Karen mengikuti Ervin masuk ke dalam rumah, dia masih diam membisu enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Ervin berjalan menuju dapur sedangkan dirinya berdiam diri di ruang tamu, tak lama kemudian Ervin kembali dengan dua cangkir teh hijau di tangannya. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu menyodorkan secangkir teh ke hadapannya, Karen mengambil cangkir itu lalu menaruhnya di atas meja. Keadaan kembali hening dan terasa tidak nyaman, mereka seperti orang asing yang berada di dalam satu ruangan. Padahal dulu pun saat keadaan hening, mereka masih terlihat nyaman satu sama lain. Tapi berbeda dengan sekarang, mereka terlihat tidak nyaman sama sekali. Ervin menatap Karen yang duduk berseberangan dengannya, wanitanya itu semakin hari semakin menjauh dari jangkauannya, dan ia tidak

