Gadis berseragam SMA Pelita Harapan tengah meng-scroll layar ponsel dengan menarik sudut bibirnya. Ia sedang membaca pesan di roomchat Cecans. Fiona meraih gelas kaca di meja yang berisi cairan berwarna orange lalu menyeruputnya melalui sedotan.
Sudah dari lima belas menit yang lalu gadis berperawakan kecil itu sampai di sini. Pasalnya, saat istirahat tadi ia mendapat telepon dari nomor asing yang mengaku sebagai Ibu Tristan, dan memintanya untuk bertemu di sini, di sebuah Cafe kecil dekat sekolah. Jadi, setelah bel berakhir berbunyi dan berpamitan pada Carol juga Melody, ia langsung melesat ke sini. Fiona memotong cheesecake dengan menggunakan garpu kecil, kemudian menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum memasukan ke dalam mulut.
Bel berbunyi menandakan ada orang yang membuka pintu Cafe. Fiona melihat ke arah pintu masuk dan mendapati seorang wanita berpakaian setelan kantor warna hijau pastel yang mengamati sekitar, sebelum akhirnya tersenyum pada gadis itu. Ia pun balas tersenyum.
Fiona yang tadi bersandar pada kursi, menegakkan tubuhnya saat Lidya, wanita separuh baya tadi sudah duduk di depannya.
"Hai Tante," sapa Fiona. "Maaf, udah pesen duluan," lanjutnya kemudian.
Lidya tampak sibuk dengan ponselnya lantas mendongak untuk menatap gadis di depannya. "Iya, nggak papa. Kamu udah nunggu lama?"
"Nggak, Tante. Baru juga dateng."
Lidya kembali memfokuskan diri pada layar ponsel sebentar, kemudian mematikkan dan menaruhnya di atas meja. Ia memanggil waiter dan berkata, "samain aja," dengan senyum yang menawan.
Gadis berambut lurus sebahu itu tersenyum canggung sembari memainkan jarinya di bawah meja. Mama Tristan, Lidya, yang melihat itu tersenyum lembut.
"Ehm, jadi ada apa Tante manggil aku ke sini?" tanya Fiona yang akhirnya membuka suara.
"Tante ingin ngucapin dua hal ...," Lidya berhenti sebentar untuk tersenyum pada waiter yang baru saja membawakan pesanannya, Ia kembali menatap Fiona, "maaf atas perlakuan anak Tante kemarin, yang sudah bersikap kasar sama kamu."
Fiona tersenyum sopan." Iya Tante, nggak papa. Saya juga mau minta maaf sekali lagi karena udah bicara nggak sopan sama kalian kemarin, dan terlalu nyampurin urusan keluarga Tente. Saya tahu, saya salah. Dan saya sangat menyesal."
"Maaf juga karena sikap Tante yang egois sehingga berpengaruh besar pada Tristan." Terlihat jelas sekali kalau Lidya sangat menyesali perbuatannya.
"Lho, kenapa Tante minta maaf sama saya? Seharusnya, Tante minta maaf sama Tristan," ucap Fiona.
"Oh, benar juga kamu." Lidya terkekeh pelan.
"Fiona, terimakasih banyak. Karena kamu udah ngebuka hati Tante dan suami Tante untuk nggak mikirin ego kita masing-masing dan mikirin perasaan Tristan juga. Sebenarnya kita satu sama lain udah tahu dan ngerti, tapi karna gengsi dan juga ego, kita tetep masa bodoh sama hal itu. Tapi sekarang ternyata bahkan ada orang lain yang sampai berani ngomong kayak gini, jujur Om dan Tante malu sekali,” jelas Lidya.
“Saya bener-bener minta maaf, Tante.”
“Nggak papa, Sayang. Kamu gak salah, kok. Kamu cuman berusaha ngelakuin hal yang menurut kamu baik.” Lidya menyeruput kopinya. “Mungkin butuh waktu lama, tapi Tante akan berusaha buat ngomong baik-baik sama suami Tante, dan itu semua demi Tristan.”
Fiona seakan ingin berteriak saking senangnya, "beneran, Tante?" Lidya mengangguk.
"Syukurlah, kalau emang kayak gitu."
"Oleh karena itu juga, Tante ingin minta bantuan kamu. Kamu mau kan, bujuk Tristan untuk kembali tinggal di rumah?" tanya Lidya disambut Fiona yang mengangguk semangat.
"Pasti, Tante,” jawab Fiona semangat.
"Makasih juga ya, Fiona. Karena kamu udah nemenin Tristan di hari ulang tahunnya waktu itu."
"Iya Tante, sama-sama."
"Tante makan ya, tadi dari kantor langsung ke sini jadinya nggak sempet makan dulu," tegur Lidya.
"Iya, Tante. Silahkan."
Wanita cantik yang merupakan Ibu Tristan itu akhirnya menyeruput minumannya lantas memotong cheescake dan memasukkannya ke dalam mulut, setelah menghirup aromanya terlebih dahulu. Persis sama seperti yang dilakukan Fiona tadi.
Sejurus kemudian, Fiona yang sedang menunduk memperhatikan ujung sepatunya mendongak dan mendapati Tristan, yang berdiri di depannya dengan tangan yang terkepal. Fiona berkesimpulan bahwa cowok itu marah, namun tampak seperti ia mencoba mengontrol emosinya.
"Fio, lo ngapain lagi di sini?" geramnya pada Fiona. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya polos. Nyalinya langsung ciut.
Lidya tersenyum melihat anaknya dan berucap, "kebetulan kamu di sini, Tristan. Ayo, duduk."
Tristan yang tadi tampak marah kini terlihat kesal kemudian matanya yang memandang Mamanya, ia arahkan pada Fiona. Gadis itu dengam masih menggigit bibirnya mengangguk, mengiyakan ucapan Lidya.
Tristan akhirnya menarik kursi dengan kasar dan duduk, kaki kirinya ia letakkan di atas paha kanan dan menggoyang-goyangkannya. Lidya hanya menarik napas lelah melihat tingkah anaknya.
Fiona merasa kesal dengan tingkah laku Tristan yang tidak sopan. Nyalinya yang tadi ciut, kini menjadi sangat kesal. Ia melotot pada cowok itu yang juga sedang melihatnya, lalu menginjak dengan keras kaki kanannya hingga ia mengerang kesakitan dan akhirnya menurunkan kaki kirinya.
Lidya berdehem sebentar sembari menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan kedua remaja di depannya. Fiona yang merasa diperhatikan menolehkan wajahnya pada Mama Tristan, dan tersenyum canggung.
Lidya menyandarkan badannya pada punggung kursi dengan tangan dilipat di depan d**a dan kembali membuka suara, "jadi, kalian ini apa?" tanyanya yang langsung disambut wajah bingung Fiona.
Wanita itu menggeleng dan kembali berucap, "maksud Tante, kalian ini ketemunya di mana sampe bisa jadi temen."
"Kita teman seke-" ucapan Fiona terputus.
"Dia mantan Tristan, Ma," tukas Tristan dengan mata yang menatap lurus Fiona.
Gadis itu balas menatap Tristan. Kedunya beberapa detik beradu pandang sebelum akhirnya Fiona yang memutuskan kontak mata dan malah memutar matanya.
"Iya, Tante. Saya mantannya Richard," ungkap Fiona pada Lidya.
"Dari hubungan kalian yang cuma sehari itu?" Fiona mengangguk.
Berniat mengalihkan pembicaraan, Lidya menoleh pada anak semata wayangnya, "Tristan, kamu mau Mama pesenin ice cream Durian?"
Fiona mengerjap tak percaya, "Tristan suka ice cream durian?" Gadis itu menoleh pada Tristan, "beneran, Tan?" Dan kembali menoleh pada Lidya.
"Sumpah Tante, demi apapun, aku beneran suka banget, banget, banget, sama ice cream durian. Waktu itu aku pertama kali makan di rumah Oma, dan sejak saat itu, aku selalu nyuruh Papa beli. Papa aku juga suka banget sama ice cream durian, apalagi buahnya. Tapi, kalo aku belum pernah makan buahnya karena nggak mau. Kalo misalnya Mama buat ice creamnya, Kakak aku nggak pernah kebagian karena selalu aku habisin, bahkan aku pernah mimpi ada di suatu tempat yang penuh dengan ice cream durian. Terus ...,"
Fiona berceloteh dengan riang tentang ice cream duriannya. Lidya yang duduk di depannya terkekeh pelan, kemudian menolehkan kepala pada anaknya dan terpaku. Tristan tengah dengan serius menatap gadis yang sedang menceritakan makanan kesukaanya dengan sangat senang itu.
Lidya kembali tersenyum dan bergumam. "Anak Mama udah besar, ternyata."
"Hah? Kenapa, Tante?" tanya Fiona.
Lidya menggeleng, "nggak, nggak papa," jawab Mama Tristan membuat gadis itu kembali berceloteh.
Fiona dan Lidya terdiam di depan Cafe, sembari menunggu Tristan yang mengambil motornya di parkiran yang terletak beberapa langkah di samping mereka.
"Fiona," panggil Lidya. Yang dipanggil menoleh.
"Apa kamu nggak ngerasa kalo ada yang suka sama kamu?"
Fiona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ma-maksud Tante?"
Lidya mengarahkan dagunya pada Tristan. "Cara Tristan natap kamu beda, loh. Kamu pasti special buat dia."
Fiona mengerjap-ngerjapkan matanya hingga motor Tristan berhenti di depan mereka.
"Naik, gih. Hati-hati."
"Eh, iya Tante, Fiona pulang dulu. Makasih buat traktirannya." Fiona tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Lidya. Gadis itu pun naik ke boncengan Tristan.
"Ma, Tristan anter Fio dulu," kata Tristan dan Mamanya mengangguk. Ia pun mulai melajukan motornya.
Sedangkan Lidya memandang kepergian Fiona dan anaknya dengan sudut bibir yang tertarik. Iapun berjalan menuju tempat di mana mobilnya terparkir.
Fiona memeluk erat tubuh Tristan karena cowok itu yang terlalu kencang mengendarai motornya.
"Pelan-pelan aja, Tan!" teriak Fiona agar suaranya dapat didengar cowok itu.
"Iya."
Setelahnya, Tristan menurunkan laju motornya. Ketika sampai di lampu merah dan motor berhenti, mata Fiona tak sengaja memandang seorang cowok berseragam sama dengannya, tengah memukuli dua orang pria berpakaian compang-camping di sebuah gang sempit.
Deg!
'Richard?' batinnya.
Ya, cowok itu memang Richard, Fiona sangat hafal dengan tas dan postur tubuhnya. Ia berkali-kali memukuli salah satu pria yang sudah tertidur di tanah, dengan darah yang mengucur keluar dari wajahnya. Di sisi lain, seorang gadis kecil tengah menangis ketika melihat aksi cowok itu yang sangat brutal.
Tanpa sadar, Fiona menyembunyikan wajah di punggung Tristan dan mencengkeram jaket cowok itu. Ekspresi wajah Richard yang sarat akan kebencian dan cara ia memukuli orang-orang di depannya. Fiona benci hal itu. Ia benci perkelahian! Sangat membencinya!
Fiona kembali teringat insiden malam itu saat Papa dan Mamanya sedang ke luar kota dan hanya ia bersama Meghan yang sendirian di rumah.
Meghan sudah melarangnya untuk keluar rumah, namun karena ia yang keras kepala, berlari keluar rumah saat Kakaknya sedang mandi, dan malah bernasib buruk. Seharusnya, dari awal ia mendengar perkataan Meghan. Saat itu, ia berlari terlalu jauh dari rumah, dan malah bersembunyi dan menangis ketakutan melihat adegan yang seharusnya tidak dilihat anak berumur tujuh tahun.
Itulah yang menyebabkan ia sedikit trauma dan sangat membenci perkelahian. Tanpa sadar, air matanya menetes dan genggaman pada jaket Trista semakin erat.
"Fio!" panggil Tristan sedikit berteriak. Cowok itu sudah daritadi memanggil Fiona, namun gadis itu tak kunjung bersuara.
"Hah? Apa? Kenapa?"
"Lo kenapa? Gue manggil dari tadi nggak nyaut-nyaut."
"Iya, sorry, tadi nggak kedengeran."
"Lo oke, kan?" dari suaranya, Tristan tampak khawatir.
"Iya, gue oke."
Sebenanrnya Fiona tidak merasa baik-baik saja. Kepalanya pening. Ekspresi Richard dan aksi memukulnya terus terngiang di keapalanya.
Di tempat lain, Richard memandangi dua pria yang sudah terlentang di tanah dengan wajah babak belur. Lantas Ia berjalan mendekati gadis kecil yang berjongkok beberapa langkah di depannya.
"Hey, udah, jangan nangis lagi. Kakak udah ngasih pelajaran buat mereka." Richard tersenyum sembari menghapus air mata di pipi gadis kecil itu.
"Sekarang, kamu ngelanjutin kerja, gih," ucapnya.
"Makasih, Kak," kata gadis kecil itu dengan mata yang memerah. Richard mengangguk dan melihat gadis itu yang kemudian berlari pergi.