"Bagaimana keadaan Mama saya bibi?."
Clara menghambur bertanya pada Maya yang saat ini tengah berdiri bersama dengan Dion.
"Dokter masih di dalam sana! Mereka belum keluar! Kita tunggu saja kabar dari mereka!."
Clara bergerak memeluk Dion, kakak beradik Itu tampak menangis terisak.
Maya pun memeluk kedua keponakannya itu. Mereka bertiga menangis terisak-isak di sana.
"Lebay sekali!."
Terdengar suara seseorang dari belakang, Tamara datang lagi dengan kursi roda Alena.
"Diam kamu! Semua penderitaan kami bersumber darimu!."
Dion menunjuk Alena dengan garang. Namun Clara segera mencegah kakaknya itu.
"Tidak usah diladeni! Kakak baru saja keluar, tidak perlu mencari gara-gara dengan manusia seperti mereka!."
Dion pun menormalkan nafasnya, dia sadar tak boleh bersikap kasar kepada kedua wanita itu. Karena dia bisa kembali jebloskan ke dalam penjara oleh Bryan.
"Dasar orang-orang miskin! Kalian pantas menderita!."
Alena kembali mengucapkan kata-kata yang begitu menghina.
Clara berusaha untuk tak mendengarkan, jangan sampai terpancing emosi dan akhirnya lupa diri. Saat ini dia fokus dengan keadaan mamanya.
Ceklek!!
"Aditya Bagaimana keadaan Mama?."
Clara menghambur mendekati Aditya yang baru saja keluar dengan tubuh lemah. Dia menatap nanar wajah Clara.
"Aditya katakan! Bagaimana dengan mamaku?."
Clara kembali bertanya dengan suara kencang.
Sementara Maya dan Dion menanti dengan harap-harap cemas.
"Aku berharap dia mati! Wanita pesakitan yang sudah tua seperti dia sudah pantas di alam baka! Sehingga tidak perlu merepotkan siapapun, termasuk calon suamiku."
Alena membawa kursi rodanya pergi dari sana setelah mengeluarkan perkataan yang benar-benar menusuk jantung.
"Maafkan aku Clara! Tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin! Mamamu telah tiada."
Clara tertegun, sementara Maya dan Dion langsung membelalakkan matanya.
"Kamu pasti bohong dokter! Tidak mungkin Kakak saya telah tiada! Itu tidak mungkin!!."
Maya berteriak dengan kencang karena merasa tak percaya kalau kakaknya telah tiada.
"Mama!!."
Akhirnya Clara menghambur masuk ke dalam ruangan, langsung menubruk tubuh mamanya yang terdiam tak bergerak sedikit pun.
"Mah!! Ini Dion!! Lihat Dion sekali saja, Dion sudah bebas dari penjara!."
Dion ikut berteriak, memeluk tubuh mamanya. Sementara Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang sangat disayanginya itu telah tiada.
"Clara kamu harus bersabar! Mungkin ini yang terbaik untuk mamamu! Dia tidak perlu menderita dan kesakitan lagi!."
Aditya berusaha menenangkan Clara yang tampak syok berat. Wanita itu bahkan meraung dan histeris memanggil sang mama.
"Clara belum sempat membahagiakan dia. Bahkan disisa usianya, Mama harus menderita bersamaku. Ini semua salahku!!."
Clara kembali histeris mengingat penderitaan mamanya. Apalagi selama tiga tahun terakhir, wanita paruh baya itu menderita penyakit hingga bolak-balik ke rumah sakit.
"Aku tahu, tapi kamu harus mengikhlaskan semuanya."
Aditya kembali berbicara. Clara pun meletakkan kepalanya di d**a pria itu. Sambil terus menatap wajah mamanya yang perlahan ditutup dengan kain. Maya dan Dion pun kembali histeris.
Sementara saat itu, Bryan sedang berada di kantornya. Namun ponselnya berbunyi dan ternyata yang memanggil adalah Alena.
"Halo Brian, kamu ada waktu tidak? Tolong temani aku ke pantai! Aku ingin sekali berjalan-jalan ke sana!."
Bryan langsung tersenyum mendengar permintaan Alena.
"Tentu saja! Aku akan menemanimu! Aku akan segera meminta Meta untuk memesan villa."
Pria itu sungguh sangat senang, kebahagiaan Alena adalah prioritasnya. Sementara Meta tampak berjalan masuk ke dalam ruangan dengan wajah sedikit cemas.
"Pak!! Ada kabar penting...!."
"Nanti saja kabar itu, sekarang kamu booking villa di pinggir pantai. Alena ingin sekali berlibur ke sana."
Meta seperti hendak menyampaikan sesuatu, karena dia baru saja mendapat kabar tentang kematian Mama Clara.
"Tapi Pak...!!"
"Tidak ada tapi-tapi Meta! Sekarang juga kamu pesan villa. Hari ini aku akan menemani Alena untuk liburan di sana. Kamu mengerti? Urusan lain belakangan saja!."
Meta seperti orang bingung di hadapan bosnya. Namun akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya.
"Ah sudahlah! Nanti juga dia akan tahu sendiri kabar mengenai mertuanya! Lagi pula, pak Bryan mana perduli dengan kematian wanita tua itu."
Meta bergumam setelah keluar dari ruangan Bryan.
**.
"Kamu harus bersabar! Semua telah terjadi. Ikhlaskan kepergian mamamu."
Maya menghibur Clara, mereka saat ini sedang berada di tempat pemakaman.
Dokter Aditya tampak setia mendampingi Clara. Dialah yang mengurus segalanya.
"Iya tante! Clara sadar, kalau inilah jalan terbaik untuk mama! Dia tidak perlu menderita lagi!."
Jawab Clara dengan bibir bergetar. Dia menatap kuburan basah yang ada di hadapannya.
Sementara Dion, berdiri mematung menatap kuburan mamanya. Aditya berdiri di sampingnya.
"Kamu adalah seorang pria! Harus berdiri tegak seperti karang! Jangan lagi melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri! Mulai sekarang kamu harus bangkit! Kamu adalah penyemangat Clara."
Aditya menepuk pundak Dion.
"Aku tahu! Terima kasih dokter!."
Sahut Dion menatap wajah dokter Aditya yang selalu membantunya.
Batang hidung Bryan sama kali tak terlihat di pemakaman tersebut. Karena Alena memang sengaja menghindarkan pria itu agar tak datang ke pemakaman mertuanya, dengan mengajaknya liburan.
Akhirnya mereka pun beranjak pergi dari sana karena sudah gerimis.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Clara?."
Aditya bertanya saat mereka sudah tiba di samping mobil.
"Aku ingin pergi sejauh-jauhnya! Memulai kehidupan yang baru!."
Jawab Clara mantap, tak ada keraguan di wajahnya. Aditya pun segera manggut-manggut.
"Apa kau butuh bantuanku?."
Sekali lagi pria itu menawarkan bantuan. Clara pun menatap ke arahnya.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu dokter!."
Jawab Clara menerawang, dia memang memutuskan untuk pergi. Tapi sebelum pergi dia akan menyelesaikan sesuatu yang penting, yaitu mengakhiri hubungan pernikahannya dengan pria toxic seperti Bryan
"Lakukan yang terbaik! Tante selalu mendukungmu!."
**.
"Bryan Abraham terciduk sedang melakukan liburan romantis bersama dengan selingkuhannya. mereka berdua terlihat sangat bahagia. bahkan sempat tertangkap kamera berciuman di pinggir pantai."
Clara menatap nanar berita yang ada di koran hari ini, menampilkan foto Bryan bersama dengan Alena. Ternyata kedua orang itu sedang menikmati liburan di pantai yang indah. Pantas saja tidak hadir di pemakaman mertuanya sendiri.
"Kalian berdua memang serasi, dan kalian adalah pasangan. Aku saja yang bodoh karena menjadi orang ketiga. Berharap mendapatkan kebahagiaan walaupun itu semu."
Gumam Clara tanpa ekspresi di wajahnya, dia bahkan tak cemburu lagi melihat Bryan begitu mesra kepada Alena. Wanita itu segera memasang kacamata hitamnya. Lalu masuk ke dalam mobil.
"Nyonya! Akhirnya anda pulang! Ke mana saja?."
Para pelayan di rumah Bryan langsung menyambut kedatangan Clara. Wanita itu pun melepas kacamata dan tersenyum manis.
"Aku memiliki banyak urusan di luar!."
Sahut Clara dengan gestur yang begitu anggun.
"Tuan belum pulang!."
Pelayan itu terlihat menatap dalam kepada Clara. Namun wanita itu malah tersenyum manis.
"Aku tahu! Dia sedang berlibur! Nggak apa-apa! Kalian kerjakan saja tugas masing-masing, karena tiga hari lagi aku akan memberikan kalian libur. Kalian bebas liburan ke mana saja. Pulang kampung juga boleh."
Para pelayan itu tampak sumeringah mendengar ucapan Clara yang akan memberikan mereka libur.
Setelahnya, Clara berjalan menuju arah kamarnya. Dia memindai kamar itu dengan pandangannya.
Kenangan bersama dengan Bryan di sana kembali berputar dalam ingatannya.
"Tiga hari lagi! Semua akan berubah."
Clara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Ceklek!!
"Kau sudah pulang?."
Rupanya yang datang adalah Bryan. Pria itu terburu mendekati istrinya.
"Iya! Aku memutuskan untuk pulang!."
Clara memasang senyum manis lalu menjangkau jas Bryan seperti dulu ketika menyambut kedatangan pria itu.
"Aku senang kau pulang!."
Bryan ikut tersenyum, sementara Clara menjalankan tugasnya seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Apa kau ingin mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu!."
Wanita itu kembali berjalan menuju arah kamar mandi dengan diikuti pandangan oleh Bryan.
"Apakah Dia memutuskan untuk kembali menjadi istriku yang lembut dan penurut seperti dulu? Mungkin dia sudah sadar, kalau tanpa diriku, dia bukan siapa-siapa."