9. The Witch Creation

1214 Kata
"I.. Ibu?" Wanita itu menoleh. Mukanya adalah muka seseorang yang berbeda dari perkiraan Archanne. Gadis itu menghela nafas, kecewa. Raja sendiri mengerjap beberapa kali, melihat hal yang sama dengan anaknya sebelum akhirnya ikut kecewa. "Jika saya boleh tahu, nama kamu siapa?" Sang raja menanyakan nama makhluk itu. "Banyak orang memanggilku Ulf Agosa. Tapi kalian bisa memanggilku Anastasia." Ia membungkukkan badannya. Kalau dilihat dari penampilannya, ia nampak bagai seorang dewi. Bajunya berwarna hitam berbias biru dan mengikuti lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya tergerai indah berwarna coklat kemerahan. Matanya sebiru langit di siang hari, kulitnya putih bersih, dan bibirnya merah bercahaya, ia sempurna. "Jadi kamu Ulf Agosa? Siapa yang kau tangkap jiwanya?" Tanya Davina sambil berjalan mendekati Anastasia. Meniliti wanita itu dari ujung surai sampai ujung kuku kakinya. "Seorang wanita. 17 tahun yang lalu. Ia sangat cantik. Kau berada di sebelahnya sebelum jiwanya keluar." Katanya sambil menunjuk sang raja. Sontak membuat raja kaget. Disebelahnya? Cantik? 17 tahun yang lalu? Pikirnya berkecamuk. "K.. Kau menangkap jiwa.. Istriku?" Raja mendekati wajah Anastasia mencoba melalui matanya. "Oh, itu istrimu ternyata. Ia bilang ia sedih karena tak bisa menimang bayi perempuannya." Kata Anastasia menyilangkan tangannya. Archanne menatap wajah Anastasia dengan tatapan kosong. "Secara teknis, aku tak menangkap jiwa mereka. Aku mempelajari apa yang mereka inginkan dan aku akan melindungi kepemilikan mereka dari yang kupelajari." "Siapa yang membuatmu?" Davina mencobai Anastasia. "Zeralda, si penyihir yang diasingkan." Anastasia tersenyum. *** "Kita tidak bisa memastikan, yang mulia! Aku percaya makhluk bernama Anastasia ini berbahaya bagi tuan putri!" Seru seorang. Rapat Dewan, ya lagi-lagi rapat ini digelar. "Kami tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi, yang mulia. Penciptanya pun adalah penyihir tak tahu diri yang mempermainkan banyak perasaan orang." Ujar yang lainnya kepada raja. "Kenapa harus Anastasia, yang mulia? Kami bisa mengirimkan seribu prajurit demi melindungi tuan putri." Kata yang lain. Suara berisik mulai memenuhi ruang rapat. Sang raja tetap tenang sambil menatap putrinya. Ia tersenyum lembut karena tahu apa yang akan dilakukan putrinya. Archanne berdiri dan berhasil memaku semua mata hanya tertuju padanya. "Saya sudah dengar apa yang kalian tahu dan pahami. Saya paham kalian sangat khawatir. Tapi, mengingat Anastasia diutus, dan tidak bisa mengkhianati misinya, saya harus menghormati takdir hidupnya." Semua orang terkejut, lagi dan lagi terkejut. Mereka sedang berada di posisi antara tidak percaya dengan tidak paham. Tapi mereka memilih bungkam karena sudah melihat bagaimana Archanne marah sebelumnya dan apa yang akan terjadi. "Jadi, saya putuskan, untuk memilih pelindung, Anastasia, untuk melindungi saya." *** "Anne, kau belum makan. Apa yang terjadi?" Davina meletakkan nampan berisi makanan di meja yang berada di hadapan Archanne. "Harusnya kau bisa baca pikiranku." Archanne tak memalingkan pandangannya dari buku yang sedari tadi ia baca. "Pikiranmu sedang terlalu kacau untuk dibaca." Davina duduk dihadapannya, "Tapi aku bisa lihat kau sedang sangat ingin mengetahui kebenaran." Archanne meletakan buku yang sedang ia baca dan duduk tegak. Setelah menghela nafas ia mulai berbicara, "ayahku, sang raja, tak ingin aku terus terobsesi dengan keinginanku mengetahui kepribadian ibuku lewat Anastasia. Ia meletakkan kamar Anastasia sangat-sangat jauh dari kamarku, dan kuncinya dipegang oleh orang terpercayanya, sedangkan aku, well, acaraku dikurangi agar tidak terlalu sering harus didampingi Anastasia. Lagipula aku tak akan terobsesi dengan ibuku, aku hanya akan bertanya banyak tentang makhluk sepertinya dan.. Zeralda." Archanne menatap makanan yang berada di hadapannya. "Tetap saja kamu akan terpaku pada satu hal dan lupa kalau kau adalah putri yang seharusnya mencari pasangan. Seperti, William Reintroph." Suara Davina agak tercekat ketika mengatakan nama pangeran dari kerajaan serigala itu. Archanne dapat mendengar sura detak jantung Davina yang bertambah dan nafasnya yang agak lebih cepat dari biasanya. Dengan hati-hati tuan putri itu bertanya, "kau, suka William?" Pertanyaan yang mengejutkan iu berhasil membuat Davina salah tingkah. "Te.. Tentu saja tidak! It.. Itukan tunanganmu! Lagipula aku sering melihat kalian dekat!" Muka Davina memerah. "Tenang saja Nona Claus, masih seorang kandidat. Ia suka menggoda tapi perasaannya belum jelas. Lagipula, ia lebih tertarik padamu." Archanne mengembangkan senyum menggodanya. Davina semakin salah tingkah. "Ti.. Tidak, aku tidak percaya kok!" Muka Davina memerah. "Tuh kan, kamu suka! Davina suka WILLIAM!" Teriakan Archanne menggema melewati lorong koridor. Di lantai bawah, seorang manusia setengah serigala yang baru sampai dan dipersilahkan untuk masuk kekamarnya mendengar namanya di panggil. Panik, ia segera berlari kearah suara itu berasal. "Ya! Ada apa!" William sampai di ambang pintu dan mendapati satu orang yang sedang menggoda dan satu lagi menatap William dengan kondisi yang mengenaskan. "My, my. Archanne, berhentilah membuatnya ketakutan." William berjalan ke arah Davina, memeluknya dan mencoba menenangkannya. Ia dapat merasakan tubuh Davina yang bergetar hebat. Tentu saja gadis itu takut. Archanne mengancamnya dengan mantra yang berpendar biru terapal diatas tangannya. "Oh William, kau tidak asyik. Terlalu kaku di hadapan Davina!" Archanne menyalahkan William. Ia melepas mantra esnya dan memanyunkan bibirnya. "Bukan salahku kalau aku kaku di hadapannya, aku kan suka dia." Ups. Kata-kata itu keluar juga dari mulutnya, menampakkan jati dirinya yang asli. Archanne menang kali ini. "Kalian butuh privasi. Bye." Archanne berjalan cepat meninggalkan ruangan. Sebelum Davina sempat mencegah Archanne, ia sudah ditarik lagi oleh William. "Aku menunggu jawaban, Davina Ceccyl Claus." Wajah William sangat dekat dengan wajah Davina. William dapat melihat muka Davina perlahan-lahan memerah, sedangkan Davina dapat merasakan deru nafas William yang semakin cepat. 'Oh Yang Maha Agung, cabutlah nyawaku. Sekarang!' Batin Davina berteriak. *** Archanne bersenandung sambil melompat-lompat ketika kembali mengingat kejadian yang sangat romantis antara Davina dan William. Lompatannya membuat gaun biru muda selututnya ikut menari-nari. Ia menyunggingkan senyumannya ke seluruh penghuni kerajaan yang dilewati ataupun dilihatnya. Sejenak Archanne berhenti. Ketika ia melirik taman istana yang disebut dengan 'Taman Perak'. Ia kembali mengingat ketika ayahnya menceritakan dongeng di malam hari lalu setelah selesai ia akan selalu mengungkapkan hal-hal kecil mengenai ibunya. Yang ia tahu, ibunya adalah seorang wanita yang anggun dan menyukai warna perak. Kematiannya membuat semua negeri berduka, terutama Elliens. Mereka mengganti banyak nuansa ruang menjadi perak. Dan taman ini, adalah taman dimana ibuku selalu duduk ketika ia mengandung. Archanne bisa merasakan semilir angin, dan dengan sekejap tahu apa yang ibunya suka dari taman ini. Ia kembali teringat dengan Anastasia. Walaupun ia pelidungnya, ia tak diperbolehkan keluar dari kamarnya. Archanne segera berlari ke arah kamar Anastasia. *** "Anastasia?" Archanne menampakkan kepalanya dari celah pintu kamar. Anastasia menoleh. "Kau sedang apa?" Archanne menutup pintu kamar dan duduk disebelah Anastasia. "Berpikir." Ulf Agosa milik Archanne itu memiliki wajah yang cantik, namun tak bisa menutupi betapa dingin dan datarnya makhluk itu. "Kukira Ulf Agosa sepertimu tak banyak berpikir." "Aku menangkap jiwa ibumu. Yang intelektualnya luar biasa tinggi dan banyak berpikir. Pola pikirnya juga berbelit. Maka dari itu, aku susah utuk menyesuaikan dan menyelaraskan diri dengan jiwanya. Butuh waktu bertahun-tahun, nona. Karena itu aku baru muncul sekarang, setelah umurmu 16 tahun." "Memangnya Ulf Agosa sepertimu muncul kapan?" "Well, secara teknis, aku muncul kapan saja kau sedih, gugup, takut, marah, dan.. Terancam. Mengingat selama 16 tahun ini kau begitu terancam, sedih, kesepian, gugup, dan takut, aku merasa beraalah karena tidak mampu melindungimu." "Itu tidak masalah denganku. Itu bukan salah siapa-siapa kok." Archanne memutar otaknya, hal apa yang cocok untuk ditanyakan. Ia semakin tak tertarik dengan ibunya dan mengalihkan perhatian pada satu pikiran. "Apa kau lihat, apa yang terjadi pada Zeralda?" Hening sebentar. "Dia, meninggal. Ketika menciptakan sebuah istana." "Istana seperti apa?" Archanne semakin tertarik dengan topiknya. "Kalian sering memanggilnya The Abandoned Castle in Blafen, kurasa." Archanne tercekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN