"Apasih, lo! Garing!" ucap Carol lantas menjulurkan lidahnya mengejek Fiona. Sementara Melody yang duduk di sampingnya hanya tertawa kecil.
"Yaudah, sih. Ketawa aja."
Saat ini mereka bertiga ; Fiona, Carol dan Melody sedang duduk di meja kantin yang terletak di agak pojokan. Di depan mereka, terdapat tiga mangkuk Mie-so dan tiga gelas Es teh.
"Eh, masa ya kemaren, gue lagi nonton film yang sedih parah, udah mau habis. Taunya ada orang aneh yang ngechat gue dan lo tau dia siapa?" Carol bergantian menatap Fiona dan Melody.
"Siapa?" tanya Melody. Fiona? Dia terlalu malas membuka suara dan lebih memilih untuk menyantap makanannya.
"Ben," bisik Carol.
Fiona mendongak dengan mata membulat. "Beneran?" tanyanya tak percaya. "Ah, akhirnya tuh anak berani juga ngechat lo," gumamnya kemudian.
"Dan …," Melody terdiam sebentar tampak berpikir, "dia yang buat lo kesel semalem?"
"Tepat sekali," jawab Carol dengan senyum terpaksa. "Dan gue rasanya pengen benget remukin badan dia."
"Emang lo bisa?" tanya Fiona yang sudah kembali sibuk dengan makanannya.
"Ya, bisa lah!"
"Eh, gue juga mau ngasih tau sesuatu. Tapi, please nggak usah heboh, ya?" kata Fiona setelah sedikit menyeruput Es Tehnya.
"Gue ditembak dua hari lalu," tukas Fiona membuat Carol yang sedang mengunyah makanannya terbatuk dan langsung meminum Es Tehnya.
"Dari dua hari yang lalu, dan lo baru ngasih tau gue sekarang? Wah, parah, lo Na." Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, karena menurut gue itu gak penting."
"Gimana sampe lo mikir kalo itu nggak penting?" balas Carol.
"Siapa?" Melody mengulangi pertanyaan yang tadi ditanyanya pada Carol.
"Ehm ...," Fiona tampak berpikir, apakah ia harus memberitahukan pada dua gadis ini, "Tristan?"
"Tristan kelas kita?" Carol seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Fiona mengangguk.
"Yang nakal dan suka bolos itu?" gantian Melody yang bertanya dan dibalas anggukan Fiona.
"Yang sering ngerokok itu, kan?" Carol bertanya lagi. Fiona kembali mengangguk dengan bibir yang digigit.
"Beneran, Na? Lo nggak bohong?"
"Iya, Car. Gue nggak bohong," tukas Fiona.
"Astaga, Fiona! Demi apa? Kok, bisa sih? Lo nggak terima, kan? Iya, kan?" Carol tampak cemas.
"Gue terima," jawab Fiona dengan muka polosnya.
"Lo yakin?" Melody membuka suara setelah terdiam beberapa saat.
Carol menepuk keningnya dengan ekspresi yang susah dibaca. "Please, Na. Gue nggak mau sampe lo berurusan sama cowok berandal kayak dia."
"Guys, kalian tenang, ok? Ini cuma sehari doang."
Carol dan Melody saling bertatapan sebelum akhirnya menautkan alis mereka hampir bersamaan. "Maksud lo?" tanya Melody dengan kening berkerut.
Fiona berdehem pelan sebelum menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya dua hari yang lalu. "Tristan bilang, dia mau ngerubah sikapnya jadi lebih baik lagi, dengan satu syarat yaitu gue harus jadi pacarnya. But, just one day."
Gadis yang kali ini menggerai rambutnya itu terdiam sebentar, "yaudah, gue iyain aja. Itu kan juga mempermudah gue ngejalanin misi ini."
“Na, gak gini caranya,” ucap Carol, wajahnya terlihat serius.
“Please, Car, ini satu-satunya cara, dia juga janji bakalan berubah. Dan dia juga gak buruk-buruk amat, kok, beneran,” ucap Fiona yakin, berusaha memastikan pada sahabatnya kalau itu tidak masalah. Kedua gadis di depannya mencoba mencerna penjelasan Fiona barusan, lantas mereka mengangguk.
"Tapi, ingat ya! Cuma sehari!" Peringat Carol disambut Fiona yang mengangguk sembari tersenyum.
Setelah itu, mereka tidak berbicara lagi dan sibuk menyantap makanan masing-masing. Dan sesekali Fiona melempar candaannya yang membuat Carol pura-pura mual dan ingin muntah. Fiona masih terus beroceh tak jelas, tak sadar kalau ada cowok yang berdiri di belakangnya, membuat Melody dan Carol langsung terdiam.
"Fiona," panggil cowok itu. Gadis itu terdiam sejenak lantas berbalik dan terkejut mendapati Tristan.
"Tristan? Lo ngapain di sini?"
Tristan mengacuhkan pertanyaan Fiona dan menatap kedua gadis yang saat ini terdiam ketika melihatnya. "Carol, Melody, gue pinjem Fionanya bentar ya."
"Eh, oh, iya," jawab Melody kikuk sementara Carol hanya
mengangguk dengan wajah malas, terlalu malas untuk sekedar menjawab satu kata pada murid berandalan itu.
Tanpa banyak berkata lagi, Tristan langsung menarik tangan Fiona menuju ke arah koridor belakang.
Fiona menghempaskan tangannya yang dicengkeram erat oleh Tristan. "Sakit, b**o!" marahnya lantas memegang pergelangan tangan yang mulai memerah.
Tristan meraih tangan Fiona dan mengelus lembut bagian yang memerah akibat cengkeramannya tadi. Ia menatap gadis itu. "Maaf."
"Iya, nggak papa." Fiona dengan cepat menarik tangannya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Gue mau nagih janji lo! Besok!"
"Ehm, tapi gue-"
Tristan mengunci pergerakan Fiona dengan menahan kedua tangannya pada dinding d imana Fiona bersandar. "Gue nggak ngizinin lo buat berubah pikiran, dan gak mau tau pokoknya besok lo harus jadi cewek gue!" katanya dengan tatapan tajam.
Fiona mengangguk membuat Tristan kembali menarik tangannya. "Gue juga nggak ada niat buat berubah pikiran kok, beneran." Fiona berkata dengan wajah polosnya.
"Ck, lucu banget, sih," kata Tristan kemudian mencubit pipi kanan Fiona.
Sedangkan gadis itu malah memundurkan wajahnya dan memberikan pandangan horor pada Tristan. "Tan, please lo jangan kayak gini. Gue takut."
"Takut jatuh cinta?" tanya Tristan dengan wajah jahilnya.
"Najis!" Fiona memutar matanya.
"Eh, tapi besok gimana? Jam berapa sampe jam berapa? Di mana? Gue harus pake baju apa? Resmi atau gimana?" cerocos Fiona.
Tristan menarik napas lalu memegang pundak Fiona. "Jam 10 pagi gue jemput, jam 8 malem gue pulangin lo dan cukup pake baju yang buat lo nyaman, ok?"
Fiona cuma mengangguk sebagai jawaban.
"Yaudah, kalo gitu. Sampe besok. Dandan yang cantik ya, buat gue." Tristan mengedipkan sebelah matanya.
"Gue nggak dandan, kan lo bilang yang senyaman gue aja."
Tristan tersenyum kecil kemudian mengacak pelan rambut Fiona. "Terserah," ucapnya lantas mendekatkan wajah ke telinga gadis itu. "Karena sebenarnya gue lebih suka wajah polos lo."
Tristan menarik wajahnya dan kembali mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan pergi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
“Najis, b**o!” teriak Fiona pada punggung Tristan yang menjauh. Cowok itu melambaikan tangannya. Dan Fiona yakin sekali kalau ia sedang menertawai dirinya yang nyaris bahkan sudah salah tingkah.
Fiona terdiam beberapas saat, berusaha untuk menetralkan detak jantungnya. "Please, Na. Jangan khilaf, lo sukanya sama Richard, ok?" bisiknya pada diri sendiri.
Fiona dengan serius membaca pesan dari salah satu teman sekolahnya. Di situ terdapat latar belakang kelurga Tristan. Oh, jangan salah! Mungkin karena cita-citanya dulu yang ingin jadi detektif, dan kecintaannya pada novel-novel misteri, oleh sebab itu gadis ini mempunyai beberapa mata-mata di sekolahnya yang akan memberitahukan informasi-informasi yang ingin diketahuinya. Jadi, tidak heran dalam waktu beberapa jam ia sudah mengetahui latar belakang keluarga cowok itu.
Tristan cuma anak tunggal dari sepasang suami-istri yang sudah 4 tahun ini bercerai. Ia lahir di Jakarta, tanggal 15 Oktober 2001. Ayahnya seorang pemilik perusahaan yang cukup ternama sedangkan Ibunya seorang wanita karir.
Dan semenjak percerain kedua orang tuanya, ia tinggal sendiri di sebuah apartmen. Ayahnya tetap tinggal di rumah mereka sementara Ibunya tinggal bersama kedua orang tuanya. Ibunya memang selalu mengabari cowok ini namun sudah 3 bulan ini mereka putus kontak. Dan sepertinya, Ayah dan Ibu cowok berandal ini sebenarnya masih sama-sama sayang dan mungkin gengsi untuk mengatakannya.
Fiona melipat kakinya dan mulai memikirkan berbagai kesimpulan dari ini semua. "Jangan-jangan, Tristan bersikap kayak gini biar bisa Mamanya ngabarin dia lagi? Eh, tapi ini kan udah dari 3 bulan yang lalu, sedangkan sikap berandalnya itu udah dari kelas 1. Atau kalo nggak biar bisa dapet perhatian dari Papa Mamanya? Tapi, bisa juga sih, biar Papa sama Mamanya balikan lagi. Ih, sama aja sih." Dan masih banyak lagi pertanyaan yang rasanya seperti ia ingin menanyakan lansung pada cowok itu.
Fiona kembali memandang layar ponsel dan matanya kini tertuju pada tanggal kelahiran cowok itu. "15 Oktober? Besok dong, berarti."
Fiona lagi-lagi mencoba berpikir. "Jadi, dia nyuruh gue jadi pacarnya di hari ulang tahunnya? Apa mungin karena dia nggak mau ngabisin hari istimewanya sendirian?" tanya Fiona pada dirinya sendiri.
***
Hope you enjoy it!
Jangan lupa tuangkan pendapat kalian tentang cerita ini di kolom komentar
Jangan lupa juga tap love-nya
Dan mohon terus dukung kami dengan cinta!<3
Luv, zypherdust:*