Rasa kesal Areksa memudar perlahan saat melihat Vielga tengah berdiri di hadapannya. Areksa berdehem, gak bisa mengalihkan pandangan melihat wajah paripurna Vielga. Sadar jika Areksa sedang memperhatikan, Vielga lekas menunduk malu dengan semburat rona merah di wajahnya. “Areksa, dia siapa?” Tatap-tatapan mereka terputus ketika Gistara menanyakan siapa wanita itu, yang ia maksud adalah Vielga. “Saya Vielga, Nyonya, babysitter baru di sini,” sapa Vielga dengan ramah meskipun baru pertama kali bertemu ia tahu kalau wanita berpenampilan mewah dan elegan ini adalah ibu dari dua majikan kecilnya. Mata Gistara sedikit membola. “Apa? Babysitter baru? Sejak kapan kamu membiarkan pelayan muda kerja, Areksa? Bukankah dari dulu kamu tidak menerima pelayan muda?” protesnya sewot. Areksa mengedikk

