Fiona sudah siap dengan pakaian santainya. Cuma skeany jeans panjang dengan croptee berwarna biru gelap, tak lupa slingbag hitam kesayangannya dengan gambar sketsa Stitch di bagian tengah. Ia membiarkan rambutnya tergerai lantas sedikit menyemprot minyak wangi. Fiona melirik jam di pergelangan tangannya, pukul sebelas lewat lima puluh menit. Ia tadi berkata pada Tristan kalau menjemputnya jam dua belas, karena dia ada sedikit urusan.
"Na, temen kamu udah datang, nih!" teriak Mamanya dari bawah.
"Iya, Ma!"
Sekali lagi, Fiona merapikan penampilannya di depan cermin dan mengambil ponselnya lalu turun ke bawah.
"Hai, Tan," sapanya pada Tristan yang sudah duduk di ruang tamu bersama Papanya yang sedang membaca koran.
"Kamu mau kemana?" tanya Papanya.
"Mau keluar, Pa. Ini sama temen," tunjuk Fiona pada Tristan.
"Bohong, Pa. Dia mau pacaran!" teriak Meghan dari ruang tengah.
"Eh, diem lo jomblo lapuk!" kata Fiona balas berteriak.
"Gue nggak jomblo ya!"
"Udah-udah, mendingan kamu jalan aja, Na. Ribut aja, deh. Kasian juga Tristan udah nunggu," ujar Mamanya
Fiona berdecak. "Kok, Mama kesannya kayak ngusir, sih? Mama juga kok, tau nama Tristan?"
"Ya, tadi kan sempet ngenalin diri, Na," jawab Mama.
Fiona mengalihkan pandangannya pada Tristan dan cowok itu mengangguk.
"Om, Tante, Tristan sama Fiona jalan dulu," pamit Tristan yang sudah berdiri, dibalas anggukan Papa dan Mama Fiona.
"Yaudah, Pa, Ma, Fiona jalan dulu," pamit Fiona juga sembari mencium pipi Papa dan Mamanya. "Ghan, lo mau gue bawain apa?" teriak Fiona.
"Cowok aja bisa?" ucap Meghan dengan gerakan mulut.
"Ok, tenang aja ntar gue cariin." Fiona menunjukan jempolnya.
"Ok, sip."
Fiona hendak berjalan ke arah pintu bersama Tristan, namun seperti teringat sesuatu ia berbalik lagi dan melangkah ke tempat Papanya duduk. Tristan pun juga ikut membalikkan badannya
"Pa," panggil Fiona seperti anak kecil dengan tangan yang menarik ujung kemeja Papanya.
Papa Fiona meletakkan koran di atas meja dan menatap putri bungsunya. "Kenapa?"
"Uang jajan," cicit Fiona dengan menampilkan wajah lucunya.
Papanya menarik napas dan mengeluarkan uang seratus ribuan lima lembar pada Fiona, tapi gadis itu cuma mengambil satu. "Makasih, Papa," girangnya lantas mencium pipi Papanya, juga sang Mama yang menggeleng melihat tingkahnya.
"Ghan, gue jalan dulu, ya," teriaknya lantas berjalan keluar. Sedangkan Tristan, dia berpamitan pada kedua orang tua Fiona untuk yang kedua kalinya.
"Hati-hati, ya. Jangan kemaleman pulangnya. Juga jaga anak Tante baik-baik, dia orangnya ceroboh banget," nasehat Mama Fiona.
Tristan mengangguk. "Iya, Tante.
Tristan dan Fiona melangkah dengan lelah, mencari keberadaan bangku untuk mereka tempati. Mereka sampai di Dufan sudah dari tiga jam yang lalu dan hampir semua wahana mereka naiki. Dan juga sempat berdebat karena Fiona yang keras kepala ingin menaiki wahana yang menguji adrenalin. Gadis itu tak tahu kalau Tristan sangat khawatir padanya, namun ketika melihat ia berteriak dengan heboh sembari tertawa, cowok itu pun ikut tertawa.
Fiona pun juga senang karena Tristan terus tersenyum dan tertawa lepas di hari istimewanya. Ia juga sedikit bangga pada dirinya sendiri sebab membuat cowok itu seperti ini.
Tristan menoleh pada Fiona yang wajahnya sedikit dipenuhi butiran-butiran keringat. Lantas, ia mengangkat tangannya untuk mengelap kening gadis yang menjadi pacarnya hanya untuk hari ini. "Capek?"
Fiona hanya mengangguk dan terlalu lelah untuk memedulikan perlakuan Tristan padanya sehingga membiarkan cowok itu mengelap keningnya.
"Itu, di sana!" tunjuk Fiona pada bangku yang penghuninya baru saja pergi. Ia langsung berlari ke arah bangku itu, takut kalau-kalau bangku itu diduduki orang lain.
Fiona menarik napas lega, begitu duduk di bangku di bawah pohon yang rindang.
"Capek banget," keluhnya.
Tristan ikut duduk di sampingnya. "Mau beli minum?" tawarnya.
Fiona menggeleng. "Ice cream aja."
Tristan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan mendapati mobil stand penjual ice cream yang terletak tak jauh dari tempat mereka. Ia pun berdiri, "gue beliin bentar, ya." Fiona hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Tristan datang dengan kedua tangan yang memegang ice cream dan sebotol air mineral yang diapitnya antara lengan dan badan. "Ini," ia menyodorkan pada Fiona ice cream dengan rasa vanilla.
Saking semangat atau hausnya Fiona melahap, hingga pada gigitan ketiga, ice cream yang dipegangya jatuh ke tanah karena terlalu banyak bergerak.
"Ya ...," gumam Fiona seperti ingin menangis.
Ternyata benar yang dibilang Mamanya. Gadis ini ceroboh. Tristan yang melihat itu langsung menyodorkan ice creamnya yang sama sekali belum ia sentuh. "Nih,"
Fiona menerima ice cream itu dan hendak melahapnya namun, "terus lo, gimana?"
"Gue nggak mau."
"Beneran?" tanya Fiona lagi dibalas anggukan Tristan.
"Jangan marah, ya," katanya lagi.
"Iya, Fio."
Mereka berdua lalu bercerita dan sesekali tertawa akibat ocehan tak jelas Tristan. Tak mau kalah, Fiona pun juga mengeluarkan candaan recehnya membuat cowok itu lagi-lagi tertawa lepas.
'Manisnya,' batin Fiona saat melihat tawa pacar seharinya ini. Lalu kemudian ia menggeleng cepat. Tidak, tidak! Ia tidak boleh khilaf.
"Lo seneng, nggak?" ujar Fiona setelah menjilat ice creamnnya.
"Seneng, seneng banget malah," gumam Tristan.
"Gue juga seneng ...," Fiona terdiam sebentar lalu melanjutkan, "karena berhasil buat cowok berandal kayak lo yang kayaknya cuma bisa senyum sinis, jadi ketawa lepas."
"Fio," panggil Tristan. Yang dipanggil menoleh. "Makasih, ya. Karena udah mau jadi pacar gue walaupun cuma sehari," bisiknya tulus.
"Iya, sama-sama. Tapi ini belum sehari, lho."
Lantas keduanya terdiam. Tristan sibuk dengan pikirannya sementara Fiona sedang fokus dengan ice creamnya yang sisa setengah.
Tristan menoleh dan terkekeh pelan ketika melihat cara makan gadis di sampingnya. "Makannya kayak anak kecil," ujarnya gemas kemudian menjulurkan tangannya untuk menyapu sudut bibir Fiona yang belepotan dengan menggunakan jempol.
Fiona terdiam dan jantungnya kembali berdebar atas perlakuan Tristan. Dan jantungnya semakin berdebar saat Tristan memasukan jempolnya yang sudah terkena bekas ice creamnya ke dalam mulut.
"Manis," ucap Tristan pelan sembari tersenyum dengan manik yang menatap lurus mata Fiona.
Gadis itu menatap sejenak manik cowok di depannya sebelum akhirnya melanjutkan memakan makanan favoritnya dengan menunduk. Berusaha menyembunyikan rona pada pipinya.
"Nih, tadi gue sempet lihat di sana, jadi gue pikir mungkin lo suka." Tristan menyodorkan gantungan berbentuk kelinci kecil.
Fiona menerimanya, "makasih."
"Oh iya, abis ini kita makan dulu, ya? Gue laper nih."
Fiona melirik jam di tangannya. "Tan, maaf banget, ya. Kayaknya sehabis dari sini gue harus langsung pulang, deh. Ada acara keluarga, soalnya. Nggak papa, kan?"
Air muka Tristan berubah seketika, namun ia langsung tersenyum dan mengangguk, "iya, nggak papa."
"Sekali lagi, maaf ya," pinta Fiona yang dibalas anggukan Tristan.
Fiona dan Tristan kemudian sepakat meng-upload foto mereka di i********: masing-masing dengan men-tag satu sama lain.
'Tebak kita lagi di mana?♥
Ps : happy birthday ma boy'
Caption Fiona.
'With my girl who just one day'
Caption Tristan.
Sesungguhnya, Fiona berbohong ketika mengatakan pada Tristan jika ia ada acara keluarga sehingga harus cepat pulang, karena sebenarnya ia ingin menyiapkan surprise untuk cowok itu.
Sekarang, ia tampak puas melihat hasil hiasannya pada balkon restaurant sebuah hotel. Ia sengaja menyewa tempat ini yang memang VVIP karena terletak di paling atas dengan pemandangan yang sangat indah. Tentunya tidak cukup uang sewa jika memakai uangnya. Beruntung pemilik gedung ini merupakan salah satu rekan Papanya sehingga ia dapat sedikit meminta bantuan.
Fiona mengelap peluh keringatnya. Empat jam ia habiskan untuk menyiapkan semua ini, mulai dari membeli ini-itu, bolak-balik toko untuk membeli sesuatu di tengah panasnya matahari, mengatur dan mengubah beberapa kali interior karena kurang pas untuknya, meniup banyak balon dan membuat gantungan kertas dengan tulisan 'Happy Birthday Tristan', itu pun penuh perjuangan karena tulisan tangannya yang memang tidak terlalu bagus juga balon yang entah sudah berapa kali pecah saat ia tiup.
Interior tempat yang tidak terlalu besar ini lumayan bagus, dan percayalah itu semua Fiona lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Beberapa kali pelayan hotel menawarkan bantuan, namun selalu ditolaknya dengan berkata, "udah nggak papa, saya mau ngasih surprise yang luar biasa buat pacar saya."
Fiona mengambil ponselnya lantas mengirim pesan pada Tristan.
'Ke depan M Hotel sejam lagi, kalo bisa pake jas sama daleman warna hijau daun!
Your Girl♡!'
Lagi, Fiona kembali bernapas lega lantas menuju ke salah satu kamar hotel yang digunakan untuk ia mandi dan berganti baju. Setengah jam kemudian, Fiona telah siap dengan minidress bertali satu dengan motif tumbuhan dan berjalan ke arah balkon tadi sembari memegang birthday cake—yang dipesannya tadi pagi—berniat menaruhnya di atas meja. Setelah itu, ia turun ke bawah, menanti kehadiran Tristan.
Beberapa menit kemudian, Tristan turun dari mobilnya dengan jas dan daleman yang berwarna sama dengan motif baju Fiona, dan langsung dihadang dua orang berbadan besar. Kedua orang itu lalu dengan cepat menutup mata Tristan dengan penutup mata. Ini merupakan salah satu bagian dari rencana Fiona.
Cowok itu memberontak, namun langsung terdiam ketika mendengar suara Fiona. Ia sangat hafal dengan suara gadis ini. "Tristan, tenang."
"Fiona?" panggil Tristan.
"Shh, diam dan ikut gue!" perintah Fiona dan menyuruh kedua orang berbadan besar tadi untuk melepaskan Tristan.
Fiona lantas menuntun cowok itu untuk berjalan karena matanya yang sengaja ditutup.
"Lo Fiona, kan?" tanya Tristan lagi saat keduanya berada di dalam lift.
"Udah, diem!"
Fiona sedikit bersyukur karena cowok itu menjadi penurut sehingga tidak terlalu susah membawanya ke lantai paling atas.
Ketika sampai di balkon, Fiona menyuruh Tristan berhenti kemudian berbisik, "kalo gue bilang, buka, baru lo buka penutup matanya, ya," cowok itu mengangguk.
Fiona melangkah cepat ke belakang meja yang sudah dihiasinya tadi, lalu mengambil birthday cake dengan tulisan 'Happy Birthday Tristan' di lempengan cokelat di atasnya, untuk ia pegang.
Setelah siap, Fiona agak berteriak pada Tristan. "Buka!"
Ketika Tristan membuka penutup matanya, gadis itu kembali berteriak.
"Happy Birthday Tristan!" Fiona tersenyum riang.
Tristan speechles. Ia tak pernah menyangka gadis di depannya ini akan membuat ini semua untuk dia. Ia berjalan ke arah Fiona dan berhenti tepat di depan gadis manis itu. Bahkan keluarganya tak pernah melakukan hal seperti ini padanya, mengingat hari ini adalah hari ulang tahunnya pun tidak.
"Happy Birthday Tristan. Happy Birthday Tristan. Happy Birthday, Happy Birthday. Happy Birthday Tristan." Fiona bernyanyi dengan suara sumbangnya.
"Sebelum tiup lilinnya, make a wish dulu."
Tristan pun menutup mata beberapa saat dan saat membuka mata, ia bahagia karena yang di depannya adalah Fiona yang tersenyum dan masih setia memegang birthday cake untuknya. Ia pun meniup lilin berbentuk satu dan tujuh yang ditancapkan di bagian sisi cake.
"Yeayy!"
Fiona berbalik dan menaruh cake itu di atas meja dan saat tangannya sudah tidak memegang apa-apa lagi, ia terpaku ketika merasakan sepasang tangan yang melingkar di bawah lehernya dan hembusan napas yang ia rasakan pada bahu sebelah kirinya yang terbuka.
"I don't know. Maybe, oh s**t! I just really like you," bisiknya.
Deg!
Hati Fiona mencelos. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Untuk beberapa saat mereka seperti ini, sampai Tristan membalikkan tubuh gadis itu dan kembali memeluknya erat.
Tristan melepaskan pelukannya dan memegang pundak Fiona lantas menatap gadis itu.
Fiona hanya terdiam. "Ayo duduk," ucapnya.
Tristan menurut dan keduanya pun duduk di kursi yang telah disediakan. Tristan memotong cakenya lantas memutuskan untuk menyuapi gadis di depannya.
"Oh iya, gimana penampilan gue?" Fiona berdiri dan bergeser ke samping agar Tristan bisa melihatnya.
Cowok itu menatap Fiona dari atas ke bawah lantas mengedikkan bahunya, "biasa aja," jawabnya acuh.
Fiona berdecak kesal lalu kembali duduk. Sedangkan Tristan malah terkekeh pelan melihatnya.
"Tadi katanya disuruh dandan yang cantik, sekarang udah dandan malah kayak gini," omel Fiona.
"Cantik, kok," sahut Tristan yang menahan tawa.
"Kalo nggak ikhlas nggak usah bilang," balas Fiona ketus.
"Lo cantik, Fio. Beneran," entah apa yang membuat cowok itu masih menahan tawanya.
"Bisa yang lebih ikhlas?" Fiona berkata sarkas dengan senyuman paksa.
Tristan menarik napas dalam lalu balas menatap gadis itu. "Fio, lo cantik." Katanya lembut. Walaupun cuma tiga kata, tak bisa dipungkiri kalau pipi Fiona berhasil bersemu merah. Ia menunduk, tak ingin menunjukan pipinya pada Tristan.
"Tuh, kan. Lo blushing," ledek Tristan.
"Apa sih!"
Dan, malam itu mereka habiskan untuk bercanda juga menikmati saat-saat seperti ini. Tristan senang. Fiona pun juga senang.
Tristan membuka pintu mobil untuk Fiona. Kemudian keduanya berdiri berhadapan di depanpagar rumah gadis itu.
"Fio, thanks for today. Gue nggak nyangka ini jadi hari ulang tahun terbahagia gue."
"Iya. Ciee, yang udah 17 tahun," goda Fiona.
"Setelah ini, kita end, dong?" tanya Tristan. Dari raut mukanya kelihatan sekali bahwa cowok ini sama sekali tak mau mengakhiri hubungan mereka.
"Siapa bilang? Kan sehari, berarti masih ada ...," Fiona melirik jam di tangannya, "2 jam lagi."
Tristan diam sejenak tampak memikirkan sesuatu, "kalo gitu, gue boleh ngelakuin satu hal nggak, sebagai pacar lo?" tanya cowok itu sedikit ragu.
Fiona mengangguk.
Tristan lantas sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada Fiona. Wajahnya semakin dekat, namun ketika hampir bersentuhan, ia berhenti dan tersenyum melihat muka gadis itu yang sedang menutup matanya. Ia mengurungkan niatnya untuk mencium bibir gadis yang telah membuat jantungnya berdebar tiap kali di dekatnya, dan malah mendaratkan bibir pada pipi kiri gadis itu.
Hanya lima detik dan Tristan kembali menarik wajahnya dan menatap Fiona yang telah membuka matanya dengan canggung.
Tristan membalikkan badan Fiona dan mendorong pelan pundaknya untuk masuk ke dalam pagar. "Sana, masuk!" perintah Tristan sembari mengarahkan dagu pada rumah Fiona.
"Lo jalan dulu," balas Fiona disambut Tristan yang melotot padanya
Dengan terpaksa, ia masuk ke dalam rumah, namun sebelum masuk ia sedikit menoleh dan tersenyum pada cowok itu yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Kemudian, ia benar-benar masuk.
Tristan menunggu beberapa saat, lantas berbalik bermaksud memasuki mobilnya, tapi ia menyempatkan untuk menoleh dan memandang kamar Fiona yang lampunya menyala, menandakan kalau gadis itu sudah sampai di sana.
"Thanks, God. Kiriman-Mu sungguh luar biasa. Dan sekarang gue udah yakin, i really like her."
Gengs, aku izin promotin cerita temenku yaaa :v
Judul: REnJANA
Username dreame: LidiWidi
Blurb:
Janatra itu... salah satu cowok mode irit dan sedikit cupu di Jurusan Teknik Sipil. Jangankan pacaran, dia bahkan jarang tampil berbicara dan berduaan dengan cewek. Dia seperti itu bukan karena ada kelainan, dia hanya ingin segera menyelesaikan kuliah tanpa neko-neko, ingin segera lulus dan tentunya mendapatkan pekerjaan yang bagus supaya bisa membahagiakan orang tuanya.
Sayangnya ... rencana Janatra berantakan.
Setelah lulus kuliah dan bekerja, orang tuanya malah sepakat menjodohkan Janatra dengan Revalia-yang dia kenali sebagai salah satu cewek bermasalah di kampusnya dulu. Revalia itu ... cewek yang nyaris drop out di kampus karena kesibukannya sebagai DJ di sebuah kelab malam.
Janatra tidak begitu yakin dengan pergaulannya ... cewek itu masih menjaga dirinya atau tidak?
Yang Janatra tahu, "Cewek baik-baik untuk cowok baik-baik."
Kurang baik bagaimana lagi dirinya selama ini? Mengapa Tuhan mengujinya begitu berat?
Gimana? Penasaran sama kisah Janatra dan Revali? Skuyy langsung mampir aja ke lapak temenkuu! Dan jangan lupa untuk tap love untuk cerita ini dan ceritanya yaaa. Luv, zypherdust<3