Bertemu Vincent

1160 Kata
"Saya Bersalah!" Itulah tulisan yang sedang Barra kalungkan pada lehernya, sambil mengikuti langkah Cherry pergi berkeliling mall hari ini. Untuk mendapat maaf darinya karena telah berbuat m***m, wanita itu menghukumnya dengan menjadi pembantu seharian. Bukan hanya pembantunya, tapi juga anak-anak di panti asuhan yang akan mereka kunjungi sebentar lagi. Barra merutuki dirinya sendiri karena hal itu. Kenapa Barra malah seperti kekasihnya sungguhan? Demi mendapat maaf saja ia harus berbuat seperti ini! Jika bukan karena harta warisan dan hubungannya bersama Keysha, dirinya tidak akan sudi menuruti apa yang Cherry mau. "Barra, cepetan jalannya!" "Kamu nggak liat aku bawa barang sebanyak apa?" "Itu hanya boneka kecil-kecil dan baju anak-anak! Lemah banget!" "Coba hitung, ada berapa tas belanjaan yang aku bawa?" "Baru juga sepuluh!" Cherry memanyunkan bibirnya. "Baru? Sepuluh?" "Kamu niat minta maaf apa nggak? Lusa pernikahan kita! Jangan sampai aku batalkan!" Barra menahan emosi mendengar ucapannya. Sabar... toh setelah pernikahan ia tidak perlu lagi berbuat selebay ini. Ia hanya harus segera menyelesaikan misi pertama dan keduanya, agar bisa terbebas dengan segera dari wanita menyebalkan ini. Misi yang tak lain adalah menikah dan mempunyai anak dengannya. Syukur-syukur anaknya bisa kembar, supaya mereka tidak perlu menunggu sampai mempunyai dua anak. Cherry tersenyum puas melihat pria itu kesusahan berjalan dengan barang-barang belanjaan yang menggunung. Salah siapa m***m? Mereka belum menikah, tapi dengan seenaknya Barra memegang dan melakukan hal yang tidak seharusnya! "Maaf..." Ujar Barra mengalah. "Cepetan jalan!" Balas Cherry tak peduli, meski sebenarnya ia kasihan melihatnya kerepotan. Tapi ini hukuman yang harus Barra terima. “Kita mampir dulu membeli bedak dan minyak telon untuk anak-anak di apotek.” "Baiklah, sayang!" Jawab Barra dengan nada sebal. "Ini untuk beramal dan permintaan maafmu. Kamu ikhlas apa nggak?" Dengan langkah cepat Cherry mengunjungi apotek yang ia maksud di dalam mall tersebut. Meninggalkan Barra yang masih kerepotan dengan kantong belanjanya. Seumur-umur, ini pertama kalinya Barra dijadikan kacung seperti demikian. Hanya Cherry yang berani memperlakukannya dengan seenak jidat. Awas saja nanti jika mereka sudah menikah. Barra akan memberinya pelajaran yang setimpal. "Aku akan ke mobil sebentar untuk menaruh semua ini!" Teriak Barra yang hanya di balas lambaian tangan oleh Cherry. Lihatlah betapa sombongnya dia, Barra semakin kesal saja. **** Sesampainya di apotek, Cherry mengambil banyak sekali bedak dan minyak telon. Ia juga membeli beberapa kotak s**u anak, obat batuk, demam, dan apa saja yang bermanfaat untuk mereka. Kapan lagi ia bisa berkesempatan beramal dengan fasilitas yang Barra berikan? Saat lagi fokus memilih-milih, tiba-tiba seorang pria dengan wajah pucat memasuki tempat tersebut. Ia mendatangi seorang apoteker dan bertanya obat apa yang bisa ia minum untuk mengobati sakit kepalanya. "Vincent? Itukah musuh bebuyutan keluarga Barra?" Cherry menatap benci ke arahnya. "Baguslah kalau dia sakit. Kalau bisa sekarat lalu mati!" Ujarnya pedas. Karena Barra adalah sumber keuangannya, Cherry juga ikut tak suka dengan musuh yang bisa membuat keuangan Barra menurun. Awalnya Cherry tak ingin peduli karena mereka tidak saling mengenal. Tapi secara mengejutkan pria itu menyentuh lengannya tanpa permisi. Membuat tubuh Cherry tersentak takut. Apa yang akan pria itu lakukan padanya? “Jadi kamu calon istri Barra?” Cherry ingin menarik tangannya, namun tak bisa. Vincent mengenggamnya erat-erat dengan senyuman smirk. "Sulit dipercaya Barra menyukai wanita sepertimu." "Apa urusanmu?" "Apa karena uang? Lebih baik kamu denganku, dan aku akan memberimu uang yang lebih banyak." "Kamu pikir, Barra bisa disandingkan dengan pria rendah sepertimu? Kamu sangat percaya diri. Kalaupun aku p*****r, aku tidak akan sudi disentuh dan memakan uang dari seorang plagiat ulung!" Cherry menghentakkan tangannya. "Hei, jangan sombong. Aku tahu kamu hanya w************n yang menjual tubuhmu demi uang." Vincent menarik Cherry ketempat yang tak terlihat, lebih tepatnya di pojok apotek yang tertutupi barang-barang pajangan. "Jangan macam-macam, atau aku akan teriak." Ancam Cherry tajam. "Teriak saja. Biar aku beritahu semua orang jika istri Barra Prawira menjual tubuhnya padaku." Vincent semakin mengeratkan cengkramannya hingga lengan Cherry memerah. "Plagiat tidak tahu diri! Kamu tidak terima jika aku menyebutmu plagiat, lalu mengancamku seperti ini? Uhh! sekarang gelarmu bertambah satu. BANCI!" "Mulutmu memang besar sekali. Kamu membela Barra? Padahal aku tahu kamu dan Barra hanya pasangan pura-pura. Kamu menjual tubuhmu demi uang. Bagaimana jika semua ini terbongkar?" “Kamu berkata omong kosong!” "Biar kuberi satu rahasia. Keysha adalah kekasihku, dan dia mata-mataku selama ini. Sekarang kamu tahu darimana datangnya bocoran gambar-gambar design perusahaan Barra?" “Aku akan beritahu Barra soal ini!” "Memangnya dia akan percaya?" Vincent menarik tubuh Cherry untuk merapat padanya. "Dengar ini, sebentar lagi aku akan menghancurkan Barra hingga tak bersisa. Lebih baik kamu masuk ke dalam kubuku. Jadilah mata-mata keduaku, daripada kamu rugi." Cherry menatap Vincent dengan tajam dan masih mencoba memberontak. Ia meneteskan airmatanya karena takut. Demi Tuhan, meski Barra menyebalkan, tapi Barra orang baik. Cherry tidak akan membiarkan Vincent menyakiti Barra dan keluarganya. "Kamu bisa menjual tubuhmu padaku. Bukankah hanya uang yang kau mau?" Ketika jemari Vincent barusaja berhasil menyentuh p****t Cherry, sebuah tarikan kencang langsung Vincent rasakan. Barra mendorong pria itu keluar dari apotek yang ada di mall tersebut, lalu memukulinya hingga babak belur. "Beraninya kamu menyentuhnya!" Ujar Barra sambil memukulinya lagi. Barra semakin emosi ketika melihat Cherry terlihat sangat ketakutan dengan airmata yang mengucur deras. Cherry memang hanya kekasih pura-puranya, tapi dia tidak berhak mendapat pelecehan dari siapapun. Apalagi musuh bebuyutan keluarganya. “Sialan!” Teriak Barra kesal. Beberapa orang merekam kejadian itu dan menyebarkannya di internet. Dimana dua pewaris perusahaan fashion terbesar yang selama ini bersaing, bertengkar ditengah mall dengan sangat memalukan. Mereka tidak tahu penyebabnya, tapi berita itu sangat seru untuk dinikmati. "Barra sudah!" Cherry memeluk Barra ketika pria itu juga sudah babak belur karena pertengkarannya dengan Vincent. "Pergi sebelum aku melaporkanmu karena pelecehan!" Gertaknya kepada Vincent, lalu membalas pelukan wanita yang masih gemetar hebat. "Kamu diapain? Ayo lapor polisi." "Aku mau istirahat saja." Jawab Cherry seraya menangis dipelukannya. "Baiklah kita pulang dulu." Barra mengangkat tubuh Cherry ala brydal style, dan membawanya pergi dengan segera. Cherry memeluk leher pria yang tengah menggendongnya dengan perhatian. Entah kenapa meski baru mengenal, hanya Barra yang membuatnya nyaman dan percaya. Apa Cherry menyukainya? Cherry langsung menggeleng frustasi dan berpikir jika itu tak mungkin. Ini terjadi pasti karena Barra sangat baik, itu saja. Cherry tidak mungkin menyukai pria yang bahkan belum genap sebulan ia kenal. "Barra, kamu harus hati-hati dengan Keysha dan Vincent." "Jangan dengarkan apa yang Vincent katakan. Dia memang ingin merebut apapun yang aku punya. Vincent juga menyukai Keysha sejak dulu." "Tapi..." "Kamu baik-baik saja? Apa dia melukaimu? Melecehkanmu?" Cherry mengangguk pelan, lalu menunjukkan lengannya yang memerah. Ia pasrah saja jika Barra tidak percaya padanya. Tapi diam-diam Cherry akan membongkar semua kebenaran. Entah bagaimana caranya. "Kita ke panti nanti saja setelah pernikahan. Sebaiknya kamu jaga diri dan istirahat. Aku tidak mau pernikahan kita batal karena sesuatu terjadi padamu." "Baiklah." "Sebaiknya kamu menginap lagi. Keadaanmu sangat menyedihkan. Orangtuamu akan khawatir jika kamu pulang dengan keadaan seperti ini." "Baiklah." Jawab Cherry sambil kembali mengalungkan lengannya pada leher pria tersebut. "Aku akan membuat perhitungan padanya." "Barra jangan diperpanjang, sudahlah. Aku tidak mau kamu dan keluargamu terkena masalah." Jawab Cherry sambil tersenyum. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN