"Kenapa cincin ini harus kembali?."
Clara bergumam ketika menatap cincin yang ada di tangannya. Dia menghela nafas berat. Bryan berhasil memaksanya untuk memakai cincin itu lagi.
"Iisshh!! Cincin ini tidak berguna!."
Clara segera melepas cincin itu kemudian menyimpannya dalam tas. Setelahnya dia bergerak pergi.
Sementara Bryan, tentu saja menemui Alena, dia bahkan menyuapi wanita itu. Alena terlihat begitu manja padanya.
"Bryan! Aku sangat mencintaimu. Aku yakin kamu juga seperti itu."
Bryan tidak menjawab, dia hanya mengukir senyum tipis di bibirnya. Sementara Alena menatapnya penuh cinta.
"Kapan kau akan menceraikan wanita itu Bryan."
Nyonya Tamara ikut nimbrung percakapan keduanya. Dan lagi-lagi Bryan tidak menjawab. Dia malah sibuk menyuapi Alena.
"Wanita itu hanya menjadi beban dalam hidupmu. Kenapa kau tidak melepasnya saja!."
Nyonya Tamara menyambung ucapannya.
Bryan segera meletakkan mangkuk di atas nakas.
"Saya masih memerlukan dia! Semua orang tahu kalau dia adalah nyonya Bryan, kolega bisnisku juga. Jika saya mengganti istri. Apa kata mereka nanti? Saya membutuhkan Clara dengan statusnya. Untuk menunjang operasional perusahaan."
Clara yang sedang melewati tempat itu segera menghentikan langkahnya. Kedua tangannya memegang tas dengan kuat.
Nyonya Tamara melihat bayangan Clara di depan pintu, wanita paruh baya itupun menyeringai.
"Ah kau benar Bryan! Kamu masih membutuhkan statusnya sebagai istrimu. Tahun lalu kamu mendapatkan gelar pengusaha teladan, tahun ini kamu juga pasti akan mendapatkannya kembali. Kamu benar-benar pintar."
Nyonya Tamara melirik sinis ke arah bayangan Clara yang berdiri di depan pintu.
"Nah itu anda tahu! "
Jawab Bryan membenarkan, pria itu kembali menyuapi Alena dengan kasih sayang.
Clara hanya sempat menarik nafas panjang, kemudian bergerak meninggalkan tempat itu, dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Kenapa? Sakit hati? Setidaknya kamu sudah mengetahui kenyataan, dan tidak lagi besar kepala Kalau Bryan benar-benar menginginkanmu. Kamu itu hanyalah seorang pengganti. Setelah Alena sembuh, kamu akan disingkirkan. Dibuang seperti sampah."
Clara menghentikan langkahnya, rupanya Nyonya Tamara mengikutinya.
"Anda salah nyonya! Saya sama sekali tidak terpengaruh! Saya sudah mengajukan diri untuk bercerai dari Bryan, tapi dia selalu menolak. Lihatlah! Bahkan saya sudah menjual cincin pernikahan ini. Tapi apa yang terjadi? Dia kembali membelinya, lalu memakaikannya kepada saya."
Nyonya Tamara terlihat geram, apalagi saat memandang jemari Clara yang memakai cincin pernikahannya dengan Bryan.
"Ciihh!! Itu hanya untuk memperlihatkan kepada orang-orang, kalau dia adalah tipe suami yang setia dan romantis. Jika dipandang dari luar. Semua itu untuk menunjang karirnya. Kamu hanyalah alat, tapi bukan untuk dicintai."
Clara segera menarik nafaskan panjangnya kembali. Mungkin jika berdebat dengan wanita paruh baya itu tdak akan ada habisnya.
Clara bergerak pergi dengan langkah lebar. Dia tidak ingin lagi mendengar omongan yang keluar dari mulut Nyonya Tamara, atau dia akan semakin meradang karena sakit hati.
"Bagaimana keadaan Mama, Aditya?."
Rupanya di dalam ruangan ada Aditya yang sedang memeriksa mamanya.
"Secara fisik dia jauh lebih baik. Hanya saja, kita tidak bisa menunggu lagi untuk segera melakukan operasi pada jantungnya."
Clara kembali resah mendengar penjelasan Aditya.
"Lakukan saja yang terbaik untuk mama! Saya menyerahkan semua urusan ini padamu. Tolonglah! Kalau masalah biaya, saya akan segera melunasinya."
Jawab Clara memegang tangan Aditya dengan penuh pengharapan. Pintu yang tidak tertutup itu memungkinkan Bryan yang sedang berada di luar melihat kebersamaan mereka. Pria itu pun segera mendengus.
"Oh jadi karena ini. Kamu meminta cerai dariku? Rupanya kamu sudah mendapatkan seorang pengganti. Benar-benar murahan."
Bryan langsung masuk ke dalam ruangan. suaranya cukup kencang, dia menarik tangan Clara segera untuk menjauh dari Aditya.
"Saya dokter Aditya. Yang menangani Mama Clara."
Dokter Aditya segera memperkenalkan dirinya. Dia bahkan mengulurkan tangan pada Bryan. Namun tidak disambut oleh pria itu.
"Kalau begitu gunakan saja profesimu untuk menolong pasien mu, bukan untuk merayu istri orang."
Ucap Bryan kembali dengan suara yang sangat kencang. Hal itu membuat mama Clara yang sedang terbaring, segera membuka mata.
"Mama!."
Clara bergerak mendekati mamanya.
"Apa yang terjadi Clara?."
Wanita paruh baya itu segera bertanya pada putrinya saat mendengar suara ribut-ribut.
"Tidak ada! Mama tenanglah!."
Clara mencoba menenangkan mamanya.
Dokter Aditya segera meraih tangan Bryan untuk keluar dari ruangan.
"Jangan membuat masalah di dalam ruangan! Mertua anda sedang sakit! Seharusnya anda memiliki sedikit empati!."
Seru Aditya, sementara Bryan menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami! Kamu hanyalah orang asing!."
Dokter Aditya segera mengukir senyum tipisnya.
"Yang Anda harus tahu! Saya dan Clara sudah berteman sejak dulu, sejak kami duduk di bangku sekolah. Jadi saya bukan orang yang terlalu asing baginya."
Jawab pria berstatus dokter tersebut.
"Lakukan saja tugasmu sebagai seorang dokter. Walaupun kamu adalah teman Clara, tapi dia adalah istriku."
Aditya mendekatkan diri dan berdiri tepat di hadapan Bryan. Dia menantang pandangan pria itu yang terlihat mengintimidasi.
"Mungkin sebentar lagi menjadi mantan istri!."
Dokter Aditya mencondongkan tubuhnya. Dia menatap sinis wajah Bryan yang jelas marah.
"Jaga bicara kamu! Saya tidak akan pernah menceraikan Clara sampai kapanpun! Apalagi melepaskannya hanya untuk seorang pria sepertimu!."
Aditya segera menepuk pundak Bryan.
"Jangan terlalu percaya diri tuan! Karena di atas langit masih ada langit."
Pria berpakaian serba putih itu melenggang pergi meninggalkan Bryan yang tampak mengepalkan tangannya. Jelas sekali terlihat Kalau dokter Aditya menantang Bryan. Dan mungkin akan merebut Clara.
"Bermimpilah untuk mendapatkan istriku. Karena aku tidak akan pernah membiarkannya."
Gumam Bryan penuh ketegasan.
**.
"Kasihanku sekali kamu Clara! Kamu bahkan belum bekerja tapi sudah dipecat! Dan semua itu ulah suamimu sendiri. Bryan benar-benar ingin melihatmu menderita."
Heni berucap dengan kesal saat Clara bercerita padanya.
"Sudahlah tidak perlu memikirkan dia! Fokus Aku sekarang hanyalah kesembuhan mama dan cara menyelamatkan Tante Maya juga kakak Dion dari penjara."
Jawab Clara menarik nafas beratnya.
"Uang Sudah ku transfer ke rekeningmu. Kamu bisa menggunakannya untuk operasi mamamu. Dan mungkin lebihnya, kamu bisa menyewa pengacara untuk mengeluarkan Tante Maya dan juga kak Dion."
Clara mengangguk dengan cepat.
"Malam ini aku kembali menginap di rumah sakit! Karena besok Mama akan operasi!."
Clara segera pergi meninggalkan sahabatnya itu. Dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi pembayaran.
"Clara! Semoga suatu hari kamu akan bahagia!."
Gumam Heni mengumandangkan harapan Untuk sahabatnya.
"Ini adalah surat-surat kepemilikan rumah orang tua Nyonya Clara!."
Meta menyerahkan beberapa berkas ke tangan Bryan.
"Dia bahkan rela menggadaikan rumah kedua orang tuanya, ketimbang meminta uang padaku. Sungguh arogan!!."
Bryan menggelengkan kepalanya, Padahal dia menunggu Clara untuk tunduk dan patuh padanya. Datang meminta uang untuk biaya perawatan mamanya. Dengan begitu, Bryan akan kembali leluasa mengendalikannya seperti dulu.
"Sepertinya nyonya Clara sudah berubah, dia sudah tidak seperti dulu. Buktinya sekarang dia membangkang dari anda. Dia bahkan lebih memilih bercerai, padahal dulu dia begitu penurut. Dia sedikitpun tidak ingin berpisah dari anda. Walaupun dia mengetahui kenyataan Kalau Anda tak mencintainya."
Meta mengemukakan pendapatnya. Bryan terlihat menatap tajam ke arah depan.
"Tapi saya akan meruntuhkan harga dirinya itu! Dia akan kembali mengemis padaku."
Ujar Bryan dengan yakin.
***.