Usaha Yudha

946 Kata
Dua hari setelah percakapan itu, Yudha mengajakku ke kantornya untuk pertama kalinya, sebuah undangan yang terasa jauh lebih personal daripada acara-acara elite yang biasa kami hadiri berdua. Kantornya tidak besar—hanya menempati satu lantai di sebuah ruko sederhana di pinggiran area bisnis, jauh dari kesan gedung pencakar langit yang biasanya identik dengan klien-klienku yang lain. Catnya sedikit pudar di beberapa sudut, dan papan nama perusahaannya masih sederhana, belum sempat diganti dengan yang lebih mewah. Tapi ada sesuatu yang hidup di tempat itu: karyawan-karyawannya bekerja dengan semangat, saling bercanda ringan di sela kesibukan, suara tawa dan diskusi kerja bercampur menjadi satu di ruangan terbuka yang tidak terlalu luas. Yudha sendiri terlihat berubah total begitu menginjakkan kaki di sana—lebih tegas, lebih percaya diri, jauh dari sosok canggung yang biasa kulihat di rumah. Cara jalannya lebih mantap, suaranya lebih lantang saat menyapa karyawan-karyawannya satu per satu, menanyakan kabar mereka dengan nada yang terdengar tulus, bukan sekadar basa-basi atasan pada bawahan. "Ini semua kamu bangun sendiri?" tanyaku, memperhatikan papan proyek yang tertempel di dinding, berisi rencana-rencana bisnis yang ambisius untuk ukuran perusahaan sekecil ini, penuh dengan catatan tempel warna-warni dan garis-garis penghubung yang menunjukkan alur kerja yang rumit. "Bertahap," jawabnya, tersenyum kecil, matanya memandangi ruangan itu dengan semacam kebanggaan yang tidak dia sembunyikan. "Mulai dari nol lima tahun lalu. Sempat hampir bangkrut dua kali." Aku mengikutinya berkeliling, mendengarkan dia menjelaskan setiap proyek dengan antusias yang jarang kulihat dari dirinya di rumah, suaranya lebih hidup, tangannya bergerak-gerak kecil saat menjelaskan detail teknis yang sebagian besar tidak sepenuhnya kupahami, tapi aku menikmati mendengarkannya, menikmati melihat sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi di balik kecanggungan yang biasa dia tunjukkan di apartemen. Salah satu karyawannya, seorang perempuan muda bernama Rina, mendekat sambil membawa berkas, wajahnya terlihat sedikit cemas. "Pak Yudha, presentasi buat calon investor besok gimana? Saya masih ragu sama bagian strategi komunikasinya," katanya, terlihat khawatir, jarinya menunjuk-nunjuk salah satu halaman di berkas itu. Aku, tanpa benar-benar berpikir panjang, ikut melihat berkas itu dari balik bahu Yudha, insting lamaku langsung aktif tanpa kusadari. Aku sudah bertahun-tahun bergaul dengan kalangan elite, membaca karakter mereka di setiap acara, pesta, dan pertemuan bisnis yang kuhadiri sebagai pendamping klien—tahu persis apa yang membuat investor tertarik atau justru curiga, kata-kata seperti apa yang membangun kepercayaan dan kata-kata seperti apa yang justru menimbulkan keraguan. "Boleh aku lihat?" tanyaku. Yudha menoleh, agak terkejut, tapi memberikan berkas itu padaku tanpa ragu, sebuah tanda kepercayaan kecil yang tidak luput dari perhatianku. Aku membacanya cepat, mataku bergerak menyusuri setiap paragraf, lalu menunjuk beberapa bagian yang menurutku bermasalah. "Ini terlalu defensif," kataku, jariku mengetuk salah satu bagian di kertas itu. "Investor kelas ini nggak suka dengar alasan kenapa masalah terjadi. Mereka mau dengar solusi konkret dan keyakinan kamu ke depan. Ganti nada bagian ini jadi lebih percaya diri, bukan minta maaf." Rina menatapku dengan mata berbinar, seolah baru saja mendapat pencerahan yang selama ini dia cari. "Wah, bener juga," gumamnya sambil buru-buru mencatat di ponselnya, jarinya bergerak cepat mengetik. Yudha memperhatikanku dengan ekspresi yang sulit k****a—campuran antara kagum dan sesuatu yang lebih dalam lagi, matanya tidak lepas dari wajahku bahkan setelah Rina kembali ke mejanya. "Kamu belajar itu dari mana?" tanyanya, suaranya penuh rasa ingin tahu yang tulus. Aku tersenyum tipis, mencoba terdengar santai meski dadaku menghangat karena caranya menatapku barusan. "Delapan tahun kerja di dunia yang isinya orang-orang kaya dan pura-pura ramah," jawabku, sedikit menertawakan diriku sendiri. "Kamu belajar banyak soal gimana cara mereka mikir kalau kamu cukup lama duduk di meja yang sama, dengar mereka ngobrol soal bisnis sambil pura-pura cuma tersenyum manis di sampingnya." Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya—bukan lagi sekadar kekaguman diam-diam seperti biasanya, tapi semacam pengakuan bahwa aku bukan cuma pajangan mahal yang menemaninya ke acara-acara elite. Aku punya nilai yang jauh lebih besar dari itu, dan dia baru saja menyadarinya secara langsung, di depan matanya sendiri, di tengah ruangan kerjanya yang sederhana namun penuh semangat. Sisa sore itu kami habiskan berkeliling kantor, aku bertemu dengan hampir semua karyawannya, mendengarkan cerita mereka soal bagaimana Yudha selalu berusaha membayar gaji tepat waktu meski perusahaan sedang dalam kondisi sulit, bagaimana dia rela menunda gajinya sendiri demi memastikan karyawannya tetap terbayar. Cerita-cerita kecil itu, satu demi satu, membangun gambaran baru tentang sosok Yudha di kepalaku—bukan lagi sekadar klien nekat yang mengambil risiko besar demi seorang companion, tapi seorang pemimpin yang benar-benar peduli pada orang-orang di sekitarnya. Dalam perjalanan pulang, di dalam mobil yang sunyi, hanya diterangi lampu jalan yang berkelebat di luar jendela, Yudha tiba-tiba berkata, "Makasih, ya. Buat tadi." "Buat apa?" tanyaku, meski aku tahu persis maksudnya, hanya ingin mendengarnya mengucapkan itu dengan kata-katanya sendiri. "Buat percaya aku bisa," jawabnya pelan, matanya tetap fokus ke jalan, tapi ada senyum kecil yang tidak bisa dia sembunyikan, terlihat jelas dari sudut bibirnya yang sedikit terangkat. Aku menatap keluar jendela, menyembunyikan senyumku sendiri di balik pantulan lampu kota yang berlalu cepat. Untuk pertama kalinya sejak aku menjalani pekerjaan ini, aku merasa dibutuhkan bukan karena tubuhku, bukan karena wajahku, tapi karena isi kepalaku, karena pengalaman dan insting yang selama ini kubangun tanpa pernah kusadari nilainya di luar konteks pekerjaan sebagai companion. Dan perasaan itu—entah kenapa—terasa jauh lebih memabukkan daripada pujian mana pun yang pernah kudengar dari empat puluh tujuh klien sebelumnya. Malam itu, saat kami sampai di apartemen dan bersiap untuk tidur seperti biasa—aku di kamar, dia di sofa ruang tengah—aku menyadari sesuatu yang mengejutkan diriku sendiri: aku tidak lagi menghitung hari menuju berakhirnya kontrak ini seperti yang biasa kulakukan dengan klien-klien lain. Justru sebaliknya, entah sejak kapan, aku mulai berharap waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN