Chapter 19

2050 Kata
Fiona sedang mencepol asal rambutnya ketika matanya tertuju pada sebuah novel bersampul cokelat tua dengan gambar ilustrasi cowok-cewek yang tengah bersepada. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih novel tersebut yang masih dikemas plastic bening, lalu membaca blurb di sampul belakangnya. Ia tersenyum sejenak karena kalimat yang baru saja dibacanya, kemudian kembali melihat sampul depan novel. "Sweet Talk?" tanya sebuah suara cowok yang membuat Fiona langsung berbalik.  "Davin? Lho, ngapain di sini?" tanya Fiona yang sedikit terkejut. "Nyari buku?" jawabnya yang malah terdengar seperti sebuah pertanyaan.  "Lo suka baca novel?" tanya Davin, mengarahkan dagunya pada novel yang sedang dipegang Fiona. Gadis itu mengangguk, "banget, malah," dan terkekeh pelan. "Ehm ...," Davin tampak ingin berkata sesuatu. "Bentar," cegah Fiona cepat. Matanya mengarah pada rak buku yang terdapat beberapa langkah di depannya. Di sana, tampak seorang cowok berjaket cokelat gelap, dari celananya terbukti bahwa ia bersekolah di sekolah yang sama dengan Fiona. Gadis itu merasa yakin kalau cowok itu adalah cowok yang sama di pikirannya. Dan saat ia berblik, dugaannya ternyata benar. "Ehm, Vin, kalo gue pergi duluan, nggak papa, kan?" tanyanya. "Hah? Oh, iya. Nggak papa." Davin tersenyum disambut Fiona yang menganggukan kepalanya dan melesat pergi. Sementara cowok itu menarik napas dalam, dan berjalan mencari buku yang ingin dibelinya. Fiona sampai di tempat di mana Richard berdiri tadi, entahlah cowok itu kemana, ia sendiri tidak tahu. Ia mengambil ponselnya dari tas lalu kemudian membuka roomchat 'Cecans' Fiona.A : gaess Fiona.A : penting gaes penting Fiona.A : pliss bales chat gue Fiona.A : penting banget ini! Fiona.A : siapapun yang lagi on pliss dibales! Fiona.A : Fiona.A : car, mel Melody : ribut mulu, na -_- Fiona.A : ini gue liat Richard di toko buku tapi anaknya tetiba hilang. Bingung bet gue harus ngapain, mel. Gue ikutin dia aja apa gimana?? Melody : ikutin Fiona.A : tapi kalo ketahuan gimana? Melody : nggak bakal, udah  ikutin ae Fioana.A : ok sip! doain gue ye Melody : hm Setelah selesai membayar novel bersampul cokelat yang tadi diambilnya, gadis itu keluar dari toko buku. Ia melangkah dengan cepat sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Richard. "Ini cowok kemana, sih?" gumamnya. Lebih dari lima menit ia berjalan hingga akhirnya sampai di depan sebuah Cafe kecil, mendapati cowok yang dicarinya sedang duduk santai. Matanya mengarah fokus pada layar ponsel. Fiona masuk ke dalam Cafe itu dan duduk di tempat yang berjarak tiga meja dari kursi yang diduduki Richard. Gadis itu mengamati sekitar Cafe dan kedua sudut bibirnya terngakat. Ia kagum dengan interior tempat ini yang sangat lucu. Perabotan di sini hampir semua berwarna merah muda, terkecuali lampu panjang di atasnya. Dan, di seluruh dindingnya tertempel gambar ilustrasi berbingkai dan beberapa hiasan kecil di sana-sini seperti, boneka, pesawat, baju, payung, dan benda-benda lainnya yang juga berwarna merah muda. Mungkin, tempat ini cocok bagi pasangan yang ingin berkencan. "Apalah daya gue yang jomblo," katanya, miris. "Permisi, Mbak. Mau pesen apa?" seorang wanita berseragam yang Fiona yakin kisaran umurnya 19-23 tahun, sudah berdiri di samping gadis itu, bersiap mencatat pesanannya. "Ehm, Milkshake strawberry." Wanita itu mencatat di buku kecilnya, "Oke, ada lagi?" Fiona menggeleng.  "Tunggu sebentar, ya," ucap wanita itu dengan senyum lantas berjalan pergi. Fiona mengetuk-ngetuk pelan permukaam meja kayu di depannya sambil bersenandung kecil. "Cause nobody knows you baby, the way i do. Cause nobody loves you baby, the way i do ...," nyanyinya pelan. Gadis itu menoleh ke sampingnya dan seakan sulit bernapas. Wajah serius Richard memang favoritnya, apalagi dilihat dari samping seperti ini. Menambah kesan cool pada diri cowok itu. Gadis yang penuh kenekatan ini memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Si Cowok Misterius. Ia sudah memfokuskan kameranya pada Richard tanpa bisa dilihat cowok itu. Ia pun mulai menghitung. "1, 2, 3," hitungnya dengan suara pelan. Cekrek! Terlihat kilatan cahaya diiringi bunyi 'cekrek' yang mengarah pada Richard. Mampus! Sontak, semua orang menoleh pada asal suara aneh yang baru saja terdengar. Tak terkecuali Richard. Untungnya, di sini hanya terdapat beberapa pelanggan walaupun itu tetap membuatnya malu. Fiona membulatkan matanya lalu mengambil tas dan berniat kabur dari tempat ini. Namun, ketika berdiri ia malah menabrak wanita tadi yang sedang membawa Milkshake Strawberrynya, sehingga minuman itu tumpah dan mengenai sebagian depan seragamnya. "Nggak jadi pesen, Mbak!" ucap Fiona histeris dan berlari pergi, berniat mencari toilet untuk membersihkan seragamnya sekaligus kabur dari cowok yang tadi diikutinya. Beberapa menit setelahnya, Fiona keluar dari toilet wanita dengan seragamnya yang masih terdapat bekas cairan berwarna pink. Ia menunduk untuk melihat seragamnya, lantas menarik napas lelah. Fiona lagi-lagi mengamati sekitarnya, takut kalau-kalau Richard tiba-tiba saja muncul. Ia mengintip sebentar di balik tembok, dan seperti dugaannya, cowok itu juga sepertinya tengah mencari keberadaanya. Gadis itu lalu memutuskan untuk berbalik dan pergi secepatnya. Napas Fiona memburu dan ia berhenti di salah satu pojok ruangan yang tidak terlalu ramai. "Perasaan tadi gue cuma jalan, tapi kenapa bisa sampe secapek ini, ya?" tanyanya pada diri sendiri sembari mengatur napas. Ketika merasa napasnya sudah kembali normal, ia hendak berbalik dan pulang. Tetapi, ketika membalikkan badan, ia merasa jantungnya nyaris berhenti. Richard sedang berdiri tiga langkah di depannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. Fiona mengerjapkan matanya, melihat Richard yang saat ini entah kenapa menjadi sangat tampan. Lantas ia menggeleng dengan cepat. Tidak! Ini bukan waktunya untuk mengagumi ketampanan cowok itu. Ia sedang berada di dalam bahaya sekarang. Pikirnya. "Eh, Richard! Lo ngapain di sini? Kebetulan banget, ya." Gadis itu tertawa hambar. "Lo juga ngapain?" tanyanya dengan wajah datar dan suaranya yang membuat Fiona mati kutu. 'Ugh.' "Beli no-" "Baju lo, kenapa?" Cowok itu mengerutkan keningnya. "Hah?" Fiona menunduk, melihat seragamnya, "oh ini, tadi ketumpahan minuman." Ia menyengir. Melihat ponsel yang tengah digenggam Fiona sedang menyala, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil benda pipih tersebut. Fiona yang terlalu speechleas, hanya bias terpaku.  Setelah dilihatnya, ia memperlihatkan kembali pada Fiona gambar wajahnya yang diambil gadis itu tadi secara diam-diam. "Terus ini maksudnya apa?" "Ehm ...," Fiona berpikir, kalimat apa yang harus ia keluarkan dari mulutnya, "itu buat temen! Iya, buat temen gue." Richard kembali mengerutkan keningnya. Fiona menarik kembali ponselnya dan membalikkan badannya. "Itu buat temen gue," ucapnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh cowok di belakangnya. "Dia suka sama lo, nggak ada hari tanpa dia mikirin lo walau cuma sedikit pun. Dan, lo tahu setiap sesuatu yang hampir tiap hari lo dapet di loker lo, itu dia yang naruh. Dia suka banget sama lo. Tapi, dia kadang mikir, apa lo juga suka sama dia?" "Suka?" Gadis itu terkekeh dengan sinis, "bahkan, hanya untuk noleh sedikitpun sama dia aja lo nggak pernah. Lo tau, akun ig yang biasa ngetag foto ke lo? Itu akunnya dia. Dia selalu upload foto lo yang diambil diam-diam, walaupun itu susah banget. Dan dengan captionnya, dia berharap lo bisa peka. Sayangnya, sampe sekarang pun lo nggak pernah peka. Udah dari lama banget, kan? Gue pikir, lo sama sekali nggak pernah nganggap dia ada, atau mungkin lo cuma nggira dia cewek bodoh yang buang-buang waktu karena cuma mikirin lo?" Fiona menarik napas, menetralkan suaranya yang mulai serak. "Akhir-akhir ini dia lagi bimbang. Antara mau ngelanjutin usahanya untuk tetep perjuangin rasa sukanya sama lo, atau berhenti aja.” "Lo tau, Chard? Itu sakit. Sakit banget malah. Lo nggak pernah mikirin dia, tapi dia selalu mikirin lo. Lo nggak pernah perhatian ke dia, tapi dia selali ngasih perhatian lebih ke lo tiap saat. Lo nggak pernah mau ngomong sama dia, tapi dia selalu berharap bisa ngomong sama lo. Dia selalu nyeritain hal kecil tentang lo yang dia lihat sama sahabat-sahabatnya, sampe mereka bosen sendiri. Dia selalu berharap lo ngajak ngomong duluan, dia selalu berharap bisa sekelompok belajar bareng lo, dia selalu merhatiin lo tiap saat, dia selalu ngambil foto lo diem-diem, dia selalu ketawa ataupun senyum-senyum sendiri pas mikirin lo, dia juga selalu nginget lo kalo nemuin sesuatu yang ada hubungannya sama lo, bahkan dia sengaja buat salah biar bisa dihukum bareng lo, dan yang kayak gue bilang tadi. Nggak ada hari tanpa dia mikirin lo, walau cuma sedikit. Yang dia tunjukin sama temen-temennya cara dia ngejar lo itu beda. Dia selalu ketawa, ceria, bilang sama mereka kalo dia nggak bakal pernah menyerah, percaya diri pas ngejar lo. Itu semua karena dia yakin, kalo suatu saat pasti lo juga bakalan suka sama dia. Tapi, sebenarnya dia kadang mikir sendirian di kamarnya, apa lo juga suka sama dia? Apa lo nggak marah dan ilfeel kalo tau dia siapa? Dia takut sikap dingin lo itu semakin dingin ke dia. Dan dari semuanya, dia takut pas lo tau dia siapa, dia nggak bisa ngelakuin hal yang selama ini dia lakuin. Dia ngejar lo. Iya ngejar, ngejar diem-diem." Fiona terdiam cukup lama, "tapi, yang dia inginkan itu cuma sederhana. Lo nggak perlu balas perasaan dia, cukup lo tau dia siapa aja udah seneng, dan ngehargain perasaannya buat lo." "Gue nggak tahu, tapi mungkin dia ngerasa ini semua sia-sia aja dan pengen berhenti." Tak sadar, air mata menetes di pipi Fiona. Gadis itu langsung menghapusnya cepat-cepat. Entah kepalanya itu terbentur di mana sehingga bias berbicara seperti. Tetapi Fiona tak peduli, ia hanya ingin mengungkapkan semuanya, sekali saj. "Bilang ke dia, jangan berhenti!" ucap Richard. Cowok itu kemudian menarik tangan Fiona dan berjalan ke luar Mall untuk pergi ke tempat lain. Richard menundukan Fiona di kursi, dan ia pun juga duduk di depannya. "Ngapain?" ucap Fiona lalu melihat di sekitarnya, kali ini Cafe dengan nuansa didominasi oleh kayu jati berwarna cokelat tua. Richard mengedikkan bahunya, dan beberapa saat kemudian seorang pelayan pria datang, membawa dua gelas minuman padahal cowok itu belum memesan sebelumnya. Fiona menjadi heran. Cowok itu kembali fokus dengan ponselnya, sementara Fiona malah sibuk merutuki dirinya sendiri atas pidato panjangnya tadi pada Richard. Mengapa juga ia harus berkata demikian? Pikirnya. Walaupun matanya fokus pada layar ponsel, tak bisa dipungkiri bahwa Richard sama sekali tak bisa memikirkan hal lain setelah perkataan Fiona tadi. Sedikit melirik pada gadis itu, yang tengah memainkan kuku jemarinya. Ingin ia berucap sesuatu, tapi apa? Fiona merasa tak tahan dengan kesunyian ini, ia pun membuka pembicaraan lebih dulu, "btw, kemaren gue gak sengaja liat lo mukulin orang. Bener?" Richard mendongak, sedikit bernapas lega karena gadis itu sudah membuka suara, jadi ia tak perlu susah-susah mencari topik pembicaraan. "Kenapa lo nanya?" "Nggak papa, nanya doang. Emang kenapa, sih? Ah! Sekalian juga gue ngasih tau temen gue biar dia nggak salah paham." "Emang apa hubungannya?" Richard menautkan kedua alisnya. "Ya, biar dia nggak berhenti ngejar dan suka lo." "Gue nggak pernah nyuruh dia buat suka dan ngejar gue." Percayalah, Richard merutuki dirinya sendiri setelah mengucapkan kalimat ini. Di bawah meja, Fiona mengepalkan tangannya. "Ngejar bisa milih-milih orang, mana yang mau dikejar. Tapi nggak sama cinta. Gue juga mau kali, kalo bisa milih orang buat dicintai. Eh, tapi tenang aja, kata temen gue, dia seneng kok jatuh cinta dan ngejar lo. Bahkan tiap hari rasa cintanya makin besar,” kata Fiona dengan senyum yang dipaksakkan. Terlihat sekali ia sangat kesal dengan ucapan cowok itu barusan. Setelahnya, kedua terdiam. Hingga sebuah tangan menarik tangan Fiona untuk pergi. "Ikut gue!" "Tristan?"  Namun, di pergelangan tangan kanan, seseorang juga sedang menahan tangannya. Ia menoleh, dan mendapati orang itu adalah Richard. Jantungnya berdegup kencang. Ingin sekali ia berteriak, tapi sayangnya tak bisa. Catat baik-baik. Richard-menggenggam-tangannya. "Singkirin tangan lo!" perintah Tristan. "Lho, bukannya gue yang harus bilang kayak gitu?" tanyanya santai. "Gue yang bawa dia masuk ke sini, jadi gue yang harus bawa dia keluar." "Siapa lo!" "Lo juga siapa?" balas Richard. "Gue pernah jadi pacarnya!" "Pernah, kan? Berarti sekarang udah enggak, dong?" Richard tersenyum sinis. Tristan melepaskan genggamannya pada lengan Fiona dan melangkah maju, sembari mengepalkan tangannya, berniat memberikan pelajaran pada cowok di didepannya. Namun, gadis itu lebih dulu menahan kepalan tangan Tristan sebelum terjadi sesuatu yang tidak disukainya di sini. "Tan," ucap Fiona pelan. Tristan menarik napas kasar dan membuang wajahnya, ia pun lalu langsung duduk diikuti Richard dan Fiona. "Ngapain lo?" kini gantian Richard yang bertanya pada Tristan. "Nemenin Fiona. Kenapa? Gak suka?," tukas Tristan dengan nada menyebalkan membuat sang penanya berdecih. Sejurus kemudian, "Jadi, lo mau ngomong apa? Udah jam segini, gue harus pulang," kata Fiona pada Richard. "Ayo, pulang," ujar Richard kemudian berdiri. Fiona lalu memakai tasnya lalu berdiri, dan lagi-lagi Tristan menggengam tangannya dan hendak berjalan. Namun, ditahan Richard. "Kayak yang gue bilang tadi. Gue yang bawa masuk dia, jadi gue juga yang harus bawa keluar dia." Tristan tak menuruti ucapan Richard, keduanya lantas beradu pandang. "Tan, please," kata Fiona akhirnya. Dan Tristan tak ada pilihan lain selain menuruti ucapan gadis itu. Lantas, Richard menarik tangan Fiona untuk ia bawa keluar dan mengantarnya pulang, setelah terlebih dulu melemparkan tatapan meremehkan pada Tristan yang hanya bisa mendengus. Entah mengapa, Fiona merasa hari ini penuh denga kejutan. Sekali lagi, catat! Richard-mengantarnya-pulang. Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Fiona turun dari motor sport Richard. "Thanks," kata Fiona. "Bilang sama temen lo, dia cewek terbodoh yang pernah gue temuin." "Tapi, cewek terbodoh ini udah terlanjur cinta banget sama lo," Fiona berucap pelan. "Iya, gue tau." Kemudian, Richard melajukan motornya. Sementara Fiona memandang kepergian cowok yang disukainya itu hingga hilang di ujung tikungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN