Chapter 7

1792 Kata
"Gimana sih, kelas unggulan tapi kayak gini, gak pantes banget, tau," ucap Bryan menghadang Fiona dan Carol yang hendak berjalan menuju kelas mereka. Keduanya berhenti, bermaksud ingin menanggapi perkataan Bryan. Fiona melipat tangannya di depan d**a dan melempar pandangan pada Carol, kemudian mereka terkikik geli. "Ada yang lucu, ya?"  "Nggak." Fiona menarik napas. "Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" lanjutnya berucap pada Bryan. "Nggak maksud apa-apa kok, hanya pengen ngomong aja," Bryan bersandar pada dinding koridor sembari salah satu tangannya dimasukkan ke saku. Fiona mengangguk. Lantas ia kembali berjalan bersama Carol, namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara Bryan. "Please, Na, lo jadi orang nggak usah belagu," ucap Bryan lagi. Fiona sendiri heran apa maksud dari ucapannya. Fiona menarik napas lantas berbalik, "bukannya kebalik? Udah, ya, takutnya kalo terlalu banyak ngomong sama orang sombong, gue ikutan sombong juga ntar," balasnya dan kembali berjalan bersama Carol. Sedangkan Bryan, pria itu malah menggertakkan gigi kesal karena Fiona yang mengikuti kata-katanya. "Belagu banget sih, si Bryan! Mentang-mentang! Awas aja, ya, dia! Gue sumpahin, jatuh di got gegara liat mantan jalan ama gebetan," kata Carol saat ia dan Fiona sudah duduk di bangku mereka. "Gue sumpahin, dia keselek makan mie ayam besok!" balas Fiona tak mau kalah. "Gue sumpahin, dia jatuh di kamar mandi trus seragamnya basah dan diketawain anak-anak!" "Gue sumpahin,-" "Apaan sih, lo pada. Mainnya sumpah-sumpahan. Sumpahin siapa coba?" Ben datang entah darimana dan langsung duduk di tempatnya. "Noh, si Bryan," Fiona mengarahkan dagunya ke luar kelas. "Seenak jidatnya ngatain kelas kita. Songong banget, elah!"  "Eh, gue kasih tau ya, seharusnya, lo pada nggak usah ngeladenin dia, semakin kalian ngeladenin, dia semakin besar kepala dan mikir kalo berhasil buat kalian kesel. Udah lah, biarin aja, ntar juga berhenti sendiri kalo capek," nasihat Ben. "Tapi, ucapannya udah keterlaluan dan dia harus dikasih pelajaran," balas Carol. “Dan, gue rasa, dia gak akan pernah capek, deh!” sambung Fiona juga. "Carol sayang," Ben menatap Carol. "Najis!" Carol langsung mengalihkan pandangannya ke luar kelas. Sedangkan Ben malah terkekeh pelan dan kembali melanjutkan ucapannya, "kalian cuma buang-buang tenaga, tau nggak? Setelah kalian ngasih pelajaran, trus apa? Dia bakal tambah kesel dan ngatain kita lagi, trus kalian juga ngasih pelajaran lagi. Gitu aja terus, sampe ladang gandum dihujani meteor coklat, dan jadilah coco crunch," jelas Ben panjang lebar bahkan masih sempat meledek Fiona dan Carol. Fiona dan Carol hanya diam, pura-pura tak mendengar. Walaupun sebenarnya mereka dengar. "Bisa paham, nggak?" tukas Ben. "Apa? Trus, coco crunch, maksudnya?" tanya Fiona pura-pura polos. "Tadi, gue baru habis makan coco crunch!" ucap Ben dengan mata melotot kemudian berbalik badan. Fiona mengedikkan bahunya dan Carol sudah sedaritadi memainkan ponselnya, entah sejak kapan. Dari arah pintu kelas, Melody berjalan dengan angkuh menuju tempatnya. Fiona tersenyum. Ia mengajak Carol untuk menghampiri Melody, tapi sayang gadis itu menolak dan lebih memilih mendengar musik lewat earphone yang baru dikeluarkannya dari tas. Fiona duduk di bangku di samping Melody, setelah berjalan beberapa langkah. "Hai Melody," sapa Fiona, tapi diacuhkan gadis yang disapanya. "Gue denger-denger, hari ini lo ikut lomba fashion, ya?"  Melody yang semula mengacuhkan Fiona, kini meliriknya tajam. "Tau dari mana, lo? "Ehmm," Fiona menjadi kikuk, bingung sendiri  harus menjawab apa. Melody memutar matanya melihat tingkah Fiona. "Mending, lo pergi deh, gue males lihat muka polos lo yang sok kecantikan," ucapan pedas Melody membuat Fiona tersenyum. "Lho, bukannya kebalik, ya?" tanya Fiona. Melody menautkan kedua alisnya, "maksud lo?" "Lo liat muka gue, natural, tanpa polesan, tapi tetep cantik," ucap Fiona dengan menekan kata 'polesan'. "Bukan kayak lo, pake make up aja tebel kek mau kondangan, tiap hari kerjaannya ngaca mulu, lo kayak cabe-cabean, tau nggak?" ucapan Fiona tak kalah pedas, walaupun sebenarnya ia berkata seperti ini agar gadis itu sadar akan kesalahannya selama ini. Yang tadinya semua murid tampak dengan aktifitas masing-masing, kini perhatian mereka teralihkan dengan Fiona yang berdebat dengan Melody. Baru kali ini, ada perempuan yang berani mengejek Melody, dan tentu saja ini menjadi pertunjukan yang menarik untuk mereka. Bahkan, Carol yang tadi sedang mendengar musik dan Tristan yang tertidur, turut menyaksikan perdebatan antara keduanya. Begitupun Richard. Wajah Melody memerah menahan amarah, tangannya ia layangkan hendak menampar pipi Fiona, namun Fiona lebih cepat mencengkeram tangannya. "Apa? Yang gue ngomong fakta, kan?" ucap Fiona tanpa ekspresi kemudian melepas tangan Melody dan berjalan kembali ke tempatnya duduk. Namun, sebelum sampai di bangkunya, ia berbalik dan mendapati Melody yang masih menatapnya dengan benci. "Satu lagi, buat orang yang bilang lo cantik dengan riasan wajah kayak gitu, mereka buta!"  Fiona diam sejenak, menampakkan senyum sinisnya. "Karena lo, jelek!" Kemudian ia duduk dan membaca bukunya seperti biasa, seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Suara riuh mulai menggema di kelas XII IPA 2 akibat ucapan Fiona barusan. Bahkan, murid perempuan yang lain, mereka yang paling heboh, karena akhirnya ada juga yang berhasil menyuarakan isi hati mereka pada Melody atas perbuatannya selama ini. Melody menatap sekelilingnya dengan tajam, walaupun itu sama sekali tak membuat murid yang lain diam, bahkan semakin heboh. Dengan wajah yang masih menahan amarah, Melody keluar kelas. Kemudian, Richard yang tadi juga sempat menyaksikan aksi Fiona dan Melody, menatap Fiona. "Gila! Lo keren banget, Na!" heboh Carol begitu Melody sudah keluar kelas, dibalas kedikkan bahu Fiona. Fiona berbalik dan mendapati Richard yang menatapnya datar lantas berjalan keluar, seperti menyusul Melody. Fiona menaikkan kedua alisnya. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai menghampirinya. Kenapa Richard keluar? Kenapa sebelum Richard keluar, ia menatap Fiona? Apa yang membuatnya keluar? Apa dia menyusul Melody? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya. Padahal harusnya ia senang karena berhasil membungkam Melody, tapi kenapa sekarang ia malah merasa gelisah? Fiona menggeleng cepat, berusaha menghilangkan itu semua dengan mengajak Carol ngobrol. Tristan yang duduk di paling belakang kelas, masih terlihat dengan posisinya saat tadi menyaksikan perdebatan dua teman sekelas. Kakinya diluruskan dan tangan yang dilipat di depan d**a. Ia bukan saja menonton adu mulut Fiona dengan Melody. Tetapi juga melihat bagaimana Fiona dan Richrd yang saling tatap sebelum pria itu yang menyusul Melody. Ia menarik bibirnya, membentuk seringai kecil. Fiona masuk ke dalan sebuah aula suatu gedung yang digunakan sebagai tempat perlombaan Fashion Show. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan tetap tak dapat melihat adanya tanda-tanda keberadaan Melody. Mungkin dia sedang di backstage. Pikirnya. Fiona lantas memutuskan untuk melihat-lihat stand yang dibuka. Banyak sekali macam-macam hiasan atau pernak-pernik yang berbau Gothic. Semuanya sangat bagus, sampai-sampai rasanya ia ingin membeli semua itu. Ketika sampai di stand yang berada di paling pojok ruangan, mata Fiona terpaku pada salah satu hiasan kecil seperti patung, berbentuk penyihir cilik perempuan dengan gaun yang menjuntai panjang, topinya pun panjang seperti topi penyihir pada umumnya. Di tangan sebelah kanannya menggenggam sapu terbang dan sebelah kirinya memegang kitab bersampul cokelat. Fiona hendak meraih hiasan mungil itu, namun terhenti ketika pengumuman dari pengeras suara bahwa perlombaan fashion akan segera dimulai. Ia berjalan kembali, dan memutuskan untuk duduk di bangku kedua dari belakang, menunggu penampilan Melody sembari melihat penampilan dari peserta yang lain. Melihat panggung, membuatnya bernostalgia. Ia mengingat, saat kecil dulu pernah mengikuti acara pentas seni bertema Disney yang diadakan suatu sponsor. Waktu itu, ia masih kelas 3 SD. Dan karena memakai sistem undian, Fiona kecil tak bisa menjadi Princess Belle yang merupakan kesukaannya, melainkan Princess Aurora dari undian yang didapat. Juga, ia mendapat pasangan pria kecil yang akan menjadi pangerannya. Pria kecil itu berumur sama dengannya. Setiap berlatih bersama peserta yang lain, pria kecil itu selalu tak menunjukan ekspresi apapun. Ia tak pernah berbicara dan tersenyum. Wajahnya selalu datar. Bahkan pada Fiona kecil, yang merupakan pasangannya. Sampai pada saat selesai acara, saat di belakang panggung, pria kecil itu menarik Fiona kecil ke tempat sepi dan memberikannya cincin berwarna pink, yang sama dengan gaunnya waktu itu. Cincin tersebut bermata stroberi. Setelahnya, pria kecil itu berlari pergi. Sedangkan Fiona kecil yang bingung, hanya menatap cincin itu dan kembali ke tempat Mama dan Papanya berada. Fiona lantas memegang cincin yang sekarang sudah dibuatnya menjadi kalung sembari menerawang jauh. 'Kenapa pula, gue dulu kok bisa gak tahu namanya, ya?' batinnya. Ia harap, ia bisa bertemu dengan pria kecil itu yang merupakan cinta pertamanya, entah kapan. Fiona kembali memusatkan fokusnya pada panggung dan terkejut saat Melody sudah berjalan menuju ujung panggung. Untuk sesaat, ia sedikit terpesona dengan penampilan Melody. Ia seperi putri-putri kerajaan, ia mengenakan gaun pendek  berwarna hitam, sepatu berhak tinggi yang sampai di atas lutut, juga topi hitam dengan lilitan rangkain bunga, tangan kirinya memegang payung hitam yang dibiarkan terbuka di atas kepala, sedangkan tangan kanannya menggenggam tas tangan kecil yang juga berwarna senada. Make upnya tidak terlalu tebal, dengan bibir yang dipoles lipstick hitam. Ia benar-benar seperti gadis misterius yang berjalan saat malam hari di tengah hujan dan badai yang deras. Melody berjalan dengan dagu yang terangkat, wajahnya datar dan matanya melihat tajam ke depan, seperti seorang profesional. "Cantik banget," gumam Fiona. Beberapa menit kemudian, penampilan Melody terganti dengan penampilan peserta lain, sebelum akhirnya, acara break sebentar, untuk para dewan juri berdiskusi peserta mana yang akan menjadi pemenang. Fiona ingin menghampiri Melody di backstage, namun ia sudah terlalu malas untuk bergerak. Akhirnya ia memilih untuk mengatur feeds Instagramnya dan entah untuk yang keberapa kalinya, meng-stalk akun Richard. Padahal, tak ada postingan terbaru dari cowok itu, Fiona hanya ingin menatap wajah Richard, siapa tahu, itu akan membuat moodnya semakin baik. Percayalah, Richard merupakan moodboster-nya. Gadis dengan rambut yang diuraikannya itu, melirik jam di pergelangan tangan, walaupun sebenarnya ia bisa melihat jam dari ponselnya. Beberapa menit kemudian, para dewan juri datang dan membacakan nama pemenang. Fiona harap-harap cemas. 'Semoga Melody menang' doanya dalam hati. Dan doa Fiona terkabul, nama Melody dibacakan sebagai pemenang kedua. Fiona hampir saja berteriak kegirangan jika tidak mengingat bahwa di sini terdapat banyak sekali orang. Setelah selesai penyerahan hadiah pada pemenang dan berfoto dengan dewan juri, para pemenang turun dari panggung, menyisahkan pembawa acara yang mulai membagi-bagi doorprize. Fiona bangkit dari duduknya dan menghampiri Melody, bermaksud meminta maaf atas ucapannya di kelas tadi, juga mengucapkan selamat atas kemenangannya. Saat sampai di backstage, Fiona bingung karena para peserta lain bersama keluarga, teman, atau pacar mereka, tapi tidak dengan Melody. Gadis itu tampak duduk sendiri di pojok ruangan dan sibuk dengan ponselnya. Dengan canggung Fiona menyapanya ketika sudah tepat berada di depannya, "hai" Melody mendongak dan matanya menatap Fiona penuh benci. "Mau ngapain lo kesini? Mau ngatain gue lagi?" Fiona menggaruk tengkuknya. "Nggak, gue mau minta maaf soal tadi. Lagian, siapa sih yang nggak kesel kalo dikatain kayak gitu. Lo pasti juga kesel, kan?" jawab Fiona. "Oh iya, selamat, ya. Tadi gue lihat penampilan lo, dan sumpah demi apapun, itu keren banget. Beneran," ucap Fiona tulus dengan kedua jempol yang di arahkan pada Melody. Keduanya terdiam, hingga ponsel Fiona bergetar. Pesan dari Meghan yang menyuruhnya untuk pulang. "Eh, kalo gitu gue duluan, ya," ucap Fiona setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut. Saat sudah di luar, ia seperti melihat cowok yang mirip dengan Richard. Ia hendak mengikuti cowok tersebut yang masuk ke ruang peserta tadi, namun terhenti karena lagi-lagi Meghan mengirim pesan padanya. Iapun memutar mata dan keluar dari gedung ini.     Kenapa ya kakaknya yang satu ini selalu saja merusak momen-moemn pentingnya.     *** Halooo Gimana sama part kali ini? Semoga makin seru yaaa Jangan lupa tap lovenya :) Dan mohon tetap dukung kami dengan cinta<3     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN