Richard membaringkan diri di kasurnya. Barusan kedua orang tuanya mengajak makan malam, tetapi karena suasana hatinya yang masih saja buruk—walaupun sudah hanpir dua jam ia menghabiskan waktu mengelilingi kota Jakarta—, cowok itu menolaknya. Mengusap wajahnya kasar. Melirik jam yang terletak di salah satu dinding, kemudian memtuskam untuk membersihkan diri. Siapa tahu air dingin bisa sedikit mengangkat beban yang sejak siang tadi ada di kepalanya. Selang dua puluh menit, Richard keluar dari kamar mandi dengan celana panjang dan baju kaos. Handuk putih di sebelah tangan ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Duduk di ujung tempat tidur dan meraih ponsel di yang sedang di-charger di nakas. Ada dua panggilan tak terjawab dari Melody. Biasanya kalau Melody menelepon dan tidak

