Setelah hari itu, hari di mana Karen mengetahui jika dirinya hamil ia mulai memikirkan rencana lain. Dia jelas tidak bisa pergi dari rumah ini karena Ervin telah memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk menjaganya. Karen masih menempati kamar lain, dia enggan untuk satu kamar dengan Ervin apalagi mengingat pengkhianatan sang suami yang selalu membuat dadanya sesak. Rasanya sangat menyakitkan melihat wajah Ervin yang terkadang menatapnya sendu dan selalu ingin memaafkan Ervin. Namun, untuk apa dirinya memaafkan jika sang pelaku saja tidak meminta maaf kepadanya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Ervin, apa pria itu melupakan kesalahannya? Karena jelas saja jika dirinya di sini yang menjadi korban dan tersakiti tapi suaminya itu seolah menjadi korban juga, membuatnya semakin kesal

