Chapter 18

1072 Kata
Gadis yang kali ini mengepang rambutnya itu lagi-lagi mendahului teman-temannya masuk ke kelas, bermaksud menaruh surat entah untuk yang keberapa kalinya di loker Richard. Tidak, ini bukan surat cinta atau yang seperti biasanya, melainkan surat benci yang sudah dari malam ia persiapkan dan membutuhkan waktu lama untuk yakin dengan keputusannya. Fiona sendiri sejujurnya tak rela, namun ia menguatkan hatinya dengan mengingat kejadian kemarin. Ia melangkah ke depan loker Si Cowok Misterius dengan memegang sebuah notes merah yang bertulis : 'Gue benci lo! F♡' Fiona kembali membaca tulisannya itu lantas membuka loker Richard dan menempelkannya asal. Kemudian ia berjalan menuju lokernya, membuka, dan untuk yang ketiga kalinya menemukan secarik kertas, namun kali ini diletakkan di atas buku Sejarahnya. 'Btw, kalo rambut lo digituin cantik. Ya, walaupun kalo kaya biasanya lebih cantik, sih :)' Gadis itu menarik napas. Doanya terkabul, ia dibilang cantik oleh cowok itu. Tetapi entah mengapa, ia seperti merasa bahagia sekaligus sedikit miris dengan dirinya sendiri. Fiona tersenyum lalu berdecak dengan wajah murung, "ish, asal lo tau, gue kesel sama lo," ucapnya. "Eh, lo tau yang naruh surat ini, nggak?" tanya sebuah suara, tiba-tiba. Fiona terkejut dan menoleh ke arah sumber suara, mendapati Richard yang sedang menatapnya, dengan notes merah di tangan. Sontak, Fiona menjadi kikuk. "Eng-nggak. Nggak tau! Udah ada di situ dari tadi." Richard mengerutkan keningnya. "Maksud gue, kayaknya udah ada di situ dari tadi, karena dari gue masuk, gak ada orang lain yang masuk," jelas Fiona, hampir saja ia ketahuan. Richard ber-oh-ria. Ia kemudian berucap, "gak jelas banget sih, ini yang naruh," membut Fiona mendengus pelan. Gadis itu kembali ke kursinya setelah menutup loker terlebih dahulu. Secarik kertas kecil yang merupakan hasil robekan itu masih ia genggam. Fiona mendesah ketika sudah duduk di kursinya, membuka ponsel kemudian mengirim pesan pada kedua temannya. 'Cecans' Fiona.A : gaess kalian di mana sih? Buruan dateng! Carol : lagi di jalan, bentar lagi nyampe Melody : di gerbang Fiona.A : yodah cepetan! Suara sorak sorai terdengar di kelas XII IPA 2, begitu ketua kelas, Maya, memberitahukan bahwa guru yang mengajar di kelas mereka sekarang, sedang sakit. "Yes!" teriak Fiona, Carol, juga Melody yang berbalik badan ke belakang. Dari beberapa hari yang lalu, Melody meminta dipindahkan tempat duduknya bersama Ben, yang berarti di depan Fiona dan Carol. Kedua gadis itu sangat bergembira karena mereka bisa bergosip ria selama jam pelajaran yang membosankan berlangsung, tanpa perlu mengirim surat pada Melody yang kursinya memang agak jauh. Sementara cowok yang menjadi teman sebangku Melody tidak keberatan, selama ia masih tetap bisa duduk di dekat pujaan hatinya. "So?" tanya Melody,  meanyakan apa yang harus mereka bahas kali ini. "Gue pengen cerita sesuatu," ucap Fiona lemas. Melody berdeham pelan, mulai berkonsentrasi untuk mendengar cerita Fiona. "Lo tau kan, kalo gue trauma sama perkelahian?" tanya Fiona Carol mengangguk. Melodypun juga mengangguk, walaupun sebenarnya baru tahu, tapi ia tak ingin membuka suara sebelum Fiona menceritakan sesuatu. "Gue kemarin liat Richard mukulin orang sampe babak belur." Fiona terdiam sebentar, "dan di dekatnya ada anak perempuan yang lagi jongkok sambil nangis ketakutan. Persis kayak gue dulu." "Terus?" Carol bertanya dengan firasat yang tak enak. "Gue mau berhenti di sini," kata Fiona. "Lo gila!" marah Carol, "mana mungkin lo berhenti ngejar dia cuma karena dia berantam?" "Gue nggak suka orang berantem!" tukas Fiona. "Walaupun lo nggak suka, semua orang juga pasti berantem, Na. Dan itu pasti ada alasan yang kuat sampe mereka ngelakuin itu." "Tadi, lo bilang di deket Richard ada anak kecil yang lagi nangis, kan?" Melody yang awalnya hanya menonton perdebatan singkat kedua gadis di depannya, akhirnya membuka suara. Fionapun mengangguk. "Mungkin, Richard cuma bantuin anak kecil itu, bisa jadi, kan?"  Fiona mengedikkan kedua bahunya, "gue nggak tau, dan nggak mau tau." Carol memutar kedua matanya, "kalo lo sampe berhenti ngejar dia ...," Ia menarik napas, "gue nggak tau harus ngomong apa." "Yaudah, iya-iya, ish,"  "Iya, apa?" tanya Melody heran. "Ya, iya." Jawab Fiona. "Iya, Na. Iya, apa maksud lo? Kok, lo nggak jelas gitu, sih?"  "Udah, ah! Bahas yang lain, aja sih. Ntar mood gue berubah kalo bahas ini terus!" kata Fiona malas. Melody memberikan tatapan 'Dia-kenapa?' Pada Carol, tapi gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.  Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Fiona dan keluarganya berkumpul di ruang tengah, tengah berbincang-bincang sembari memakan makanan kecil yang terdapat di atas meja. "Meghan, gimana sama kuliah kamu?" tanya Bhakti, Ayah Meghan dan Fiona. "Kayak biasa, Pa. Banyak tugas, presentasi. Masih sama enam cecunguk yang kadang dateng ke rumah itu," jelas Meghan, menggenggam setoples keripik kentang di tangannya. "Kalo kamu, Fiona?" Ibu kedua gadis itu, Adel, membuka suara. "Ada banyak hal yang berubah. Kayak, Fiona punya temen baru, namanya Melody. Jadi sekarang, Fiona, Carol sama Melody selalu bareng. Itu loh, Ma, yang waktu itu nginep di sini." Berbeda dengan Meghan, di tangan Fiona malah terdapat sebungkus besar wafer cokelat. "Terus, Fiona udah nggak lagi naruh sesuatu di loker Bambang,” lanjutnya kemudian. Bambang? Bambang adalah nama samaran yang digunakan Fiona untuk menyebutkan nama Richard di rumah. Orang tuanya juga Meghan mengetahui hal itu, namun mereka hanya memakluminya. "Lho, kenapa?" tanya Adel. "Fiona lihat dia berantem, dan Fiona nggak suka." "Papa juga pernah berantem." "Gak pernah lihat tuh," balasnya acuh. "Jadi, kalo Papa berantem sekarang, kamu juga nggak suka Papa?" tanya Bhakti. Fiona mendengus, "bukan gitu, Pa. Ish, itu mah beda lagi." "Yang lo nggak suka kan sikapnya, bukan orangnya," celetuk Meghan, matanya fokus pada layar ponsel. Bhakti, Adel, dan Fiona refleks menoleh padanya. Merasa diperhatikan, gadis itu mendongak, "apa?" tanyanya polos. "Nggak papa." "Eh, tapi Fiona juga punya misi yang mulia, loh." Gadis itu tersenyum bangga. Sementara Meghan yang duduk di sampingnya, hanya melirik dan memutar matanya. "Apa?" tanya Adel, terlihat antusias. "Fiona nggak mau ngasih tahu, takutnya entar nggak berjalan sesuai rencana. Doain aka biar lancar," ucapnya di sambut anggukan Bhakti dan Adel. Adel melihat jam yang tergantung di dinding di atas televisi. "Udah, kalian tidur gih, udah jam segini. Besok sekolah, kan?" Fiona dan Meghan pun beranjak, tapi tangan mereka masih memegang makanan masing-masing. "Pa, Ma, ke atas dulu, ya," ucap mereka sembari mencium kedua pipi Bhakti dan Adel bergantian. Setelah memasuki kamar, Fiona berjalan cepat ke vision boardnya yang ditempelkan di dinding, di pojok ruangan yang dekat dengan lemari. Matanya menatap secarik kertas kecil lusuh yang ia dapat di laci meja belajarnya, kemudian tersenyum senang. "Yes! Sisa Richard," riangnya. Ia pun berbalik, namun seperti tersengat listrik, ia mencoba mengingat sesuatu. "Richard, Richard, Richard ...," gumamnya. Fiona terdiam sebentar lalu menepuk jidatnya, "astaga, gue lupa kalo target selanjutnya Richard, sementara gue lagi dalam tahap nggak suka sama dia."  Wajahnya memelas, namun setelahnya, ekspresinya berubah menjadi bersemangat. "Pokoknya, gue harus bisa, apapun yang terjadi dan yang gue rasain!" tekad Fiona. *** Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan membaca cerita ini. Semoga kalian bisa terhibur yaaa. Jangan lupa untuk tuangkan pendapat kalian tentang Fiona dan teman-temannya di kolom komentar. Juga tap love-nya jangan lupa yaaa! Mohon terus dukung kami dengan cinta!<3
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN