Chapter 16

1254 Kata
Tristan masih menggenggam erat  tangan Fiona begitu mereka turun dari motor. Tubuh mereka sama-sama basah karena hujan tetapi keduanya juga sama sekali tidak memedulikan pandangan aneh orang-orang di dalam gedung apartmen. Fiona masih memakai jaket Tristan dan terus menduk. Bibirnya bergetar karena kedinginan. Tristan menekan beberapa angka sebagai password apartmennya dan membawa Fiona masuk ke dalam. Ia menundudukkam gadis itu di sofa dan langsung pergi ke kamarnya. Beberapa saat kemudian ia kembali, menarik Fiona dengan pelan untuk ia ajak ke kemarnya. Fiona yang terlalu lelah tidak sempat untuk membuka suara. "Aku udah siapin air hangat, kamu mandi dulu, ya. Aku keluar sebentar." Sebelum Tristan hendak berbalik, Fiona menahan tangannya. Dan berucap hampir seperti berbisik. "Kemana?" "Sebentar, aja, kok," kata Tristan lembut sambil mengusap-ngusap kedua bahu gadis yang selalu membuat jantungnya berdebar itu. Fiona pun mengangguk. Lantas Tristan berjalan dan menghilang di balik pintu. Gadis itu lantas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, sesuai dengan permintaan cowok itu. Hampir dua puluh menit Fiona berendam di bathup milik Tristan. Walaupun semula ia tampak ragu, tetapi akhirnya air panas yang sudah disiapkan temannya itu berhasil membuatnya hampir terlelap. Ia mungkin saja akan tertidur kalau sedetik kemudian tidak memikirkan Tristan. Pria itu mungkin saja sudah pulang. Dan tadi ia yang pergi dengan pakaian yang basah membuat Fiona langsung bangkit dari rendamannya.  Ia keluar dari kamar mandi dan menemukan paper bag berwarna hitam di atas tempat tidur. Tangannya meraih benda itu dan menemukan beberapa potong baju, celana, dan juga pakaian dalam perempuan. Fiona lantas langsung memakai sebagian isinya dan keluar dari kamar Tristan. Gadis itu mendapati Tristan sedang duduk di atas kursi di balik kitchen bar dengan pakaiannya yang mulai sedikit mengering. "Astaga, Tan. Maaf, pasti lo kedinginan," kata Fiona menghampiri cowok itu. Tristan menoleh pada Fiona. Ia bangun dari duduknya dan menatap Fiona yang beriri tepat di depannya. Dengan berani tangannya ia ulurkan untuk mengelus pelan rambut hitam gadis itu. "Santai, aja." "Udah, sekarang lo mandi. Gue nggak mau lo sakit gara-gara gue," titah Fiona. Tristan bernapas lega saat ia rasa gadis itu sudah lebih baik dari saat ia membawanya ke sini. Tristan lantas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Fiona masih tetap berdiri. Ia tertegun sejenak. Ia menoleh ke kaca besar di dinding dekat ruang tengah yang menampilakan langit malam dengan guyuran air hujan yang belum berhenti sejak tadi. Pria itu pasti pergi membelikannya pakaian yang ia temukan di dalam kamar tanpa peduli dengan kondisi di luar. Fiona menggigit bibir. Rasa bersalah mulai menjalar di dalam dirinya. Berpikir sebentar ia lalu berniat memesan makanan untuk menebus kesalahannya, tetapi lupa bahwa ponsel dan tasnya tertinggal di cafe saat Tristan menariknya pergi sore tadi. Berpikir cepat, gadis itu langsung mengecek laci-laci di dapur Tristan, siapa tahu ia menemukan hal yang bisa ia masak.  Tatapannya jatuh pada dua bungkus mie kemasan yang berada di dalam lemari. Gadis itu tersenyum senang lantas membuat mie rebus ala kadarnya untuk Tristan dan dirinya. Selang beberapa menit, Tristan keluar dari kamarnya dengan kondisi yang lebih segar. Rambutnya yang basah membuat pria itu semakin terlihat tampan. Fiona bahkan harus terus memperingati diri sendiri untuk tidak khilaf pada pria itu. Mau bagaimana pun juga, Fiona hanyalah manusia yang tidak tahan dengan nikmat duniawi. Apalagi jika itu berhubungan dengan pria tampan, dan salah satunya sedang berdiri tepat di depannya sekarang. "Gue nggak tau harus gimana biar bisa lo maafin, maaf karna buat lo hujan-hujanan demi beliin gue baju," ucap Fiona. Ia tertunduk menatap jari-jari kakinya yang terlihat lebih putih karena suhu udara yang semakin lama semakin dingin.  Tristan meringis melihat Fiona yang tampak sangat menyesal dan merasa bersalah. Padahal yang seharusnya minta maaf di sini adalah dirinya. Karena sudah bertingkah kasar pada gadis yang disukainya, membuat ia kehujanan, ketakutan, dan juga tak ada kemungkinan Fiona tidak akan terkena flu atau demam nantinya. "Harusnya gue yang minta maaf, Fio. Maaf karena udah kasar dan tinggalin lo sendirian. Maaf udah buat lo takut." Fiona mengangkat kepalanya dan menggeleng tegas. "Nggak, Tan. Gue yang salah," gadis itu kembali menunduk, tidak berani menatap Tristan. "Maaf karena udah nyampurin urusan keluarga lo." Untuk yang satu ini Tristan akui ia kesal juga marah. Tetapi ia akan lebih benci pada dirinya sendiri jika sampai berbuat jahat pada gadis yang disukainya. Pria itu maju selangkah. Mengacak-ngacak rambuat Fiona. "Udah, nggak papa. Gue nggak marah, kok." Tristan lantas meraih nampan berisi dua mangkuk mie rebus yang sudah dibuat Fiona dan membawanya  ke arah ruang tengah. Fiona mengekor dari belakang, dengan masih menundukkan kepala dan jari yang dimainkan dengan canggung. "Hey, it's ok. Aku nggak marah," ucap Tristan. Ia menarik dagu Fiona ke atas menatap kedua maniknya. "Beneran?" "Iya." Fiona menampilkan senyum sumringahnya. "Makasih, Tan!" Tanpa menunggu lama gadis itu langsung mengambil alih salah satu mangkuk di atas nampan dan memakannya lahap. Tristan tersenyum sebelum ikut melakukan hal yang sama seperti Fiona. Mereka berdua menghabiskan makan malam sambil sesekali bercengkerama. Hari pun semakin malam. Hujan masih turun dengan deras dan Tristan juga sama sekali tidak berniat untuk mengantar pulang Fiona. "Nginep sini, ya?" tanya Tristan. "Nggak papa?" Fiona bertanya balik setelah selesai mencuci mangkuk dan gelas bekas makan mereka berdua. "Harusnya gue yang nanya, nggak papa kalo lo nginep sini? Udah malam gini, hujan juga gak berhenti-berhenti. Mobil gue lagi diservice, dan nggak mungkin gua nganter lo pake motor. Atau lo mau gue temenin naik taxi?"  Fiona menggeleng. "Gue nggak mau ngerepotin lo lagi." "Jadi gimana?" "Tapi, gak papa, kan, gue nginep sini?" "Astaga, Fiona." Tristan berucap gemas. "Yah, nggak papa, lah. Izin orang rumah dulu." Fiona menggigit bibir bawahnya. "Hp gue ...." Tristan lalu mengulurkan ponselnya pada gadis itu. Fiona lantas menelepon Meghan dan berkata bahwa ia akan menginap di rumah Carol bersama Melody. Bisa dimutilasi ia jika kakak tersayangnya itu tahu kalau ia sedang bersama dengan lelaki di jam selarut ini. "Lo tidur di kamar aja, biar gue tidur di sofa," kata Trsitan. "Tapi, nggak papa emangnya?" "Lo ngomong gitu sekali lagi, gue beneran ngusir lo dari sini," ancam cowok itu ia sudah membaringkan tubuhnya di sofa. "Nggak mau ngapain dulu gitu?" "Ini udah hampir tengah malam, Fio. Gue tau lo kecapekan—" "Nggak! Gue nggak kecapekan, kok." "Dan besok gue harus sekolah." Fiona mendengus lalu berjalan ke kamar cowok itu. Tetapi langkahnya terhenti saat Tristan memanggilnya. "Fiona."  Yang dipanggil pun menoleh.   "Kalo ada apa-apa panggil gue aja. Sweet dream." Fiona mengangguk. "Iya, Tan, makasih. Lo juga." Pagi harinya Fiona sempat teekejur begitu menemui dirinya terbangun di tempat asing yang terlihat seperti kamar pria. Sempat merasa panik sebentar sebelum sadar kalau ia memang sedang berada di rumah Tristan. Tetapi Fiona tidak menemukan batang hidung pria itu di sekitar apartmen.  Tetapi terkejut begitu seorang wanita paruh baya yang muncul dari kamar mandi di dekat dapur.  "Tante?" "Hai, Fiona." "Tante, kok?" "Iya, Tante mampir bentar buat ngembaliin tas sama hp kamu." Fiona mengangguk paham. Tetapi kemudian ia menyadari sesuatu dan dengan gugup berniat menjelaskan semuanya pada Ibu Tristan itu. Namun saat akan membuka suara, Lidya terlebih dulu berbicara. "Tristan udah jelasin semuanya, kok," katanya. Ia melangkah ke arah dapur dan tampak sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam plastik. "Ini, tadi Tante sempet beli bubur ayam waktu ke sini. Ayo kita makan dulu. Kata, Tristan, sore nanti baru dia anterin kamu. Fiona duduk di meja makan dan menyantap bubur ayam dengan Lidya. Terakhir kali ia bertemu wanita itu saat bersama Tristan dan kini mereka cuman berdua membuat ia entah mengapa gugup. Apalagi saat ini ia diketahui menginap semalam di sini. Lidya menyadari kecanggungan Fiona. Ia tersenyum dan mengelus rambut gadis itu. "Udah, santai aja." "Tante nggak ke kantor?"  "Nggak papalah izim sehari." Dan hari itu dihabiskan Fiona untuk mengobrol santai dengan Ibu dari Tristan. Lidya banyak menanyakan soal dirinya, Tristan, juga pandangan Fiona tentang Tristan. Fiona yang memang pada dasarnya polos, tidak mengerti kalau sebenarnya wanita paruh baya itu sedang mencari tahu apa rasa suka anaknya terbalas atau tidak. Sore hari, Tristan akhirnya mengantat Fiona pulang ke rumahnya *** Mohon terus dukung kami dengan cinta!<3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN