduk di sampingnya tersenyum lembut. "A-apa kau yakin dengan ini?" Sophie melihat kembali ke arah orang-orang yang membawa kamera, kemudian beralih kembali pada sang kekasih. "Jika aku tidak yakin, tidak mungkin aku mengajakmu, Belleza mia. Kau takut?" "Sebenarnya ada ... ada hal lain yang lebih membuatku takut." "Katakanlah." Felix mengelus genggaman tangan Sophie. "A-aku takut dengan pandangan orang-orang di dalam tentangku. Kau ... kau tahu bukan tentang kekuranganku." "Kau tidak perlu cemas, Gioia mia. Aku yakin semua orang di dalam akan menyukaimu apa adanya. Termasuk Raja dan Ratu Norwegia." "Tetap saja itu ... itu tidak mengurangi ketakutanku." Sedih wanita itu. "Mungkin aku bisa menceritakan sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik. Apa kau tahu Ratu Sonja bukanlah seorang bangsawan?" Sophie menggelengkan kepalanya, "Ratu Sonja adalah rakyat biasa. Beliau adalah anak dari seorang pedagang pakaian." "A-apa hal seperti itu diperbolehkan di Norwegia?" "Peraturan kerajaan melarang hal itu. Tapi Raja Harald V bersumpah kepada ayahnya, Raja Olav V, jika beliau tidak akan menikah selamanya jika tidak diizinkan meminang Ratu Sonja." "Romantis sekali," Mata Sophie berbinar haru mendengar cerita Felix, "la-lalu bagaimana keputusan Raja Olav V?" "Jika Raja Harald V tidak menikah, maka garis penerus kerajaan akan berakhir tanpa adanya pewaris takhta selanjutnya. Alasan itulah yang mendorong sang ayah menyetujuinya." "Ternyata cerita .... cerita dongeng seperti itu bisa terjadi di dunia nyata. Bu-bukankah Raja Cedric juga?" Felix menganggukkan kepalanya, "Kisah cinta Cedric dan Ella juga seperti kisah  dongeng." Melihat limosin sudah bergerak menuju bagian depan pintu istana Kerajaan Oslo, Felix membuka tautan tangan Sophie dan menggenggamnya. "Aku akan mendampingimu. Kau tak perlu takut." Sophie menganggukkan kepalanya, "Kau ... kau membuatku jauh lebih baik." Pintu limosin pun terbuka. Felix dan Sophie melangkah keluar. Segera jepretan kamera diarahkan ke mereka. Sophie berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika dia pasti bisa menghadapi semua ini. Kemudian dia melihat ke arah Felix. Pria itu menganggukan kepalanya seakan meyakinkan wanita itu. Akhirnya Sophie meletakkan tangannya di lengan Felix dan mulai berjalan menuju pintu utama istana Kerajaan Oslo. Mereka tersenyum ke arah beberapa kamera yang memotret mereka. Banyak wartawan yang sudah mengenali Sophie. Mereka pun melemparkan pertanyaan mengenai hubungan Sophie dengan Pangeran Felix. Wanita itu yakin berita itu akan menjadi kejutan besar bagi ketiga kakaknya. Bahkan Sophie bisa membayangkan reaksi Caleb dan Alex. Karena Leo sudah mengetahuinya, dia yakin kakak ketiganya itu tidak terkejut. "A-aku yakin kau akan membuat kakak-kakakku terkejut." Ucap Sophie setelah melewati kerumunan wartawan dan memasuki istana Kerajaan Oslo. "Aku ragu kau bisa menghentikan mereka terbang kemari untuk menjemputmu." Sophie pun terkekeh geli membayangkan hal itu. Mereka berjalan menuju ballroom istana. ※※※※※ Hai semuaaa! Aku kembali dan kali ini aku mau promot cerita temen akuu Udah baca blurb sama salah satu ceritanya kan? Kalo gitu langsung aja buka Unexpected Love karya Marrygoldie. Jangan lupa follow akunnya, tap love ceritanya, dan ngasih pendapat kalian di kolom komentar tentang cerita tersebut! Tencuuuu<3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN