Rasa penasaranku tidak berhenti begitu saja. Justru semakin membesar, seperti bola salju yang menggelinding tanpa bisa kuhentikan, mengumpulkan lebih banyak pertanyaan di setiap putarannya.
Aku menghabiskan waktu luangku diam-diam mencari tahu lebih jauh soal Yudha—bukan dengan cara mengintip lagi, karena aku masih merasa bersalah soal kejadian di dapur beberapa hari lalu, tapi lewat percakapan santai dengan salah satu temannya yang kebetulan datang berkunjung suatu sore, seorang pria bernama Dimas yang ternyata rekan bisnis lama Yudha, sudah kenal sejak masa kuliah.
Dimas orangnya ramah, banyak bicara, tipe yang mudah percaya pada orang baru tanpa banyak curiga—kombinasi yang, bagiku, sangat berguna. Aku menyambutnya dengan senyum ramah, menawarkan kopi, dan membiarkan percakapan mengalir santai sebelum perlahan mengarahkannya ke topik yang sebenarnya ingin kuketahui.
"Yudha itu keras kepala," kata Dimas sambil tertawa, menyesap kopi yang kubuatkan, duduk santai di sofa ruang tamu seolah dia sudah sering berkunjung ke tempat ini. "Dia jaminin hampir semua yang dia punya buat proyek ini. Ruko, sertifikat tanah warisan orang tuanya, bahkan sebagian saham perusahaan. Semua jadi agunan."
Aku terdiam mendengarnya, mencoba menahan ekspresi wajahku supaya tidak terlihat terkejut, meski di dalam d**a, jantungku terasa berdebar lebih kencang. "Agunan buat apa?" tanyaku, meski aku sudah punya dugaan sendiri, hanya ingin memastikan dari sumber lain selain notifikasi ponsel yang tidak sengaja kulihat.
Dimas menatapku sekilas, seolah baru sadar mungkin dia bicara terlalu banyak, tangannya berhenti sejenak di udara sebelum meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja. "Buat kontrak PayLater dia," jawabnya lebih pelan, suaranya turun satu oktaf seperti orang yang sadar sedang membicarakan sesuatu yang seharusnya rahasia, "kamu pasti tahu, kan? Kamu kan yang..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu persis apa yang ingin dia katakan. Kamu kan yang dia sewa. Kamu kan yang jadi alasan semua taruhan gila ini.
Aku hanya tersenyum tipis, tidak menjawab, membiarkan keheningan itu menjadi jawaban yang cukup jelas tanpa perlu kuucapkan.
Dimas, yang mungkin merasa canggung setelah menyadari kelepasan bicara, buru-buru mengalihkan topik ke hal lain—cerita soal masa kuliah mereka, tentang bagaimana Yudha dulu selalu jadi orang yang paling nekat di antara teman-temannya, berani ambil risiko yang bahkan teman-temannya sendiri anggap terlalu gila. "Tapi anehnya," tambah Dimas sebelum akhirnya pamit pulang, "dia biasanya nggak pernah nekat soal urusan cewek. Ini pertama kalinya aku lihat dia sebegini serius."
Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah Dimas pulang.
Setelah Dimas pergi, aku duduk sendirian di ruang tamu, mencerna semua informasi yang baru kudapat, memandangi cangkir kopi kosong yang masih tersisa di meja. Yudha tidak hanya mempertaruhkan uang yang belum tentu dia punya—dia mempertaruhkan segalanya. Rumah warisan orang tuanya, satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari keluarganya. Sahamnya, hasil kerja keras bertahun-tahun membangun usaha dari nol. Masa depan usahanya, yang baru saja mulai menunjukkan hasil setelah dua kali hampir bangkrut. Semua demi kontrak setahun dengan seorang companion yang, sampai beberapa bulan lalu, bahkan tidak dia kenal secara pribadi—atau begitu yang aku kira, sebelum dia mengaku sudah lama memperhatikanku diam-diam.
Aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau ngeri. Mungkin kedua-duanya sekaligus, bercampur menjadi sesuatu yang berat di dadaku, sesuatu yang sulit kunamai dengan tepat.
Ketika Yudha pulang malam itu, membawa tas kerja yang terlihat lebih berat dari biasanya, aku menatapnya dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dia menyadarinya, tentu saja—dia selalu jeli membaca perubahan kecil di wajahku, kemampuan yang semakin lama semakin membuatku sulit menyembunyikan apa pun darinya.
"Kenapa?" tanyanya, melepas jasnya dan menggantungnya di kursi, gerakannya sedikit lebih lambat dari biasa, seperti orang yang lelah setelah hari yang panjang.
"Aku ketemu Dimas tadi," kataku pelan, tanganku terlipat di pangkuan, mencoba tetap tenang meski dadaku bergemuruh.
Wajahnya berubah sesaat, ada rasa terkejut yang cepat dia sembunyikan, rahangnya sedikit mengeras. "Dia cerita apa aja?"
"Cukup buat aku tahu kamu jaminin hampir semua yang kamu punya," jawabku, suaraku lebih serius dari yang kuinginkan, mataku menatap lurus ke arahnya tanpa mau mengalihkan pandangan. "Yudha, itu bukan keputusan orang yang iseng-iseng aja sewa companion mahal. Itu keputusan orang yang nekat banget."
Dia duduk di sofa, menghela napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya lelah menyembunyikan sesuatu, punggungnya sedikit merosot ke sandaran sofa. "Aku tahu," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasa. "Aku tahu ini gila."
"Terus kenapa?" desakku, duduk di sampingnya, mencoba menatap matanya langsung, membiarkan lututku hampir bersentuhan dengan lututnya. "Kenapa nekat sebesar itu buat aku?"
Dia menatapku lama, dan untuk pertama kalinya aku melihat keraguan di matanya—bukan keraguan soal keputusannya, tapi keraguan apakah dia harus jujur sepenuhnya atau tidak, seolah ada bagian dari cerita itu yang masih dia simpan rapat-rapat, belum siap dia ungkapkan sepenuhnya.
"Karena," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik, "aku udah lama merhatiin kamu, jauh sebelum kontrak ini ada. Dan waktu ada kesempatan buat deket sama kamu, aku nggak mau nyia-nyiain itu, walaupun aku harus pertaruhin semua yang aku punya."
Kata-kata itu menggantung di udara antara kami, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak punya balasan sarkastik atau ledekan untuk menutupi apa yang sebenarnya kurasakan. Aku hanya duduk di sana, menatap laki-laki yang baru saja mengakui bahwa dia mempertaruhkan seluruh hidupnya bukan karena dorongan sesaat, tapi karena sesuatu yang sudah dia simpan jauh lebih lama dari yang pernah kubayangkan—dan aku, untuk pertama kalinya, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan kejujuran sebesar itu.