Perhatian

1080 Kata
Sesampainya dirumah, Barra langsung mengambil kotak P3K dan mengolesi lengan Cherry yang memar dengan obat khusus. Begitupun Cherry yang mengobati bekas pukulan Vincent di wajah Barra, setelah membersihkan lukanya. "Awww..." Rintih Barra ketika ia merasakan perih. "Sakit?" Cherry meniupi lukanya. Ia mengobatinya dengan telaten dan perhatian. Nampaknya, wanita itu benar-benar khawatir. Barra menatap wanita di hadapannya dengan perasaan yang sulit ia mengerti. Rasanya sangat berdebar saat Cherry memperhatikanya dengan sebaik ini. Tapi ini pasti karena rasa kasihannya saja atas apa yang Vincent lakukan hari ini bukan? Ya, pasti karena itu. Barra mengusir pikiran-pikiran aneh yang tersemat di otaknya. Kkrrriukkk... Cherry tersenyum ketika mendengar perut Barra yang berbunyi dengan nyaring. "Kamu lapar?" "Hmmm...." Jawab Barra sekenanya. "Mau makan apa?" "Apa saja." "Steak? Pasta?" "Aku ingin masakan kamu yang waktu itu." Jawab Barra lagi dengan singkat. Dadanya berdebar semakin kencang sekarang. Ya Tuhan apa yang terjadi padanya? "Sayu asem? Ayam goreng? Kamu serius?" "Aku serius." "Baiklah, aku juga ingin sekali makan itu." Cherry mengusap bagian luka terakhir Barra di dahinya dengan obat, lalu merapikan kotak P3K yang ada di meja. Ia sangat bersemangat untuk memasak apa yang Barra mau. Tumbenan sekali dengan sadar Barra menginginkan masakannya bukan? Cherry sangat bahagia. Dan karena langkahnya yang terlalu bersemangat serta tidak hati-hati tersebut, membuatnya tersandung meja dan terjatuh. Cherry membeku saat ia terjerambab di pangkuan Barra dengan sangat mesra. "Kamu sangat ceroboh, ayah kamu benar." Cibir Barra dengan senyuman sinisnya. "Maaf..." Ujarnya sambil beranjak bangkit dari sana, namun Barra kembali membuatnya terduduk. Ia mengusap wajah Cherry dengan lembut, lalu menatapnya dengan sangat dekat sampai keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. "Makasih udah obatin aku." "Hmmmm." "Meski kita hanya pura-pura, tapi aku harap jika ada pria yang melecehkanmu seperti tadi, katakan padaku. Aku akan melindungimu, sebagaimana tugas seorang suami. Kita akan menikah sungguhan meski ada kontrak didalamnya. Kamu tetaplah tanggung jawabku." "Baiklah." Desis Cherry gugup. "Aku tidak akan membiarkan seseorang melakukan hal buruk padamu." Bisik Barra yang hanya di hadiahi anggukan kaku oleh Cherry. Setelah itu keduanya saling diam dan tak lagi bicara. Dan entah dimulai darimana, bibir mereka tiba-tiba saling bersentuhan. Barra bahkan membimbing wanita itu untuk merebah di bawah kungkungannya. "I want some kiss... " Bisik Barra seraya memberikan lumatan lembut pada bibir manis yang begitu membuatnya candu. Cherry menutup mata seraya memeluk leher pria yang tengah memagutnya dengan intim. Sepertinya ia telah kehilangan akal. Barra selalu menghipnotisnya dengan sentuhannya yang lembut, dan mampu membuat semua wanita merasa nyaman. Keduanya saling meresapi kehangatan yang masing-masing rasakan. Terlebih ketika Barra mengecup lehernya dan membuat beberapa tanda disana. Jika awalnya Cherry takut, merasa tabu dan asing dengan ciuman yang Barra berikan, kali ini ia merasa sangat nyaman. Tidak ada yang Cherry pikirkan selain hangatnya pelukan Barra padanya. Bahkan ketika ciuman pria tersebut sampai kepada dadanya, Cherry hanya bisa mendesah pasrah. Cherry meremat kepala Barra saat pria itu menghisap bulatan kecil miliknya. "Ahh...." Desahnya. "I love your smell.... Cherry." "Sakit..." "Aku sangat menyukainya...." Bisiknya seraya kembali menghisap dan meremas dadanya yang lain dengan sangat puas. Dalam sekejap pakaian yang Cherry kenakan di bagian atas terbuka begitu saja. "Jangan biarkan oranglain menyentuhnya. Berjanjilah jika hanya aku yang bisa melakukannya." Bisiknya, lalu memagut bibir Cherry kembali dengan sangat puas. Cherry hanya diam seraya menikmati apapun yang Barra lakukan. Cherry rasa, ada sesuatu yang salah padanya. Tiba-tiba, ia merasa tidak rela jika harus kehilangannya suatu hari nanti. Cherry ingin Barra hanya menjadi miliknya saja. Cherry mulai mencintainya? **** "Kok berani sekali dia melakukan itu!" Wika memeluk calon menantunya setelah mendengar cerita Barra, tentang Vincent yang mencoba melecehkan Cherry di mall. Anak musuh bebuyutannya itu telah kehilangan kewarasan. "Barra sudah memberinya pelajaran." "Pantas dia tidak berani melaporkanmu ke polisi." Wika mendesah kesal. "Dia pasti takut kita melaporkannya karena kasus pelecehan." "Kita harus laporkan dia." Irwan berkata tegas. "Barra setuju Pa." "Tidak usah." Cherry segera memotong ucapan mereka. "Sayang? Kenapa kamu malah menolak?" "Aku.... hanya tidak ingin memperpanjang masalah." Wika memandangi calon menantunya dengan seksama, lalu menilik beberapa tanda kemerahan yang tertinggal pada lehernya. "Dia yang membuat tanda ini? Ini sudah terlalu parah!" Tatapan Cherry langsung tertuju kepada Barra yang mematung sambil menunduk. Ia terus menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa canggung. "Vincent tidak sempat berbuat lebih karena Barra cepat datang untuk menolongku." Cherry mengatakannya lagi dengan tenggorokan tercekat. "Ouhhh jadi ada pria lain yang melecehkanmu?" Wika menatap putranya sambil memukulnya dengan sangat keras. "Jadi pria ini yang sebenarnya melecehkanmu?" Wika menjewernya dengan tarikan kencang. "Maa.... " Cherry tersenyum melihat Barra di pukuli ibu dan ayahnya seperti anak kecil. Melihat hal ini, membuat Cherry semakin enggan untuk melepas apa yang telah ia miliki. Mertua yang baik, penyayang, suami yang terkadang manis dan jutek, Cherry tidak ingin melepasnya. Apalagi melepaskan Barra kepada Keysha atau wanita lain. Ia memang wanita jahat karena melakukan hal ini. Merebut kekasih orang lain dan menghianati kontrak perjanjian. Tapi Cherry tidak peduli. Cherry akan mempertahankan Barra. "Tapi terlepas dari semua, Papa bangga padamu Barra. Memang begitulah cara melindungi wanitamu. Jangan ampuni mereka yang mencoba menyakitinya secara seksual maupun fisik." "Mama juga senang kamu serius menjaga Cherry. Mama senang huhungan kalian baik-baik saja." Barra mendekati Cherry yang tertunduk malu, lalu memeluknya mesra tanpa rasa canggung lagi. Barra bahkan menciumnya secara gamblang di hadapan para orangtuanya. Cherry tahu mereka hanya akting. Tapi... Cherry benar-benar terbawa perasaan saat ini. Cherry telah melanggar perjanjian untuk tidak jatuh cinta. "Kalian manis sekali. Kali ini mama ampuni, karena sebentar lagi kalian akan menikah." "Tapi malam ini Cherry akan pulang. Orangtuanya menghubungiku, mereka sangat khawatir karena Cherry tidak menjawab telfon." "Cherry belum sempat memegang ponsel. Mama dan Papa pasti sangat khawatir." Ujar Cherry langsung celingukkan mencari benda pipih miliknya itu yang entah dimana. "Sudah, biarkan aku yang menghubungi orangtuamu sayang, kamu disini saja." Barra melanjutkan sandirwaranya, sambil memeluk Cherry dengan lebih mesra. "Tapi Barr... " “Sayang...” "Barra, sabar sedikit." Ayahnya menoyor kepala putranya dengan sedikit kasar. "Gen papamu memang sangat kuat! Dulu papamu ini terus saja m***m saat kita masih pacaran." Wika mencubit perut suaminya. "Yang penting hanya ke satu orang saja. Papa juga belum pernah melihat Barra sedalam ini menatap seorang wanita, meski itu Keysha. Papa yakin, Barra sangat mencintai Cherry lebih dari apapun." Irwan memeluk istrinya dengan senyuman bahagia. Barra dan Cherry lalu saling berpandangan dengan canggung. Oh Tuhan, Cherry sangat berharap itu benar. Kenapa rasanya jadi sangat berdebar seperti ini? Sedangkan Barra masih termenung dan terus berusaha menepis ucapan ayahnya. Tidak mungkin ia menatap Cherry seperti itu. Cinta? Barra hanya mencintai Keysha. Tidak ada wanita yang lebih spesial dari dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN