Chapter 15

1827 Kata
Gadis yang sedang berbaring di kasurnya dengan masih menggunakan seragam sekolah itu tengah meng-stalk akun i********: Richard, cowok yang disukainya. "Ck, nggak ada kiriman baru."  Ia beranjak dari tempat tidur dan turun ke bawah, bermaksud ingin mengambil air minum. Ponselnya ia tinggalkan begitu saja di atas kasur. "Mama sama Papa kemana?" tanya Fiona ketika sampai di dapur dan melihat Meghan yang sedang duduk di meja makan dengan ponsel di tangan. "Ke rumah Oma Dua hari lagi baru balik," jawab Meghan tanpa menoleh sedikitpun. Fiona mengambil gelas di atas meja lantas menuangkan air dingin dari botol yang diambilnya di kulkas tadi. "Nggak kuliah, lo?" tanya Fiona sesudah meneguk air minumnya. "Jam 4. Ntar, gue nginep di rumah temen, mau ngerjain tugas. Jagain rumah baik-baik. Awas lo kalo sampe ada yang hilang." "Hm." Fiona yang merasa kesal karena terus diacuhkan, walapun sudah membuat bunyi-bunyi dari gelas yang tadi ia minum untuk mendapat perhatian kakaknya, memajukan wajah, berniat melihat isi ponsel Meghan. "Apa sih! Kepo deh," marah Meghan lantas beranjak dan pergi menuju kamarnya. Fiona memutar matanya lalu berdecak. Ia mengambil sepotong tart s**u yang dibuat Mamanya di atas meja dan berjalan kembali ke kamarnya. Sampai di kamar, ia langsung meraih ponselnya yang berkedip. Terdapat satu pesan di sana dari salah seorang mata-matanya yang ia tugaskan untuk mencari nomor dan membuat janji dengan orang tua Tristan. Ia sedikit bersyukur karena Ayah dan Ibu Tristan akhirnya mau diajak bertemu setelah beberapa kali orang suruhannya memohon atas nama dirinya.  Mungkin hal itu terdengar berlebihan tetapi memang Fiona setidak jelas itu sampai-sampai berlagak seperti pemain film. Ia menelepon orang yang barusan mengirim pesan padanya. "Di, mereka bilang apa?" "Kayaknya mereka masih ada kontak batin deh, buktinya mereka sama-sama mau asal hanya sejam, dan bisanya sama-sama jam 7. Kebetulan banget, kan?" Dian yang berada di seberang telepon terkekeh pelan. "Lo udah nentuin tempatnya?" "Eagle's Cafe," "Ok, makasih banyak ya, Di." "Yo, sama-sama." Setelahnya, sambungan dimatikan. Fiona merebahkan diri di kasur dan melihat jam di ponselnya. "03.45. Masih ada 3 jam-an lagi, buat istirahat," Ia bergumam, lalu karena kelelahan, matanya mulai terpejam. Fiona sudah duduk manis di salah satu kursi Eagle's Cafe. Ia melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya dan melihat ke sekeliling. Juga menyalakan ponselnya dan bergerak dengan gelisah. Sejurus kemudian, seorang wanita separuh baya yang masih keliatan muda memasuki pintu Cafe, diikuti seorang pria di belakangnya. Ia mengedarkan pandangan kemudian berjalan ke arah tempat Fiona duduk.  Fiona yang melihat kedatangan tamunya langsung berdiri. Dan ketika mereka sudah sampai di depannya, ia mempersilahkan duduk. "Om, Tante," sapanya lantas mencium tangan mereka. Setelah itu ketiganya duduk dan beberapa saat terdiam. Mama Tristan sangat cantik begitupun Papanya yang juga sedikir kelihatan muda walaupun sudah ditumbuhi rambut-ranbut halus di sekitar dagunya. Tak heran, mengapa Tristan begitu tampan. Gadis yang sekarang tampak canggung itu sedikit bingung karena orang tua Tristan yang datang bersama. Apa mungkin mereja janjian? Pikirnya. "Jadi, ada apa?" tanya Mama Tristan sambil tersenyum. "Ehm, sebelumnya maaf karena udah menganggu waktu kalian dan perkenalkan, saya Fiona, teman Tristan." "Teman?" Mamanya bertanya seakan tidak percaya. Ia menoleh pada pria di sampingnya. "Ah ...," wanita itu seperti mengingat sesuatu kemudian mengambil dan mengotak-atik ponselnya sebentar sebelum menunjukannya pada Fiona. "Ini yang kamu maksud teman?" tanyanya masih tetap tersenyum. "Eh, itu cuma sehari, Tante." "Maksud kamu?" Wanita separuh baya itu menautkan alisnya bingung. "Hanya kemarin dia minta saya buat jadi pacarnya," jawab Fiona. "Kalau begitu, ceritakan apa yang terjadi kemarin, tentu ada hubungannya dengan ini, kan?" ucap Lidya, Mama Tristan, dengan menunjukan postingan terbaru anaknya di i********:. Fiona menarik napasnya. "Kemarin, Tristan minta sama saya untuk jadi pacar seharinya. Yang saya maksud di sini, hanya kemarin. Saya awalnya juga bingung dengan permintaan dia, tapi saya tetap bilang iya. Dan saya baru tahu kalau kemarin itu adalah hari ulang tahun dia. Kita ngabisin waktu bersama, dan mungkin sedikit aneh, karena cowok yang terkenal berandal di sekolah itu, kemarin tersenyum bahkan tertawa lepas. Dan yang saya lihat kemarin, dia bener-bener bahagia," jelas Fiona. "Apa dia benar-benar tersenyum?" tanya Liam, Papa Tristan, yang daritadi cuma terdiam. Fiona mengangguk. Raut wajah Lidya berubah turun, ia merasa sudah gagal menjadi seorang Ibu karena sama sekali tak pernah membuat anaknya tertawa bahkan tersenyum. Ditambah, jam pekerjaannya yang hampir tiga bulan ini meningkat membuatnya jadi tidak pernah lagi mengabarinya, ia semakin menyesal. "Om, Tante, maaf kalau saya terkesan lancang karena mencampuri urusan keluarga kalian, tapi saya cuma ingin memberitahukan satu hal, kalau Tristan butuh kalian ...," Fiona mengggit bibirnya, "Tristan butuh kalian dari empat tahun yang lalu. Mereka pun terdiam. "Mungkin selama ini Tristan ngelakuin hal yang buruk kayak ngerokok, bolos, berantem, nggak ngerjain pr, itu semua biar dapet perhatian dari kalian." Kata Fiona membuat kedua orang di depannya terdiam. "Saya selalu memperhatikan dia setiap hari, mengajaknya makan bersama, dan bersikap seperti seoarang Ayah pada umumnya, tapi dia malah tidak memedulikan itu semua," tukas Liam. "Om nggak ngerti. Dia nggak cuma butuh perhatian dari Papanya," Fiona menoleh pada Lidya. "Tapi juga dari Mamanya." "Kalian nggak tahu kan, kalau sebenarnya dia itu rapuh? Dan saya yakin banget, di dalam hatinya ada keinginan yang besar untuk punya keluarga yang utuh, dia juga pasti sangat ingin bersama dengan kalian berdua. Bahkan, ketika Papa sama Mama saya ke luar kota karena ada acara keluarga atau hal lainnya, saya ngerasa sedih karena rumah rasanya kayak kosong. Apalagi Tristan yang selama ini tinggal sendirian di apartment. Kalian bisa bayangkan perasaannya, kan?" mata Fiona mulai memerah karena menahan air mata. Ikut merasakan yang Tristan rasakan selama ini. "Saya mohon, pikirkan akibat yang Tristan alami dari—maaf—keegoan  kalian. Saya juga sangat yakin, kalau kalian sama-sama masih memiliki perasaan satu sama lain. Itu terbukti dari kedatangan kalian yang bersama ke sini dan cincin pernikahan kalian yang masih dipakai. Sekali lagi, maaf karena saya lancing banget ngundang kalian ke sini dan bicara seenaknya. Saya cumin nggak mau Tristan ngerasain sakit lagi."  Sontak, Lidya langsung mengenggam jarinya yang masih terpasang cincin perak. Fiona hendak membuka mulut untuk berbicara, namun terhenti. "Ngapain lo di sini sama mereka!" bentak Tristan yang entah datang dari mana pada Fiona. "Tristan?" Fiona tampak kaget melihat cowok itu di depannya dengan wajah yang memerah karena menahan amarah dan tangan yang mengepal. "Ikut gue!" Perintah Tristan dan hendak meraih tangan Fiona. "Nggak!" "Ikut!" bentak Tristan lantas menarik tangan Fiona kasar, meninggalkan kedua orang tuanya yang tak tahu harus berbuat apa. Tristan membawa motornya tak tentu arah dengan kecepatan penuh, tidak memedulikan teriakan Fiona di belakangnya. Sedangkan gadis itu sudah pucat pasi dan keringat dingin dengan jantung yang berdetak cepat karena ketakutan, ia sudah berhenti berteriak, hanya menutup mata dan memeluk Tristan erat agar tidak terjatuh. Tak sadar, bulir-bulir air mulai turun dari matanya. Tristan memberhentikan motornya di sebuah jalan besar yang sepi, hanya terdapat lampu jalan dengan pencahayaan remang yang sedikit membuat jalan itu masih bisa dilihat. Fiona langsung turun dengan napas yang tersengal. Tristan pun ikut turun lantasmembanting helmnya dengan penuh emosi.  "Maksud lo apa ketemu sama mereka!" Tristan mengulangi pertanyaannya tadi dengan bentakan. Fiona diam, masih berusaha mengatur detak jantungnya agar kembali normal. "Gue cuma mau buat mereka baikkan." Fiona berkata pelan dengan napas yang masih sedikit tersengal. "Emang lo siapa berani-baraninya ngelakuin itu? Lo bukan siapa-siapa, anjing! Nggak usah ngurusin hidup gue, urusin aja hidup lo! Gua juga nggak pernah minta lo ngurusin keluarga gue! Seharusnya dari awal, gue nggak usah berurusan sama lo! Dan jangan pernah muncul lagi di depan gue! Gue muak liat muka sok baik lo!" bentak Tristan dengan  penuh amarah. Fiona mengepalkan tangannya. "Iya, gue tau gue salah! Emang seharusnya gue nggak ngurusin dan campurin urusan keluarga lo! Tapi gue ngelakuin ini semua juga karena lo! Karena gue pengen lo bahagia! Kalo lo nggak mau, yaudah! Dan sesuai permintaan lo, gue nggak akan pernah muncul di depan lo, karen gue tau kalo lo muak lihat muka sok baik gue!" teriak Fiona di depan wajah Tritan dan berbalik dan berjalan beberapa langkah. Ia mengahapus air matanya dengan kasar yang entah sejak kapan mengalir. "b*****t!" Tristan menggeram lantas menaiki motornya dan berjalan pergi. Fiona semakin terisak ketika Tristan pergi meninggalkannya. Di sini, di tempat yang sepi ini seorang diri. "Tristan t*i!" umpat gadis itu di sela-sela isak tangisnya. Gadis itu mengambil helm yang tadi dijatuhkan Tristan lantas memeluknya dan melangkah, berniat untuk berjalan pulang dengan masih sesenggukan. Setelah berjalan cukup jauh, Fiona sampai di sebuah toko kecil yang telah tutup. Ia sudah berhenti menangis dari lima menit yang lalu, karena menangis tidak akan membuatnya sampai di rumah. Ia memutuskan duduk di emperan toko tersebut. Beberapa saat kemudian, Fiona melirik jam di tangannya dan menarik napas dalam. Mobil ataupun kendaraan apa saja yang ia tunggu dari tiga puluh menit yang lalu sama sekali tak melintas di depannya. Fiona meraba-raba saku celananya dan baru menyadari kalau ponsel juga tasnya tertinggal di Cafe karena Tristan yang menariknya secara paksa. Pikiran-pikiran aneh mulai bermunculan di benaknya. Ia sendirian di sini. Bagaimana jika sampai besok tidak ada kendaraan yang lewat? Atau bagaimana jika ada orang yang bermaksud jahat? Tanpa sadar, ia kembali terisak ketika memikirkan berbagai hal buruk yang ia harap tidak dialaminya. Fiona sedikit tersenyum dan bernapas lega ketika dari jauh ia melihat seseorang berjalan dengan sempoyongan. Saat orang itu sudah mendekat, gadis ini malah panik karena mengetahui kalau orang itu mabuk dengan baju yang lusuh dan tangan yang memegang botol minuman berakohol. Gadis itu gemetar hebat, berusaha diam dan tak bergerak. Keringat dingin kembali ia rasakan. Ia menggigit bibirnya dengan ketakutan, memikirkan apa yang harus dilakukan kalau-kalau pria itu benar menghampirinya. Dan kembali ia bernapas lega, pria yang tampak sempoyongan dan berkicau tak jelas itu berjalan melewatinya tanpa menoleh. Mungkin karena pengaruh alkohol yang membuat ia tak sadar lagi. Setelah pria tadi sudah hilang di ujung jalan, Fiona malah semakin panik, ia takut jika yang datang nanti bisa lebih dari seorang pria mabuk yang tak menyadari kehadirannya. Dan mengingat berita-berita di televisi tentang kasus penculikan untuk diambil organ tubuh korban, semakin membuatnya panik. "Papa, Mama …, panggil Fiona pelan, "Fiona takut."  "Tristan, kok lo tega sih ninggalin gue sendirian di sini?" ucapnya dengan sedikit terisak. JEDAR!! JEDAR!! "Aaahhh!" teriak Fiona terkejut ketika mendengar suara petir, membuat ia semakin menangis. Tak lama, rintik-rintik hujan mulai menetes mengenai kepala Fiona. Gadis itu dengan cepat menutup kepalanya. Namun, ia kembali menurunkan tangannya, toh pada akhirnya ia akan tetap basah. Sedetik kemudian, rintikan tadi telah berubah menjadi hujan deras dengan diiringi suara petir yang menyambar. Fiona menengadah, membiarkan wajahnya terkena tetesan air. Lalu ia menunduk, menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan dan masih terus menangis. Kini, ketakutannya bercampur dengan kedinginan. Beberapa menit kemudian, ia merasakan pundaknya disentuh seseorang. Reflkes, ia mundur dengan ketakutan. "T-Tristan?" bisiknya dengan suara serak. "Fio," panggil Tristan. Tristan merasakan sesak di dadanya ketika melihat gadis yang disukainya dalam kondisi seperti ini. Bajunya basah kuyup, matanya memerah dan sembap, tubuhnya gemetar karena kedinginan, wajahnya sudah seputih kapas, dan bibirnya membiru. "Fio, gue-" ucapan Tristan terhenti ketika Fiona yang menghambur ke dalam pelukannya. "Lo jahat! Lo ninggalin gue di sini sendirian," keluh Fiona dengan parau. "Gue takut," bisiknya di dalam pelukan Tristan. Bahkan, untuk menangispun ia sudah lelah. Tristan lantas memakaikan jaketnya yang sudah ia lepas terlebih dahulu pada Fiona yang masih memeluknya erat, sama sekali tak ingin keluar dari pelukan cowok itu.  Tristan pun balas memeluk Fiona dengan erat, berusaha memberikan kehangatan dan rasa aman pada gadis ini. "Gue mau pulang," bisik Fiona lagi. "Iya, kita pulang," jawab Tristan. Dan satu yang Fiona rasakan saat menghambur ke pelukan Tristan, hangat. *** Jangan lupa tuangkan pendapat kalian tentang cerita ini dan juga tap love-nya Mohon terus dukung kami dengan cinta!<3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN