Tidak tahu berapa jam lamanya Vielga tak sadarkan diri. Rasa pusing yang menjalar di kepalanya tak separah tadi, tetapi rasa mual masih terasa. Vielga mengerjapkan mata berkali-kali merasakan sebuah belaian halus di pipinya. Kala mata itu perlahan terbuka, Vielga kaget dengan kehadiran Areksa di sisinya. Bagaimana bisa dia ada di sini? Sementara Vielga datang diam-diam tanpa sepengetahuan orang. “Tu-tuan …?” Vielga memanggil, nada bicaranya masih lemah. Kerongkongannya tercekat karena terasa kering. Setiap diisi, perutnya pasti mual. Melihat Vielga sadar, Areksa lekas tersenyum lega. Dia cemas karena Vielga tak kunjung membuka mata. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Areksa cepat, tersirat raut khawatir di wajah tampannya. Vielga diam, ia malah sibuk memperhatikan Areksa yang tampak khawat

