Chapter 8

2016 Kata
PRANKK! Suara pecahan kaca terdengar dari sebuah rumah bercat hijau. Di dalamnya tepat di ruang tamu, tampak seorang gadis dengan wajah menahan amarah terhadap kedua orang tua juga saudaranya. "Melody! Apa yang kamu lakukan?" bentak sang Ayah marah, sedangkan sang Ibu sudah memeluk gadis lain yang sedang menangis akibat goresan di pipinya. Melody tertawa saat melihat cairan bening keluar dari mata kakaknya, Oliv. "Gimana? Apa yang lo rasain? Sakit, kan?" tanyanya santai. "Adik durhaka, bagaimana mungkin kamu melempar gelas ke wajah kakakmu?!" ucap Ibunya marah. “Kakak?” Melody berdecih. "Eh, tapi bukan-nya, bagus? Biar mukanya rusak sekalian!" ucap Melody menusuk. "Melody, minta maaf padanya sekarang!" satu-satunya lelaki di ruangan itu menatap Melody tajam. "Nggak! Aku nggak bakal minta maaf sama dia, dasar anak pungut!" seru Melody membuat isakkan Oliv semakin kuat. Melody terus tersenyum sinis, tak sadar kalau sang Ayah hendak mendaratkan tangan pada pipinya. Gerakan tangan itu sangat cepat, membuat Melody terjatuh di dekat pecahan kaca sehingga tangannya sedikit berdarah. Pukulan Ayahnya juga lumayan kuat akibat emosi yang tersulut.  Melody merasakan sakit. Bukan pada tangan yang terkena pecahan ataupun pipinya yang barusan ditampar. Tetapi, sakit pada hatinya, ia tak pernah menyangka akan ditampar oleh Ayahnya karena anak pungut yang tak tahu diri itu. Ia ingin menangis, namun ia tidak mau terlihat lemah di depan sang Ayah. "Papa nggak pernah ngajarin kamu berbicara seperti itu!" tukas Ayahnya. Melody tersenyum miris. "Papa emang nggak pernah ngajarin aku. Emang apa yang Papa ngajarin? Coba sebutin! Nggak ada!"  "Kalian nggak pernah ngajarin aku, nggak pernah mikiran aku, nggak pernah perhatiin aku, nggak pernah nanyain apa aku udah makan atau belum, bahkan mungkin kalian lupa aku anak kalian, karna yang ada di otak kalian cuma anak pungut itu!" tunjuknya pada Oliv. "Kalian pernah mikir nggak sih, sama aku? Pernah mikir nggak perasaan aku selama ini? Mikir nggak perasaan aku pas lihat kalian lebih merhatiin dia, nanyain dia udah makan atau belum, ngajarin dia pr, ajak dia jalan-jalan? Dimana kalian pas aku lagi sedih, pas aku lagi terpuruk, pas aku lagi butuh kalian?" marah Melody Kedua orang tua Melody terdiam. "Bahkan, saat lagi hujan badai, lampu mati, dan aku sendirian di rumah sambil nangis ketakutan, kalian malah lagi asik makan malam ngerayain ulang tahun Dia, ingat?" "Entah kenapa, aku selalu merasa ngelakuin semuanya sendiri, mau kemana-mana sendiri kalo di rumah pun harus sendiri, kalian nggak pernah nuntun, bimbing dan jagain aku kayak orang tua lainnya. Kalian gak pernah ngajarain aku mana yang benar dan yang salah." "Pas terima raport pun, Om Edward yang ngambil. Sedangkan kalian ngambil punya Oliv. Apa susahnya sih, dari sekolahnya Oliv baru ke sekolah aku?" "Aku nggak butuh uang yang kalian kasih, aku butuh kalian." "Pas aku di kantor polisi pun, Om Edward yang datang. Sedangkan kalian? Kalian lagi asik-asikkan liburan sama Oliv!" "Yang selalu kalian banggain itu Oliv, selalu pamerin ke temen-temen kalian, padahal dia cuma anak pungut. Apa kalian pernah banggain aku di depan temen-temen kalian? Nggak, kan?" "Kenapa sih, yang ada di otak kalian tuh Oliv, Oliv, dan Oliv. Nggak pernah kan, ada Melody? Anak kandung kalian itu siapa sih, sebenarnya? Oliv atau Melody? Dan kalian bilang aku udah bisa jaga diri sendiri? Terus Oliv? Dia juga udah besar, bukan anak kecil lagi, dan bahkan udah bisa jaga dirinya sendiri daripada aku." Mata Melody mengarah ke arah Oliv yang juga sedang menatapnya. "Mau lo apa sih? Lo rebut semuanya dari gue, lo rebut perhatian papa sama mama gue, kenapa selalu lo yang diutamain padahal lo cuma anak buangan yang nggak sengaja dipungut sama Papa gue." "Maafin Kakak, Dek" ucap Oliv dengan menunduk. Melody memutar matanya muak. “Lo bukan kakak gue! Lo gak pernah ada dalam keluarga gue! Seharusnya dari awal Papa sama Mama nggak usah ngangkat lo dari jalanan, lo itu cuma pembawa sial, perusak keluarga orang, harusnya lo nggak pernah ada di dunia ini. Dan gue harap, lo mati!" ucap Melody dengan penuh kebencian dan tatapan menusuk pada Oliv. "Melody!" bentak sang Ayah, membuat Melody terperanjat. Ayahnya mengangkat piala yang kemarin didapatnya dari perlombaan fashion di meja dan membuangnya. Melody membelalak. Piala itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Dan lagi-lagi ia tak bisa menangis karena tak ingin terlihat lemah di depan kedua orang tuanya. Melody menarik napasnya dalam, mencoba menahan amarah yang sebentar lagi akan keluar. Ia marah. Marah pada Ayah karena sudah merusakkan piala yang seharusnya menjadi kebanggaan mereka. Melody mengambil serpiha-serpihan piala tersebut juga tasnya, "bahkan sekarang aku ngerasa, kalo aku yang dipungut." Setelah berkata begitu, ia keluar. Saat di luar, ia berjalan secepat mungkin agar dapat menjauh dari rumahnya. Dan ketika sudah lumayan jauh, ia berhenti, mengabaikan hujan deras yang mengguyurnya dan menarik napas dalam beberapa kali, menahan air matanya agar tidak keluar. Namun, beberapa saat kemudian ia terisak mengingat kejadian tadi. "Ya Tuhan, kenapa sakit banget?" ucapnya di sela-sela isak tangisnya. Setelah beberapa detik, ia menghapus air matanya, menarik napas dan kembali berjalan entah kemana. Melody sampai di sebuah rumah bercat cokelat yang alamat rumahnya sebenarnya sudah dari lama ia ketahui. Awalnya ia ragu, namun setelah mengumpulkan keberanian ia pun mengetuk pintu rumah. Sesudah dua kali mengetuk, pintu rumah terbuka dan menampilkan seorang wanita separuh baya. "Permisi, Tante. Fionanya ada?" ucapnya dengan sedikit menggigil akibat guyuran hujan tadi. "Astaga, kamu kok basah gini, sini masuk dulu. Fionanya ada di dalam," ucap wanita itu yang adalah Mama Fiona sembari menarik Melody masuk tak lupa menutup pintu. Mama Fiona langsung ke dalam, menyisakan Melody yang masih kedinginan berdiri di ruang tamu, dan kembali dengan membawa handuk putih. "Ini handuknya, pasti dingin, kan? Fiona ada kok di kamarnya, kamu ke atas aja, pintunya warna putih, Tante mau ke dapur dulu, mau buatin kamu teh hangat," ucap Mama Fiona disambut Melody yang mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Melody lantas berjalan menaiki tangga dan membuka kamar berpintu putih yang tidak dikunci. Ia masuk ke dalam dan kembali menutup pintu. "I'll be with you, from dusk till down, i'll be with you, from dusk till down, Baby i'm right here..."  Suara nyanyian terdengar dari pintu hitam yang ada di kamar itiu. Melody menebak, Fiona sedang mandi. 'Suaranya jelek banget' nilainya dalam hati. Dan ketika pintu kamar mandi terbuka, tampak Fiona dengan handuk birunya dan mata yang membulat akibat melihat Melody. "Lo!" Fiona menunjuk Melody seraya berjalan ke tempatnya berdiri. Ia mengucak mata, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Melody sendiri hanya diam."Lo, ngapain di sini?! Pintu dibuka, menampilkan Mama Fiona yang membawa segelas the hangat. Ia meletakkan itu di meja belajar Fiona. “Diminum ya,” katanya pada Melody. “Makasih, Tante.” Fiona menghampiri Mamanya. “Ma, kok’ dia bisa di sini, sih?” bisik Fiona tetapi dengan suara keras. Mamanya tersenyum canggung pada Fiona. “Kamu apa sih, dek, sama temen sendiri.”  Mama Fiona sempat mencubit lengan anaknya sebelum ia pamit untuk keluar. Fiona beralih pada Melody. “Jadi, lo ngapain di sini?” "Menurut lo?" Melody balik bertanya. "Kok, lo basah gini?" lagi, Fiona bertanya sebelum akhirnya dia memutar mata dan mengambil tas milik Melody kemudian mendorong gadis itu ke kamar mandi. "Mending sekarang lo mandi," ucapnya lantas menyambar handuk yang satunya lagi di gantungan berwarna pink, dan melemparnya asal pada Melody yang sudah berada di kamar mandi. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk bersandar pada kepala tempat tidur Fiona. Mereka sama-sama memakai piyama, yang tentunya milik Fiona. Punya Fiona bermotif pisang dan punya Melody berbentuk apel.  Mereka berdua duduk berjauhan, masing-masing di ujung tempat tidur, juga sibuk dengan pikiran masing-masing. Keheningan yang tercipta cukup lama, hingga akhirnya Melody yang memilih membuang gengsinya dengan mengajak Fiona berbicara. "Fiona," panggilnya. Yang dipanggilpun menoleh. "Ehm, lo pernah diajarin ngerjain pr sama papa-mama lo?" Entah apa yang membuat Melody ingin bertanya seperti itu pada Fiona. Fiona mengangguk. "Sering malah, ya lo tau kan, kalo gue gak begitu pinter-pinter amat," ucapnya merendah. "Kalo ditanyain, udah makan apa belum sama diajakkin makan, pernah?" Lagi. Fiona mengangguk, "tiap gue pulang sekolah, malah." "Kalo makan bareng?" Fiona memutar matanya, "itu mah tiap hari." "Mama lo pernah masakkin lo?" Fiona lagi-lagi mengangguk dan menatap Melody aneh ketika mata gadis itu berkaca-kaca. "Kalian pernah liburan bareng?" "Pas nerima raport, mereka kan, yang ngambil?" "Apa mereka di sampng lo, pas lo lagi ada masalah?" "Kalian sering bercanda bareng?" "Mereka selalu ngajarin lo, nggak?" "Mereka selau bangaain lo, ya?" "Apa mereka ngerayain hari ulang tahun lo?" "Apa mereka selalu khawatir sama lo?" "Dan, apa mereka selalu bilang lo cantik?" Dan ketika semua pertanyaan Melody dijawab anggukan oleh Fiona, gadis itu membuang mukanya, ia terisak. Fiona yang bingung langsung mendekat dan menyentuh pundaknya. "Melody," ucapnya. Melody pun berbalik dengan mata yang sudah sembab, "gue iri sama lo. Bahkan gue gak pernah ngelakuin itu semua." "Kenapa?" Fiona merutuki dirinya ketika pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulutnya. "Karena di pikiran mereka cuma ada anak pungut yang selama ini numpang di rumah gue," ucap Melody dan ia kembali terisak. Fiona yang melihat Melody yang begitu menyedihkan, air matanya ikut jatuh dan langsung memeluk gadis itu. Ia bahkan tidak memikirkan jika gadis itu akan menolaknya. "Mereka nggak pernah mikirin gue, Fiona, nggak pernah khawatirin gue, nggak pernah nanyain gue udah makan atau belum. Yang mereka pikir itu cuma anak pungut itu. Dan mereka nggak pernah mikirin perasaan gue. Hati gue sakit, Na. Sakit banget, tiap liat mereka hanya mikirin Oliv. Gue juga pengen digituin, diperhatiin, dipeduliin, disemangatin, diajarin," ucap Melody sambil terus terisak. Fiona terdiam, mendengar gadis itu berbicara sambil berpikir bagaimana cara untuk menenangkannya. "Apa jangan-jangan gua yang dipungut? Dan semakin kesini, gue mikir kalo mereka emang nggak sayang sama gue." "Nggak Melody. Lo nggak boleh ngomong kayak gitu. Mereka sayang sama lo, tapi pasti ada alasan kenapa mereka ngelakuin ini." Fiona berusah menenangkan Melody. "Harusnya cewek sialan itu gak usah ada di dunia ini, dia cuma pembawa sial, dia perusak kelurga gue." "Dia sodara lo, lo nggak boleh ngomong gitu." "Di bukan sodara gue!" tukas Melody, isakannya belum berhenti. Kemudian, Fiona membiarkan Melody menangis di pelukannya, dengan ia yang terus mengelus punggung gadis itu. Ia tahu, luapan sedih, kesal, dan marahnya harus dikeluarkan agar gadis itu tidak merasa sesak di bagian dadanya karena memendam sendiri. Setelah puas menangis, Melody melepaskan pelukan Fiona dan menerima sekotak tissue dari gadis itu untuk membersihkan wajahnya dari air mata. "Udah lega? Ini, minum dulu," tanya Fiona sambil memberikan Melody teh hangat yang tadi dibuatkan mamanya. Melody mengangguk dan menerima gelas itu lalu meneguknya, kemudian memberikan kembali gelas itu pada Fiona. Untung yang kedua kalinya mereka berdua terdiam, namun tak selama tadi karena Fiona langsung berbicara "So?" ucap Fiona. Melody menarik napas lelah. "Lo tau nggak, kenapa gue selalu make make up?" tanyanya yang disambut gelengan kepala Fiona, karena memang ia tidak tahu. "Sederhana kok, alasannya. Karena gue pengen, Papa sama Mama bilang gue cantik." "Emang mereka gak pernah bilang?" lagi dan lagi Fiona merutuk dalam hati atas ucapannya barusan. Melody menggeleng. "Pernah sekali, tapi kata mereka, gue cantik kayak Oliv. Gue nggak suka disamain sama dia."  "Tapi menurut lo, gue cantik nggak?" ucap Melody lantas menoleh. "Lo mau jawaban yang jujur apa yang bohong?" Melody memutar bola matanya, "yang jujur, udah cepetan." "Kalo make make up tebel lo jelek, jelek banget tau nggak," ejek Fiona membuat Melody harus menahan kekesalannya. "Tapi kalo lo natural kayak gini, lo cantik benget. Beneran, nggak bohong," lanjut Fiona tulus. "Apalagi dengan mata sembab lo. Kayaknya, lo harus pake kacamata item besok.” Melody lantas membaringkan badannya diikuti Fiona. Keduanya sama-sama menyembunyikan diri dalam selimut, akibat angin dingin malam yang menusuk. Melody tersenyum manis. Sedangkan Fiona malah terkejut, pasalnya ini adalah kali pertama ia melihat gadis itu tersenyum yang benar-benar tersenyum. "Lo orang kedua lho, yang tulus bilang gue cantik," ucap Melody pelan. "Emang orang pertama siapa?" Salahkanlah jiwa kekepoan Fiona yang mulai keluar. "Richard." Fiona membulatkan matanya, "Richard Adiatma?"  Melody mengangguk. "Udah, ah, gue ngantuk," kemudian iapun memejamkan matanya. Sedangkan Fiona yang matanya belum tertutup malah tersenyum miris, 'kok gantian hati gue yang sakit, ya?' batinnya lantas memutuskan untuk memejamkan mata. Richard melangkah memasuki kelas yang sudah ramai dengan ocehan tak jelas teman-temannya. Ia berjalan menuju tempatnya duduk, namun hanya menaruh tas dan terus berjalan menuju lokernya. Saat membuka loker, ia mendapati sekotak s**u dengan kemasan depan yang ditempeli notes, benda yang setiap hari ia temukan di lokernya. Ia meraih kotak s**u tersebut dan mencabut notes yang tertempel di sana. 'Gue juga mau dong dibilang cantik :')  'F♡' Richard menautkan alisnya bingung, notes ini berbeda dari biasanya, dan letak perbedaan itu terdapat pada emoticonnya. 'Kayak lagi senyum, tapi ngeluarin air mata.' Batinnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan ekspresi datar hingga matanya berhenti tepat pada Fiona yang sedang tertawa bersama Carol untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Richard kembali menutup lokernya. *** Halo gengs! Gimana part kali ini?  Tulis pendapat kalian di kolom komentar yaaa, dan jangan lupa buat tap love-nya :) Mohon tetap dukung kami dengan cinta! <3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN